Proyek Strategis Menghadapi Kompetisi Pasar Bebas

Foto: Dadang Subianto

Arif Fauzan, Direktur Teknik dan Pengembangan Petrokimia Gresik

Petrokimia Gresik sedang menyelesaikan Pabrik Amoniak-Urea II, dan direncanakan mulai berproduksi tahun 2018. Proyek ini dianggap sebagai langkah strategis karena akan menambah revenu, dan membuat struktur bisnis menjadi lebih kuat. Sebab hingga saat ini Petrokimia Gresik   masih membeli amoniak dari Pupuk Kaltim dan Pusri, sebanyak 400 ribu ton per tahun. “Untuk biaya pengapalan saja sebesar 34 USD per ton, dikalikan kapasitas amoniak 2.000 ton per hari, sehingga per tahunnya dikeluarkan biaya yang cukup besar,” jelas Direktur Teknik dan Pengembangan Arif Fauzan.  Disamping itu juga untuk menambah kapasitas produksi Urea, yang sementara ini kapasitas produksinya masih 450 ribu ton per tahun. Kapasitas produksi pabrik baru Urea ini nantinya  bisa mencapai 570 ribu ton per tahun. Dengan demikian nantinya kapasitas Urea menjadi sekitar 1 juta ton per tahun. Dengan melihat kebutuhan urea di Jawa Timur sebesar 1,2 juta ton per tahun, secara pemasaran bisa lebih luas.

Proyek strategis berikutnya adalah Proyek Pabrik (NPK) PHONSKA V, dengan kapasitas produksi 500 ribu ton per tahun. Proyek ini sudah masuk pada RKAP 2018, dan direncanakan selesai antara tahun 2021-2022. Kapasitas produksi maksimal  seluruh pabrik NPK saat ini ‘hanya’ sebesar 2,6 juta ton per tahun. Jumlah alokasi untuk PHONSKA (NPK subsidi) sebesar 2,2 juta ton per tahun, sisanya 400 ribu ton dialokasikan untuk NPK non subsidi. “Dengan demikian ketika nantinya PHONSKA V sudah berproduksi, kami bisa meningkatkan penjualan NPK non subsidi hingga 900 ton per tahun,” ujarnya. Dengan total kapasitas produksi saat ini, Petrokimia Gresik kewalahan memenuhi permintaan non subsidi dan ekspor, yang dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat. Lebih-lebih ketika berbarengan dengan puncak musim tanam di dalam negeri, yang membuat kebutuhan PHONSKA (NPK subsidi) meningkat tajam.

Arif Fauzan mengatakan, dua proyek pabrik tersebut dipersiapkan untuk menghadapi pasar bebas yang sangat kompetitif. Sebab ketika sudah bisa memproduksi amoniak dengan kapasitas yang memadai,  HPP (Harga Pokok Penjualan) pupuk NPK bisa ditekan. Dalam kondisi amoniak masih membeli dari pihak lain saja  sebenarnya masih kompetitif. Apalagi jika menggunakan amoniak produksi sendiri. “Begitu 2 pabrik baru tersebut sudah berproduksi, secara hitung-hitungan HPP akan lebih kompetitif. Kelak jika  Petrokimia Gresik masuk ke pasar non subsidi, secara production cost sudah dipersiapkan,” ungkapnya.

Proyek berikutnya yang akan diusulkan adalah Pabrik CO2. Saat ini kapasitas produksi CO2 hanya sekitar 16 ribu ton per tahun, sedangkan kebutuhan pasar jauh melebihi jumlah itu. Pabrik CO2 yang baru direncanakan untuk menggantikan pabrik yang lama, yang sudah tidak efisien. Memang dalam kondisi seperti saat ini masih gampang menjual, meskipun profitnya tidak sebesar jika mempunyai pabrik baru yang lebih efisien. “Teman-teman sudah menghitung, minimal kami punya pabrik CO2 baru dengan kapasitas 32 ribu ton per tahun. Dengan harapan ketika sudah berproduksi, pabrik yang lama akan kita evaluasi. Jika masih menguntungkan akan terus dioperasikan, akan tetapi jika sudah tidak menguntungkan akan ditutup,” terang Arif.

Disamping itu, untuk menunjang penyimpanan dan handling hasil produksi, tahun ini Petrokimia Gresik mempunyai 3 proyek besar. Yang pertama, Gudang In Bag 50 ribu ton, yang saat ini dalam proses tender. Gudang dengan kapasitas 50 ribu ton ini untuk mengantisipasi saat stok produksi melimpah, dan tidak tertampung di gudang yang sudah ada. Yang kedua adalah proyek pelabuhan baru yang dikhususkan untuk bulk dengan kapasitas 10 ribu dwt untuk tongkang, dan 2000 – 2500 dwt untuk kapal cargo. Saat ini perijinannya masih dalam proses, dengan kapasitas 2 juta – 2,5 juta ton per tahun. Dengan pelabuhan baru ini diharapkan  bisa menjual gypsum ke luar dengan kapasitas yang besar, tanpa kendala di pengapalan.

Berikutnya adalah conveyor system dengan kapasitas shiping out 1000 ton per jam. “Dibangunnya conveyor beserta unit loader system ini,  bertujuan agar pemasaran bisa mengeluarkan produk sebanyak-banyaknya lewat kapal. Disamping itu, bisa menghindari terjadinya losses pada saat handling, maupun kemungkinan kerusakan produk jika diangkut dengan cara manual,” jelas Arif. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *