Pupuk Majemuk Tingkatkan Produktivitas Pertanian Secara Berkesinambungan

Menurut  data dari Badan Pusat Statistik (BPS),  penduduk Indonesia hasil  sensus penduduk tahun 2000 berjumlah  203 juta jiwa. Jika laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,74 % pertahun, maka pada tahun 2025, diperkirakan bisa mencapai lebih dari 294  juta jiwa.  Kondisi meledaknya jumlah penduduk tentu saja berdampak pada meningkatnya jumlah kebutuhan pangan yang harus dipenuhi. Jika konsumsi beras perkapita  stabil pada angka 141 kg/tahun, maka jumlah kebutuhan beras pada tahun 2025 berkisar 39,7 juta ton beras per tahunnya.

Ironisnya, peningkatan kebutuhan beras dibarengi dengan menurunnya luas areal tanaman padi, karena makin banyaknya alih fungsi lahan,.  Jika   tahun 2000  luasannya 11,79 juta hektar, diperkirakan pada tahun 2025 akan menyusut hingga menjadi 10, 9 juta hektar. Jika rata-rata produktivitas tanaman padi sampai dengan tahun 2025 tetap sebesar 4,54 ton gabah kering giling (GKG) per hektar, maka diperkirakan produksi padi pada 2025 menjadi sebesar 49,49 juta ton GKG atau setara dengan 28,31 juta ton beras, sehingga masih defisit kebutuhan beras sebesar 11,37 juta ton. Kekurangan ini tentunya harus dipenuhi dengan beras impor.

Untuk mengurangi ketergantungan impor bahan pangan, utamanya beras, cara paling tepat adalah dengan melakukan intensifikasi lahan pertanian. Sejak diperkenalkannya teknologi pertanian melalui revolusi hijau, pupuk menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan pertanian nasional. Sejak Program Bimas dan Inmas, yang dilanjutkan denga Program Insus dan Supra Insus, pupuk merupakan salah satu komponen teknologi yang penting dalam upaya peningkatan produksi pertanian. Pengembangan industri pertanian dalam negeri yang disertai dengan introduksi paket teknologi pemupukan bersama paket teknologi lain, terbukti mampu meningkatkan produksi pangan dengan tercapainya swasembada beras pada tahun 1984.

Pada perkembangannya, karena penggunaan pupuk oleh petani dengan cara yang tidak berimbang dan tidak sesuai dosis yang direkomendasikan terjadi penurunan kualitas kesuburan tanah.  Sebagian besar petani di Indonesia  cenderung  menggunakan pupuk urea secara berlebihan, dengan mengabaikan peran pupuk fosfat dan kalium. Hal ini menyebabkan turunnya produksi komoditi pertanian, misalnya produksi padi turun menjadi sebesar 4 hingga 4,5 ton per hektar. Penurunan ini cukup signifikan mengingat rata-rata produksi padi nasional mencapai 6,5 ton per hektar.

Dilihat dari keseimbangan kebutuhan dan  produksi pupuk nasional yang defisit pada jenis pupuk fosfat dan kalium, penggunaan pupuk majemuk pada pertanian merupakan solusi yang tepat, sebab penyediaan 3 jenis pupuk tunggal pada waktu yang bersamaan sulit dilaksanakan, utamanya jenis pupuk kalium yang tergantung dari impor. Pupuk majemuk bisa mengurangi keengganan petani untuk melakukan pemupukan dengan berbagai jenis pupuk tunggal dalam waktu bersamaan. Disamping itu, dengan adanya pupuk majemuk  secara tidak langsung bisa mendorong petani  untuk menerapkan teknologi pemupukan berimbang. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah ketergantungan pupuk impor bisa dikurangi.

Dibandingkan dengan pupuk tunggal, pupuk majemuk mempunyai kelebihan. Selain mudah dalam aplikasi di lapangan karena dalam sekali aplikasi seluruh kebutuhan hara yang dibutuhkan tanaman  akan terpenuhi, pupuk majemuk juga mengandung  nutrisi yang dibutuhkan tanaman dengan kandungan hara lengkap dan komposisi seimbang. Distribusi hara dalam setiap butiran pupuk majemuk juga relatif lebih homogen. Kelebihan lainnya adalah lebih efisien dalam penggunaan tenaga kerja dan waktu aplikasi, dan lebih praktis dalam penanganan dan transportasi.

Melihat kenyataan tersebut,  PT Petrokimia Gresik meluncurkan pupuk majemuk NPK dengan merek PHONSKA sejak tahun 2000. Pupuk majemuk dengan warna merah muda ini merupakan pelopor pupuk majemuk NPK yang diproduksi di dalam negeri.  PHONSKA diproduksi dengan komposisi  15 % N , 15 %  P dan 15 % K dan 10 % S,   dalam bentuk granul. Dengan penggunaan PHONSKA, secara tidak langsung akan mendorong petani untuk melakukan pemupukan berimbang. (Anton)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *