, , ,

Dari Kernet Angkot Hingga Menjadi Pemilik Pabrik Petroganik

Masa kecil Hery Putranto tidak bisa dibilang mudah, penuh dengan kepahitan dan kegetiran. Itu yang membuatnya menjadi manusia tangguh yang tidak mudah mengeluh dan menyerah pada kondisi apapun. “Orang tua saya bukan orang kaya, mereka tidak pernah menjakan dengan berbagai kemewahan. Dari mulai SD, hampir tidak pernah diberi uang saku serupiahpun. Tapi saya tidak protes kepada bapak dan ibu, sebab saya tahu kondisi mereka seperti apa,” ujar Hery di beranda rumahnya yang asri. Masa Hery kecilpun yang saat itu sudah kelas 5 SD, sigap mencari peluang agar bisa mendapatkan uang saku. Ditawarkannya tenaganya kepada siapa saja yang membutuhkan, dari menjadi kernet angkot, kuli batu hingga penjaja makanan keliling pernah dilakoninya.

Pada tahun 1978 ketika masih kelas I STM, Hery Putranto menjadi loper koran hingga bisa  membuka kios koran dan majalah. Uang dari hasil usaha itu lumayan besar untuk ukuran anak STM saat itu. Sehingga di sekolah dikenal sebagai anak orang kaya, karena  tiap hari membawa uang saku cukup banyak. “Ketika teman-temannya pertama kali datang ke rumah saya, mereka terkejut, ternyata saya anak orang biasa saja. Dan mereka salut dengan usaha saya untuk mandiri,” ujarnya terkekeh.

Setelah lulus STM tahun 1981, selama 10 tahun waktunya dihabiskan untuk bekerja di beberapa perusahaan kontraktor sipil di Surabaya. Setelah dirasa mendapatkan pengalaman yang cukup, dia membuka usaha sendiri. Tahun 1991 dia mulai mempunyai perusahaan sendiri dengan nama CV Hutomo Putra, perusahaan kontraktor sipil yang bisa menopang kehidupan keluarganya. “Saya terhitung terlambat menikah, sebab waktu itu saya bertekad akan menyekolahkan dulu adik-adik saya hingga selesai. Begitu adik bungsu saya menyelesaikan sekolahnya, saya langsung menikah,” ujar anak pertama dari 7 bersaudara itu.

Ketika usaha kontraktor sipil yang digelutinya selama belasan tahun mulai surut, dia beralih ke usaha sebagai pemasok bahan baku pupuk organik, hingga menjadi Mitra Produksi Petroganik. “Saya tetap menggunakan nama Hutomo Putra,  menurut saya nama itu membawa keberuntungan buat saya, bisa jadi karena mirip dengan nama anak Presiden Indonesia yang ke 2,” katanya sambil tertawa lebar. Hery mengaku bahwa peran Petrokimia Gresik cukup besar dalam mencapai keberhasilan usahanya hingga seperti saat ini. Dia mengakui bahwa jika saat usahanya hampir gulung tikar pada tahun 2005, dan tidak segera menjadi  Mitra Produksi Petroganik, mungkin ceritanya akan lain. “50 % keberhasilan saya didukung oleh Petrokimia. Oleh karena itu saya selalu menjaga hubungan baik, dengan cara menjaga mutu produks Petroganik,” akunya.

Hery Putranto selalu menekankan kepada karyawannya agar bersama-sama saling menjaga perusahaan, sebab dia dan karyawannya hidup dari sini. Dia mengatakan pada mereka, selagi masih dipercaya oleh Petrokimia untuk menjadi mitra produksi, harus menjaga hubungan baik itu. Utamanya menjaga mutu Petroganik agar bisa sesuai dengan yang dipersyaratkan. “Saya seringkali mengatakan pada teman-teman (Hery Putranto menyebut teman-teman pada karyawannya – red), bahwa perusahaan ini milik kita bersama, saya tanpa mereka tidak bisa jalan,  sebaliknya mereka tanpa saya juga tidak bisa bekerja. Hubungan saling membutuhkan inilah yang berusaha saya bina terus menerus,” katanya.

Hal tersebut membuat karyawan-karyawannya mempunyai loyalitas yang baik dan merasa ikut memiliki perusahaan. Seperti yang dikatakan oleh Agus Miadi (35) dan Rusmanto (39), 2 pekerja di bagian produksi, yang sama-sama tinggal di Desa Balong Gebang, tidak jauh dari lokasi pabrik. Mereka yang rata-rata sudah bekerja 9 tahun mengatakan betah bekerja di CV Hutomo Putra. “Dibanding sebelumnya yang hanya menjadi buruh tani, penghasilan saya saat ini lebih baik, dan saya sudah bisa beli sepeda motor, meski dengan cara kredit. Dan yang lebih penting lagi, kami merasa di-wongke” kata Miadi, yang diamini oleh Rusmanto.

Menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar terus dilakukan oleh Hery Putranto, dia mengutamakan untuk mengambil tenaga kerja dari warga sekitar perusahaannya di Desa Balong, Kecamatan Gondang, Nganjuk. “Secara periodik, minimal 2 tahun sekali, saya juga memperbaiki jalan aspal sepanjang 400 meter yang juga menjadi jalan masuk ke pabrik. Jika ditotal, tidak kurang dari Rp. 170 hingga Rp. 200 juta anggaran untuk itu. Selain itu juga membuat lampu penerangan jalan dan pembagian sembako untuk 150 warga yang berada di sekitar pabrik. Dengan berbagai kebijaksanaan yang ditempuhnya untuk membina hubungan baik dengan karyawan dan masyarakat sekitar pabrik, hampir tidak ada masalah sosial yang timbul dan bisa mengganggu usahanya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *