Negeri Tempe Tanpa Kedelai

Negeri ini adalah negeri tempe. Bukan kita mau mengingkari pidato Bung Karno pada tahun 1963, yang menolak keras negeri ini disebut sebagai negeri tempe, namun kita hanya ingin menegaskan bahwa hampir semua penghuni negeri ini adalah para pecinta makanan bernama tempe. Dari Sabang sampai Merauke, dari balita hingga kakek nenek renta, dari rakyat jelata hingga presiden, semua suka makan tempe. Ratusan varian resep makanan berbasis tempe yang sangat lezat dan bergizi juga tersebar di seluruh pelosok negeri ini. Dan yang luar biasa, jutaan orang menggantungkan hidup dan penghasilannya dari tempe, mulai dari petani kedelai, perajin dan pedagang tempe, hingga warung tegal yang menjual tempe goreng atau tempe ‘penyet’.

Namun ironisnya, negeri ini justru sama sekali tidak mampu mandiri untuk memenuhi kebutuhan kedelai yang merupakan bahan baku utama pembuatan tempe. Negeri ini tercatat sebagai salah satu pengimpor kedelai terbesar di dunia.        Produksi kedelai dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 30% kebutuhan nasional, dan setidaknya 70% sisanya harus diimpor. Tahun 2013 produksi kedelai dalam negeri hanya mencapai 779.992 ton atau 33,9% dari total kebutuhan yang mencapai 2,2 juta ton sehingga kekurangannya sekitar 1,4 juta ton harus diimpor. Sementara tahun 2014 produksi kedelai mencapai 921.336 ton. Untuk tahun 2016 diprediksi produksi kedelai 885,58 ribu ton biji kering, atau turun 77,61 ribu ton dibandingkan produksi 2015.  Artinya, volume impor akan semakin membengkak bahkan bisa melebihi 2 juta ton. Tragisnya, luas lahan tanam kedelai juga cenderung semakin menyusut, dari luas panen 2 juta hektar pada tahun 1992  sekarang tinggal 587.000 hektar.

Mengapa negeri pecinta tempe ini tidak mampu memenuhi kebutuhan kedelainya? Bukankah pasar demikian terbuka dan permintaan terus meningkat? Ternyata jawabnya sangat sederhana. Ironi ini terjadi karena selama ini tidak ada kesamaan visi di antara pengelola negara yang terkait dengan masalah kedelai. Satu pihak menghendaki swasembada kedelai bisa diraih secepatnya, namun pihak lain justru membuat kebijakan impor sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan kedelai. Artinya, para penanggungjawab masalah kedelai justru bertolakbelakang dalam mengambil langkah tentang kedelai.  Yang satu ingin mencapai swasembada kedelai, yang lain justru ‘menggembosi’ dengan memasukkan kedelai impor. Bisa dipastikan mimpi untuk mencapai swasembada kedelai tidak akan pernah tercapai selama kedua kepentingan itu tidak disatukan terlebih dahulu.

Untungnya, saat ini tampaknya sudah ada komitmen lebih kuat untuk segera mewujudkan swasembada kedelai. Meskipun banyak menghadapi kendala dan tantangan namun sudah ada kesungguhan untuk meningkatkan produksi kedelai nasional secepatnya.  Potensi negeri ini untuk swasembada kedelai sungguh sangat terbuka. Bukan hanya lahan yang tersedia luas membentang di seluruh pelosok negeri, teknologi budidaya juga telah tersedia lengkap. Bahkan, benih kedelai berbagai varietas juga telah siap diproduksi, termasuk diantaranya benih kedelau berbiji besar persis seperti kedelai impor. Dalam kaitan ini, Petrokimia Gresik sebagai produsen pupuk terlengkap di Indonesia sejak awal telah berkomitmen untuk turut mewujudkan swasembada kedelai dengan menyediakan aneka produk pupuk dan sarana produksi pertanian lainnya.  Kita tentu berharap swasembada kedelai dapat terwujud, petani kedelai sejahtera, dan para pecinta tempe selalu bisa menikmati tempe yang lezat  dan bergizi.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *