, , , ,

Tidak Segan Belajar kepada Bawahan

(Foto: Dadang Subianto)

Ketut Rusnaya, Direktur Produksi Petrokimia Gresik

Persaingan di industri pupuk dari tahun ke tahun akan semakin ketat, baik di dalam maupun di luar negeri. Agar tetap bisa bersaing, salah satu strategi Petrokimia Gresik adalah dengan selalu menjaga kualitas pupuk yang diproduksinya. Tentu saja dengan tetap memperhitungkan Harga Pokok Produksi (HPP). Untuk pupuk NPK, pupuk dengan kapasitas produksi terbesar di Petrokimia Gresik, kompetitornya cukup banyak. Menurut Direktur Produksi Petrokimia Gresik Ketut Rusnaya, agar HPP bisa kompetitif maka proses produksi harus seefisien mungkin. Mulai dari bahan baku berkualitas dengan harga yang kompetitif, consumption rate hingga biaya distribusi.

“Tidak kalah pentingnya adalah menekan angka losses. Baik losses bahan baku, losses saat proses di pabrik, maupun losses ketika handling produk. Karena hal tersebut pengaruhnya cukup signifikan terhadap efisiensi,” jelas Ketut. Lelaki kelahiran Tabanan-Bali, 13 Juni 1967 ini mengungkapkan bahwa target losses sesuai RKAP 2017 sebesar 1,5%. Dan Petrokimia Gresik mampu menekan hingga mencapai 0,85%.

Kualitas produk harus menjadi prioritas utama. Analisa kadar N, P, K, dan H2O dimonitor setiap 4 jam sekali. Sehingga ketika ada penyimpangan bisa dengan cepat dibenahi. Demikian juga temperatur dan mole ratio N/P di granul dimonitor setiap 2 jam sekali.
Masalah yang sering terjadi pada produk granul adalah caking atau penggumpalan. Lebih-lebih bila produk granul diekspor dalam bentuk curah dengan proses pengangkutan yang cukup lama.

Untuk mengatasi hal tersebut digunakan coating oil yang dikombinasikan dengan coating powder, dengan ratio yang tepat untuk menghasilkan produk ideal sesuai ketentuan SNI. “Hal ini dilakukan untuk meminimalisir jumlah keluhan pelanggan, bahkan jika bisa, mencapai zero complain,” papar anak dari pasangan I Nyoman Rubeg dan Ni Wayan Sambreg ini. Dengan terus melakukan penyempurnaan, produk-produk Petrokimia Gresik akan makin diminati. Tidak hanya oleh konsumen lokal tapi juga konsumen mancanegara.

Petrokimia Gresik mempunyai banyak pabrik dengan berbagai produk, baik pupuk maupun non pupuk. Tentu saja masalah yang dihadapi Ketut Rusnaya sangat beragam, dan harus selalu ada penyelesaiannya. Untuk itu, bapak dari Putu Krisna Yudani dan Made Puspa Wedhanti ini tidak pernah malu bertanya pada bawahan. “Saya tidak segan untuk belajar pada siapa saja, mulai dari GM hingga ke tingkat yang paling bawah. Dengan menyerap pengetahuan dari mereka, saya lebih mudah menyelesaikan permasalahan yang saya hadapi.”

Dengan berbagai tantangan dan permasalahan yang dihadapi, Ketut menjaga keseimbangan emosinya dengan berolahraga. Bermacam olah raga disukainya, tetapi yang paling disukai adalah sepakbola. “Olahraga ini kan tidak mahal, apalagi dilingkungan Petrokimia Gresik fasilitasnya tersedia,” tuturnya. Meskipun usia sudah setengah abad, dia masih kuat bermain bola di lapangan lebar. Ketut mengungkapkan, sepakbola merupakan gambaran yang paling pas jika berbicara tentang teamwork.
“Masing-masing pemain punya peran tersendiri. Ada yang menjadi penyerang, pembagi bola, bertahan, hingga penjaga gawang. Tetapi masing-masing pemain tidak merasa paling berperan, ketika team-nya sukses memasukkan bola ke gawang lawan. Kesuksesan ini merupakan kerjasama team” terangnya.

Sebagai anak yang lahir dan tumbuh di keluarga petani, Ketut tidak pernah lupa pada asal usulnya. Sampai saat ini dia sangat memperhatikan kondisi pertanian dan kesulitan para petani, terutama di tempat kelahirannya, Kabupaten Tabanan, yang terkenal sebagai lumbung padi di Bali. “Dengan memberi edukasi kepada para petani akan pentingnya penggunaan pupuk NPK dan cara pemupukan berimbang. Agar bisa meningkatkan hasil panen dan produktivitas petani,” jelasnya.

Ketika diberi amanat sebagai Direktur Produksi Petrokimia Gresik sejak 13 Januari 2016, Ketut tidak pernah berubah. Suami dari Nyoman Ayu Suratnasih ini masih tetap seperti dulu, bersahaja dan hangat pada siapa saja. Tidak malu menceritakan masa mudanya yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Lelaki yang pernah menjuarai lomba lukis ilustrasi antar pelajar SMP di tingkat propinsi Bali ini, hampir tidak bisa kuliah. Saat lulus SMA orangtuanya tidak memiliki dana untuk membiayai perjalanan ke Surabaya, padahal dia sudah diterima di Teknik Kimia ITS. Ketika harus berangkat untuk registrasi, ibunya masih sibuk mencari uang dari hasil memungut rontokan padi sisa panen di sawah milik tetangga.

Peristiwa dramatik ini sangat membekas di hati bungsu dari empat bersaudara ini. Maka dia bertekad menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin agar tidak membebani orang tuanya.
“Ketika lulus kuliah tahun 1991, angan-angan saya sederhana saja. Bekerja dan membangun rumah tangga, membahagiakan keluarga dan kedua orang tua saya. Jika bisa mencapai posisi saat ini (sebagai Direktur Produksi Petrokimia Gresik), tentu saja sudah lebih dari apa yang pernah saya angankan. Saya sangat berterimakasih pada kepercayaan yang diberikan saat ini, dan justru menjadikan saya harus belajar banyak hal. Belajar dan belajar,” pungkasnya.  (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *