Petro H-Corn Tetap Andal di Lahan Marjinal

Kasbai sedang memanen jagung di lahannya, Desa Wotan, Kecamatan Panceng, Gresik. (Foto: Dadang Subianto)

Wajah Kasbai (55) berseri-seri saat melihat hasil panen jagung di lahannya yang nyaris sempurna. Biji-bijinya serupa mutiara dengan warna oranye mengkilat. Panjang tongkolnya rata-rata 23 cm dan diameter sekitar 4 – 5 cm. Petani dari Desa Wotan Kecamatan Panceng, Gresik ini tidak menyangka jagungnya masih bisa tumbuh dengan baik, mengingat  ketika 35 hari setelah tanam roboh  dihempas angin. “Semua tanaman roboh, batangnya hampir menyentuh tanah.  Waktu itu saya pikir ndak bisa panen, melihat kondisinya yang mengenaskan. Tapi tiga hari kemudian batangnya tegak kembali, dan tumbuh dengan normal,” ujarnya.

Meskipun dalam kondisi kurang menguntungkan, panen jagung di lahan Kasbai bisa mencapai 8,5 ton pipilan kering per hektar. Angka yang bisa dibilang luar biasa jika dibandingkan  hasil panen sebelumnya yang hanya mencapai 4 hingga 5 ton pipilan kering per hektar. Maklum tanah di Desa Wotan kebanyakan merupakan tanah marjinal, tanah dengan tingkat kesuburan rendah. Selain itu, tanah di lahan milik Kasbai berbatu sehingga menyulitkan perkembangan akar. Top soil  atau lapisan olah  tanahnya juga tipis, hanya dibawah 20  cm. Hal ini menyebabkan kandungan haranya rendah.

Menurut Kasbai musibah angin kencang yang melanda desanya membuat hampir semua tanaman jagung milik petani roboh. Sebagian besar mati, yang masih bertahan hasil panennya turun drastis, bahkan ada yang hanya mendapatkan 1,5 ton. “Mereka jelas rugi, apalagi  benih jagung hibrida harganya tidak murah. Belum lagi tenaga yang harus mereka keluarkan, apalagi ada beberapa yang menggunakan jasa buruh tani,” jelasnya dengan nada getir.

Berbicara tentang resiko kerugian, Kasbai sudah beberapa kali mengalaminya. Kerugian tersebut lebih banyak disebabkan gagal panen. Selain karena faktor cuaca juga pengelolaan usaha tani yang kurang tepat. Selama ini kebanyakan petani di desa Wotan tidak terbiasa menggunakan pupuk anorganik. Mereka cukup dengan mengaplikasikan pupuk kandang dari limbah ternak milik mereka. “Biasanya hanya rabuk (pupuk kandang). Jika menggunakan pupuk kimia ya sekedarnya saja,” ujar Kasbai.

Ketika ada penawaran lahannya dijadikan demplot oleh Petrokimia Gresik, Kasbai menyetujui. Bapak 4 anak ini ingin ada peningkatan panen jagung di lahannya. Kebetulan pabrik pupuk terlengkap di Indonesia itu sedang gencar mempromosikan Petro Hi-Corn, benih jagung hibrida dengan potensi hasil 12,9 ton per hektar pipilan kering. “Ketika pertama kali ditawari (untuk demplot) saya langsung setuju, sebab sekalian belajar bagaimana cara mupuknya. Di samping itu Petrokimia kan ya perusahaan pupuk yang sudah terkenal,” akunya.

Menurut General Manager Pemasaran dan Logistik Petrokimia Gresik Kadek K. Laksana, Petro Hi-Corn merupakan salah satu produk pengembangan Petrokimia Gresik. Benih jagung varietas Bima 14 Batara yang di-launch  28 Agustus 2014 itu, hasil kerjasama dengan Balitsereal Maros. “Sejak dilepas ke pasar hingga saat ini, sambutan konsumen cukup signifikan. Terbukti dengan meningkatnya permintaan dari konsumen dari tahun ke tahun. Selain harganya terjangkau, Petro Hi-Corn terbukti mampu meningkatkan hasil panen,” terangnya.

Kadek menuturkan, Petro Hi-Corn termasuk jagung berumur genjah, dengan umur panen hanya 95 HST (hari setelah tanam), dengan jumlah baris per tongkol 14-16. Disamping itu benih jagung hibrida tahan rebah. Keberhasilan panen di lahan milik Kasbai, selain karena benih jagungnya berkualitas, juga ditunjang dengan pemupukan yang berimbang. “Agar menghasilkan panen jagung yang optimal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Seperti di lahan milik Pak Kasbai, selain menggunakan Petro Hi-Corn, kami juga mengaplikasikan  pemupukan  berimbang,” tegas Kadek.

Lebih lanjut Kadek menuturkan komposisi pupuk yang diaplikasikan di lahan jagung milik Kasbai adalah 500 kg Petroganik, 300 kg PHONSKA Plus, dan 200 kg Za, per hektar. Mengingat  tanah di lahan miliknya merupakan tanah marginal, juga ditambah dengan Petro-Cas sebanyak 500 kg. Petro-Cas juga salah satu produk pengembangan Petrokimia Gresik, yang mengandung 90 % kalsium sulfat dan Sulfur. Petro-Cas mampu memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, dan memperbaiki perakaran tanah. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *