, , , , , ,

Berhasil Membudidayakan Bit, Kol, Wortel, Pakcoi, Selada, dan Kentang di Dataran Rendah

Rachmad Yogi dan tanaman Bit di lahan samping rumahnya, Desa Karanganyar, Kec. Paiton, Probolinggo  (foto: Dadang Subianto)

Setelah lulus Teknik Mesin SMK Probolinggo tahun 2004, Rachmad Yogi ingin membuka bengkel las di desanya, Karanganyar, Kecamatan Paiton. Tapi apa daya, lajang kelahiran 12 Juni 1986 ini tidak mempunyai modal yang cukup. Bapaknya hanya polisi berpangkat rendah, yang tidak memungkinkan untuk membiayainya. Dia tidak patah arang, keinginan mendirikan bengkel las dipendamnya, Rachmad Yogi banting setir menjadi petani. “Tahun 2005 saya mulai membantu ayah menanam tembakau di lahan seluas 1 hektar yang disewanya.  Selain mengabdi di kepolisian, bapak juga bertani untuk menambah penghasilan. Dari situ saya mulai belajar bagaimana cara bertani,” ujar sulung dari 5 bersaudara ini.

Keberhasilan panen tembakau yang ditanamnya membuat semangatnya semakin terpompa. Dia terus belajar bertani dari berbagai sumber. Pada tahun 2006 Rachmad Yogi mulai menekuni pembuatan agen hayati, dan berhasil mengembangkannya. Ketertarikan pada agen hayati, karena mampu menciptakan siklus keseimbangan ekosistem. “Pertamakali saya mengembangkan jamur Biophoria Sp., Metarisium, dan Trikroderma. Pengetahuan tentang agen hayati saya dapat dari Dinas Pertanian Probilinggo. Saat itu tidak banyak yang belajar tentang agen hayati. Bisa dikatakan, saya satu-satunya petani Paiton yang mempelajarinya,” akunya tanpa nada pamer.

Keberhasilan dalam mengembangkan agen hayati, mengantarkannya ikut program magang di Jepang selama satu tahun. Program ini merupakan kerjasama Kementerian Pertanian Indonesia dengan asosiasi petani Jepang. “Tahun 2010 saya berangkat ke Jepang bersama dengan 36 petani muda dari berbagai daerah di Indonesia,” jelas anak dari Abdul Salam dan Anik Rusmiati ini. Di negara matahari terbit itu Rachmad Yogi belajar tentang pertanian organik, dan memperdalam agen hayati  yang selama ini digelutinya.

Sepulang dari Jepang, Rachmad Yogi semakin serius menjalani profesi sebagai petani. Dengan bekal ilmu yang didapat, dia mulai melakukan beberapa eksperimen pada berbagai komoditas pertanian. Tanaman-tanaman yang selama ini hanya bisa dibudidayakan di dataran tinggi, berhasil ditanam di lahannya dengan ketinggian 2 meter di atas permukaan laut.  “Saya menanam bit, kembang kol, kubis, wortel, selada, pakcoi, kyuri, dan kentang. Alhamdulillah hasil panen masing-masing komoditas tidak mengecewakan,” terangnya. Berkat keberhasilan tersebut, Rachmad Yogi mendapatkan penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional pada tahun 2015.

Keberhasilan menanam berbagai  tanaman dataran tinggi tersebut tidak dinikmati sendiri. Rachmad Yogi mengajak masyarakat sekitar untuk membudidayakannya, dengan memanfaatkan lahan di sekitar rumah mereka. Hingga saat ini sudah puluhan warga dari 10 desa yang mengikuti jejaknya. Kegiatan tersebut didukung program CSR salah satu perusahaan swasta di Paiton. “Yang ikut program kami, hampir semuanya ibu rumah tangga. Luas lahan mereka beragam,  mulai dari 25 m2 hingga 400 m2,” jelasnya.

Menurut Ferda (28), Kepala Desa Paiton, pemanfaatan lahan kosong di sekitar rumah untuk menanam horti dari dataran tinggi tersebut, sangat bermanfaat. Selain menanamnya relatif mudah, pemasarannya juga dibantu oleh Rachmad Yogi.  “Kami semua diajari oleh Mas Yogi, dari mulai penyemaian, pemeliharaan hingga pemanenan. Saya sendiri ya ikut menanamnya, dengan memanfaatkan tanah di samping rumah seluas 48 m2. Saat ini menanam bunga kol, kubis, sawi, dan pakcoi,” paparnya. Ferda mengakui, dengan memanfaatkan lahan pekarangan di rumah, minimal kebutuhan dapur ibu-ibu di Desa paiton bisa dipenuhi. Selebihnya bisa  dijual untuk menambah penghasilan.  (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *