Pertanian Terapung di Bangladesh

Kalau di Jawa Barat para petani di daerah rawa mengembangkan cara menanam padi metode mengapung, hal serupa juga dilakukan para petani di Bangladesh. Dengan cara tradisional dan sederhana mereka mengembangkan pertanian terapung untuk menanam berbagai jenis tanaman di daerah rawa yang rawan terkena banjir. Metode bertani unik ini telah mendapat pengakuan dari FAO sebagai salah satu ‘Sistem Pertanian Penting Warisan Dunia’.

Sistem pertanian ini mirip dengan metode bertani hidroponik dengan menggunakan teknologi tradisional. Yang menarik, media tanam pada pertanian terapung ini dibangun dari rumput alami dan beberapa jenis tanaman lainnya. Tanaman pokok yang ditanam ditancapkan pada media yang mengambang hasil jalinan tanaman eceng gondok, gulma-gulma air, dan tanaman air lainnya. Selain itu juga menggunakan bambu sebagai pengikat tanaman yang menjadi media tanam. Bambu disusun dengan panjang 15-50 meter, lebar 1,5-2 meter dengan tebal 0,6-0,9 meter. Bambu juga berfungsi memberi kekuatan pada lahan apung yang menjadi media tanam. Tanaman air yang hampir membusuk kemudian ditambahkan dan dibiarkan beberapa hari di atasnya. Setelah itu baru disebar benih di atasnya.

Pertanian terapung juga efisien karena tidak memerlukan asupan pupuk kimia maupun pupuk kandang. Keuntungan lain, petani tidak perlu mengeluarkan biaya atau waktu untuk menyiram tanaman. Lahan apung ini produktivitasnya cukup tinggi, bahkan bisa mencapai 10 kali lipat dibandingkan pertanian konvensional.  Praktek pertanian apung telah membantu menambah penghasilan masyarakat lokal dan memberikan kontribusi untuk pengentasan kemiskinan. Hal ini juga memberikan keamanan pangan yang lebih besar dan meningkatkan  kesejahteraan masyarakat miskin yang tidak mempunyai lahan.

Teknik budidaya tradisional ini juga dinilai ramah lingkungan karena memanfaatkan sumber daya alam lahan basah yang ada untuk menanam sayuran dan tanaman lainnya hampir sepanjang tahun.  Selain itu, pertanian apung menjadi bentuk adaptasi petani terhadap banjir yang datang setiap tahun. Bila mereka tetap memakai lahan konvensional maka banjir akan menghancurkan tanaman mereka. Dengan lahan apung maka bila ada banjir, tanaman akan tetap terapung tidak diterjang banjir. Metode ini sekarang sedang dikembangkan lebih luas oleh pemerintah Bangladesh sebagai metode solutif mengatasi banjir. (Sumarsono/dari beberapa sumber)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *