Jumlah Pupuk PSO Masih di Bawah Kebutuhan Riil

Dengan adanya disparitas antara kebutuhan pupuk PSO (public service obligation) dan ketersediaan, pemerintah berharap petani dapat menggunakan pupuk bersubsidi  secara efektif dan efisien. Dengan demikian hasil panen yang bisa optimal, dan tujuan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian bisa tercapai. Hal ini disampaikan oleh Azam Azman Natawijana pada acara temu kios pupuk subsidi se-Kabupaten Banyuwangi pada 21 Januari 2017. “Ini untuk mendukung pencapaian program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh pemerintah,” jelasnya. Menurut Azam hal tersebut harus didukung oleh perusahaan pupuk, distributor pupuk bersubsidi, dan dinas pertanian. “Mereka harus bekerja bersama-sama untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang budidaya dan pemupukan, sehingga tujuan pemberian subsidi untuk peningkatan produktivitas dapat lebih optimal,” harapnya.

Acara yang melibatkan 7 distributor, 750 kios dan 750 wakil kelompok tani ini, juga dihadiri oleh Direktur Pemasaran PT Petrokimia Gresik Meinu Sadariyo dan Kadis Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi Arief Setiawan. Dalam sambutannya Meinu Sadariyo menyampaikan Petrokimia Gresik telah menjadi mitra petani selama bertahun-tahun. Kemitraan tersebut melalui penyediaan produk-produk berkualitas yang dapat mendorong peningkatan produktivitas. “Pada akhir tahun 2016, Petrokimia Gresik meluncurkan produk Phonska Plus, yang menjadi jawaban atas kondisi kesuburan tanah dan kebutuhan petani. Tanah di Indonesia saat ini defisit unsur hara Zink (Zn), sehingga Phonska Plus yang diperkaya Zn dapat menjadi solusi pemenuhan kebutuhan Zn untuk tanaman,” katanya. Sejak pertama kali diluncurkan, Phonska Plus disambut baik oleh petani di Indonesia, termasuk di Kabupaten Banyuwangi.

Sementara itu Arief Setiawan mengemukakan, dalam 5 tahun terakhir pertanian di Kabupaten Banyuwangi mengalami perkembangan yang signifikan, terutama di subsektor hortikultura. Saat ini Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu produsen buah naga terbesar di Indonesia. Kabupaten yang terletak di ujung Timur Pulau Jawa ini sedang mengembangkan buah jeruk siam, yang nantinya bersama-sama Kabupaten Jember akan menjadi sentra jeruk siam di Indonesia. “Kebutuhan pupuk di Kabupaten Banyuwangi sangat tinggi, umumnya penyaluran pupuk PSO di Kabupaten Banyuwangi selalu mencapai 100%. Sehingga petani banyak mencari alternatif pupuk lain untuk memenuhi kebutuhan pupuknya,” ujarnya. Petani Kabupaten Banyuwangi khususnya petani hortikultura sudah terbiasa menggunakan pupuk-pupuk non PSO, sehingga menyambut baik Phonska Plus sebagai salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pupuk.

Pada kesempatan itu juga dilaksanakan penandatanganan SPJB (Surat Perjanjian Jual beli) antara distributor dan kios. Penandatanganan SPJB merupakan komitmen antara distributor dan kios untuk mendukung penyaluran pupuk PSO. Sekaligus komitmen untuk mendorong penjualan produk Petrokimia Gresik yang lain. Penandatanganan secara simbolis dilakukan oleh 7 perwakilan kios resmi dan 7 distributor, disaksikan oleh Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Kadisperta Banyuwangi, Direktur Pemasaran Petrokimia Gresik, GM Penjualan Retail, serta GM Pemasaran dan Logistik. Selain itu juga dilakukan sosialisasi tentang  teknis pemupukan menggunakan Phonska Plus. Dalam sosialisasi tersebut dikemukakan tentang keberhasilan demplot pada 772 unit di 8 provinsi di Indonesia. (Bayu Kristianto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *