, , , , , , ,

Peran Pupuk Organik dalam Pemupukan Berimbang

(foto: Made Wirya)

Dr. Husnain, MP., MSc, Kepala Balai Penelitian Tanah, Bogor

Indonesia memang memiliki lahan yang luas, akan tetapi sudah banyak yang terdegradasi. Artinya sudah tidak subur dan tidak optimal untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Kita juga memiliki lahan sub optimal yang sangat luas, hanya saja memiliki potensi keterbatasan dari awal.  Lahan dalam kondisi seperti itu perlu in put yang lebih dibanding lahan yang subur. Berdasarkan hasil survei pada lahan sawah  di Pulau Jawa,  sekitar 73 % hanya mengandung bahan organik lebih rendah dari 2 %. Idealnya, bahan organik di dalam tanah adalah sebesar 5 %.

Lahan yang tidak subur, sudah tidak optimal untuk mendukung pertumbuhan tanaman pangan, utamanya padi. Untuk itu perlu mendapatkan tambahan bahan organik ke dalam tanah, dengan memberikan pupuk organik. Lebih-lebih lahan kering yang masam, mutlak dibutuhkan bahan organik. Hal ini diungkapkan oleh Husnain, SP, MP, Msc, Ph. D, Kepala Balai Penelitian Tanah, Bogor.

Pupuk organik adalah salah satu komponen yang sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan produktivitas lahan. Apabila bahan organik di dalam tanah sudah sangat rendah, diperlukan pupuk organik untuk memperbaiki sifat fisik tanah. “Sifat fisik tanah yang kondusif membuat mikroba dalam tanah bekerja maksimal,  membantu penyerapan unsur hara oleh akar tanaman. Itu kenapa pupuk organik sangat penting untuk pertumbuhan tanaman,” ujarnya.

Agar hasil panen bisa optimum, Ibu dari Taraziva Farrin itu mengatakan bahwa pemupukan  berimbang juga perlu dilakukan. Konsep pemupukan berimbang adalah memberikan pupuk sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi tanah. “Ada paradigma baru mengenai pemupukan berimbang, yaitu kombinasi antara pupuk anorganik, pupuk organik dan pupuk hayati,” papar Kartini masa kini yang menyelesaikan S2 dan S3-nya di Tottori University, Jepang itu.

Dalam pemupukan berimbang ada 4 tepat yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah tepat dosis, jadi berapa yang dibutuhkan tanaman, berapa yang dibutuhkan untuk maintenance pertumbuhan, sesuai dengan kondisi tanah. Kemudian tepat jenis, dalam arti jenis pupuk apa saja yang dibutuhkan tanaman. Selanjutnya adalah tepat waktu, tanaman dipupuk pada saat yang tepat, tidak terlalu cepat dan tidak terlambat, agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. “Yang terakhir adalah tepat cara, sebab dengan pemupukan yang asal-asalan bisa menjadi tidak efisien,” jelas istri dari Rudy Indra tersebut.

Aplikasi pemupukan yang tepat sangat penting karena bisa meminimalisir kehilangan pupuk. Hal ini mengingat efisiensi pupuk di Indonesia tergolong sangat rendah. Efisiensi Urea atau N misalnya, hanya separuhnya saja yang terserap oleh tanaman, sisanya terbuang sia-sia. Pupuk fosfat (P) lebih rendah lagi jumlah yang terserap tanaman, karena kondisi tanah yang masam. “Setiap P yang dimasukkan langsung larut, dan diikat oleh Al dan Fe, jadi harus ada cara agar bisa terlepas dengan diberikan kapur. Sedangkan untuk K, merupakan unsur hara yang mudah hilang dan tercuci,” urainya. (Junianto Simaremare)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *