, , , , , ,

Unsur Hara yang Tersedia Harus Sesuai Kebutuhan Tanaman

(foto: Made Wirya)

 Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si, Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB;

Salah satu faktor penyebab ketidakseimbangan ketersediaan unsur hara dalam tanah, adalah pemupukan nitrogen yang berlebihan. Saat ini petani di Indonesia belum mengaplikasikan pemupukan berimbang seperti, memberikan pupuk nitrogen secara berlebihan, tetapi tidak memupuk kalium dan unsure mikro yang juga sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini disampaikan oleh Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si, Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB). Di samping itu minimnya pemahaman petani akan pentingnya pupuk organik, juga menjadi keprihatinannya. Dengan tidak diaplikasikannya pupuk organik, menyebabkan mikroba dalam tanah tidak berkembang, pemupukan kimia menjadi tidak efektif dan efisien, struktur tanah menjadi rusak, dan terjadi ledakan hama dan penyakit karena miskin penyangga hayati.

“Seperti kita tahu tanaman perlu sekitar 16 unsur hara, di antaranya adalah nitrogen (N),  kalium (K), dan fosfor (P), unsur makro primer yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar. Selain itu juga unsur makro sekunder seperti Ca, Mg, dan S, serta unsur hara mikro. Masih banyak yang belum menyadari akan pentingnya unsur hara mikro seperti Fe, Zn, dan Mn,” jelas Sugiyanta. Menurutnya definisi pemupukan berimbang itu adalah kondisi di mana unsur hara tersedia sesuai yang dibutuhkan tanaman. Jika di dalam tanah sudah banyak nitrogen, dan fosfor, tentu saja harus diberikan unsur hara makro dan mikro yang lain.

Sugiyanta menegaskan bahwa serangan beberapa hama dan penyakit, juga bisa disebabkan oleh ketidak seimbangan hara dalam tanah. Seperti misalnya serangan penyakit blas pada padi sawah yang terjadi akhir-akhir ini.  “Serangan blas lebih disebabkan karena kekurangan unsur hara silikat (Si) dan kalium (K). Dulu blas hanya menyerang padi gogo, sedangkan padi dengan irigasi tidak ada yang terserang, Sebab saat itu sistem irigasi kita masih cukup menyuplai kalium dan Si,” terang lelaki kelahiran Klaten, 15 Januari 1963 itu. Sedangkan saat ini di berbagai lahan irigasi kandungan kalium sudah tidak mencukupi, sehingga petani harus memupuk KCL.  Atau bisa juga mereka harus memberikan bahan organik sebagai sumber kalium. Sebab berdasarkan hasil analisis, penyebab lahan yang sakit akibat dari kekurangan bahan organik.

Menurut bapak dari tiga anak tersebut, dampak dari berkurangnya bahan organik adalah berkurangnya mikroorganisme dalam tanah. Selain itu bahan organik berperan untuk meningkatkan KTK (kapasitas tukar kation) dan menjerap unsur hara. Bahan organik juga mampu menghidupkan mikroba, yang bisa mengikat N dari udara dan  merombak P di dalam tanah menjadi tersedia. “Selain itu, pemupukan yang tidak berimbang mengakibatkan terjadinya perbedaan antara unsur hara yang bertumpuk dan  yang terkuras. Kalium, Silika dan unsur hara mikro termasuk unsur hara yang tidak pernah diperhatikan, sementara Nitrogen dan Fosfor diberikan secara berlebihan,” terangnya.

Petani sebenarnya cukup mengerti tentang pentingnya peranan pupuk organik. Hanya saja  pada prakteknya masih  banyak yang belum mengaplikasikan dengan maksimal. Hal ini disebabkan karena pemupukan organik tidak langsung menunjukkan efeknya pada satu musim tanam. Penggunaan pupuk organik baru terlihat hasilnya minimal setelah 8 musim tanam. Indikasinya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi pemupukan, perbaikan kondisi tanah, serta aktivitas mikroba. Tapi kebanyakan petani tidak sabar dan menginginkan hasil yang instan. “Jerami sebagai sisa pertanaman merupakan bahan organik yang kaya hara. Namun kenyataannya jerami banyak dibakar dengan tujuan memudahkan pengolahan tanah. Padahal seharusnya justru jerami itu harus dikembalikan ke tanah terus menerus dan selama 8 musim tanam akan dapat mengefisienkan pupuk anorganik hingga 25 %,” ujar Sugiyanta.

Tentang banyaknya lahan yang mengalami kelelahan, Sugiyanta mengungkapkan bahwa faktor penyebabnya adalah karena terekploitasi secara berlebihan. Untuk mengatasi hal tersebut pertama-tama dibutuhkan restorasi lahan, atau mengembalikan kesuburan lahan dengan bahan organik. “Jika di sawah ya mengembalikan jerami sisa panen ke lahan, dengan tujuan agar lahan menjadi sehat. Indikasi lahan yang sehat ditunjukkan dengan peningkatan KTK dan melimpahnya mikroba tanah, sehingga hara bisa segera tersedia di dalam tanah dan dapat cepat diserap oleh tanaman.  Dengan demikian pemupukan menjadi efektif,” jelas peraih penghargaan pengembangan padi variteas IPB 3S dan IPB 4S, dari Kementerian Pertanian tersebut.

Yang kedua adalah mengaplikasikan pemupukan berimbang sesuai dengan kandungan tanah dan kebutuhan tanaman. “Misalnya potensi lahannya hanya satu, kita minta hasilnya berapa pada musim yang bagaimana, kan beda-beda penentuan hasilnya. Pengelolaan hara spesifik lokasi dan spesifik komoditas itu penting, di mana hal tersebut perlu campur tangan dari pemerintah,” papar Sugiyanta. Yang ketiga adalah precision farming, tidak jor-joran dalam dosis pemupukan. Dosis pemupukan harus tepat, bukan hanya berimbang dosis, tapi juga jenis. Bukan hanya NPK saja tapi juga perlu unsur hara makro sekunder dan mikronya. Karena berdasarkan penelitian, unsur mikro seperti boron dan silika pada padi  juga ikut menentukan hasil panen hingga 10 %.  (Junianto Simaremare)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *