, , , ,

Andro Tunggul Namureta Mengakarkan dan Membumikan Sayuran Hidoponik

Bagi Andro Tunggul Namureta (27) menjadi petani merupakan tanggung jawab gelar yang disandangnya. Sebagai seorang yang dengan sadar memilih kuliah pertanian, dan meraih gelar sarjana pertanian, cukup aneh jika dirinya tidak terjun di bidang yang dipelajarinya. Apalagi orang tua berharap, anak-anak mereka hendaknya memilih profesi di bidang yang dipelajarinya di bangku kuliah. “Di samping itu saya melihat bahwa menjadi petani merupakan profesi yang punya prospek yang bagus,” ujarnya. Tapi tentu saja ada keraguan pada awalnya, benarkah profesi yang dipilih itu tepat buatnya.

Semula masih ada perasaan gamang, ketika memutuskan menjadi petani. Setelah bergabung dengan sesama alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran yang lebih dulu menjadi petani, keraguannya sirna. “Semangatnya itu pas bergabung dengan orang-orang yang sukses di bidang pertanian dan dapat mentor, saya semakin semangat untuk menjadi petani.” terangnya. Ketika masih aktif kuliah, Andro melihat dunia pertanian dari sisi gelapnya semata. Dia banyak mendengar keluh kesah petani yang sering merugi akibat ‘gagal panen, karena berbagai sebab. Tapi ketika dia  sudah terjun sendiri, ternyata dunia pertanian menarik dan menjanjikan.

Dari awal, bisnis pertanian yang dipilihnya tidak mainstream. Andro memilih bertani dengan sistem hidroponik di lahan dengan luas 6.000 m2. Pertama kali menanam hanya memanfaatkan lahan seluas 250 m2, yang digunakan untuk green house. Di dalam green house tersebut ditanami selada, pakcoy, caisim, dan bayam. “Pertama kali menaman sayuran  saya masih belum dapat untung. Dibilang rugi sih tidak, hanya bisa return saja. Namanya juga baru memulai, tapi saya tidak surut untuk meneruskan bisnis ini,” ungkapnya.

Andro mengakui tidak hanya berbisnis di budidaya semata, tapi juga mencoba produk olahan. Tapi karena dianggap kurang begitu prospektus, banting stir ke bidang jasa. “Sambil terus mengembangkan budidaya sayuran hidroponik, saya juga diversifikasi usaha di bidang jasa. Untuk usaha ini Andro bekerjasama dengan program bina lingkungan salah satu BUMN yang bergerak di bidang tambang. “Saya ingin hidroponik bisa mengakar dan membumi di masyarakat. Jadi saya dan teman-teman melakukan pendampingan pada mereka agar mencintai dunia pertanian, utamanya hidroponik,” jelasnya.

Wilayah garapannya di sekitar Gunung Pongkor, Bogor. Lokasi yang dipilih merupakan bekas area pertambangan, yang tanahnya sudah tidak produktif lagi. Mereka diajari bagaimana cara budidaya sayuran hidroponik. “Selama ini kan tanaman hidroponik hanya dikenal di kalangan masyarakat menengah atas. Nah dengan gerakan ini, kami berusaha agar hidroponik juga membumi di kalangan menengah-bawah,” terang petani muda yang semasa mahasiswa pernah menjadi delegasi Kegiatan Bina Desa Nasional Ikatan BEM Pertanian Indonesia. Hasil panennya bisa dikonsumsi sendiri dan selebihnya dijual untuk menambah penghasilan.

Dengan membumikan hidroponik, maka bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas. Tidak hanya sebatas bisa mengkonsumsi, tapi juga memproduksinya, utamanya untuk masyarakat urban.  Sayuran hidroponik bukan hanya menjadi komoditas premium, yang hanya bisa ditanam dan dinikmati oleh masyarakat kelas menengah-atas di perkotaan. “Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil pun, harusnya bisa melakukan pertanian hidroponik ini, Nah ini yang perlu saya tekankan pada gerakan menanam sayur organik dengan sistem hidroponik,” papar Andro.

Menurut Andro menanam dengan sistem hidroponik sangat mudah, dan tidak harus membutuhkan lahan luas, seperti pada pertanian konvensional. Yang penting kemauan untuk terus belajar, baik teori maupun praktek agar bisa mendapatkan panen yang optimal. “Akhir-akhir ini semakin banyak komunitas hidroponik. Mereka yang pada awalnya menanam hanya untuk konsumsi, berkembang menjadi bisnis yang menguntungkan. Itu lah yang saya maksud dengan hidroponik harus mengakar dan membumi,” jelasnya.

Saat ini Andro menanam bayam merah dan  bayam hijau, tentu saja dengan sistem hidroponik. Panennya diatur ritmenya sehingga bisa tiap hari, dengan hasil 25 – 35 kg per hari, untuk di kebunnya sendiri. Sedangkan untuk kebun plasma bisa mencapai 50 – 65 kg per hari. Petani muda yang mengidolakan Bob Sadino ini berpesan agar anak muda yang ingin menekuni usaha tani, agar banyak belajar ke orang yang sudah berhasil. “Tapi juga sering berdiskusi kepada petani yang mengalami kerugian, sehingga tahu perih-perihnya juga,” pungkasnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *