, ,

Penderita Diabetes Sebaiknya Mengkonsumsi Nasi dengan Indeks Glikemik Rendah dengan Porsi yang Seimbang

Dr. Didah Nur Faridah

Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB

Menurut WHO jumlah penderita Diabetes di Indonesia berada pada urutan ke-4 dunia. Kondisi tersebut cukup memprihatinkan mengingat prevalensi Diabetus Melitus (DM) di Indonesia terus meningkat. Data dari International  Diabetes Federation (2014) menyatakan  bahwa  prevalensi DM di Indonesia  sekitar 5,8%.   Lebih  dari  setengah  kasus DM  (53,25%) adalah DM tidak  terdiagnosis.  Hal ini diungkapkan oleh Dr. Didah Nur Faridah, Kepala Laboratorium Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (LDITP), Institut Pertanian Bogor.

Menurutnya, ketidakseimbangan pola konsumsi pangan penduduk menjadi salah satu faktor tingginya prevalensi DM di Indonesia. DM dipicu oleh tingginya asupan karbohidrat, makanan tinggi lemak dan gula,  serta makanan rendah serat. Salah satu faktor resiko lainnya yang berhubungan dengan DM adalah kurangnya aktivitas fisik. “Berdasarkan hasil Riskesdas 2013, proporsi penduduk Indonesia dengan aktivitas fisik kurang adalah sebesar 26,1 %. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan melambatnya penyerapan gula darah ke dalam sel-sel tubuh,” ujarnya.

Lebih lanjut Didah menjelaskan, kadar gula darah dapat dikendalikan melalui  empat  pilar penatalaksanaan  yang terdiri dari edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani  dan  intervensi farmakologis. Pengaturan  makanan  pada  penderita DM hampir  sama dengan  anjuran makan  untuk masyarakat    umum.   Makanan tersebut harus seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. “Pada penyandang DM perlu ditekankan pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah makanan. Konsep indeks glikemik (IG) dan beban glikemik (BG), dapat digunakan sebagai acuan bagi penderita diabetes dalam memilih jenis dan jumlah makanan yang tepat,” papar perempuan kelahiran Tasikmalaya, 17 November 1971 ini.

Didah menyarankan agar penderita DM menghindari nasi dari beras beramilosa rendah, karena cenderung memiliki IG tinggi. Nasi tersebut biasanya bertekstur pulen, dan disukai oleh mayoritas masyarakat  Indonesia. “Nasi dari beras dengan IG tinggi dapat menaikkan gula darah dengan cepat. Oleh sebab itu penderita DM sebaiknya mengkonsumsi nasi dari beras dengan indek glikemik rendah. Sebab biarpun bertekstur pera, nasi ini menaikkan gula darah dengan lambat,” paparnya. Namun demikian, menurut Didah, nasi dengan IG rendah jika dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan nilai BG. Sehingga tidak efektif dalam mengendalikan kadar gula darah penderita DM.

Pada kesempatan ini Didah juga menjelaskan,  berdasarkan nilai IG-nya, pangan dikategorikan menjadi tiga kelompok. pangan IG rendah dengan rentang nilai IG <55,  pangan IG sedang dengan rentang nilai IG 56-69, dan pangan IG tinggi dengan rentang nilai IG >70. Karbohidrat dalam pangan yang dicerna dengan cepat selama pencernaan memiliki IG tinggi. Sebaliknya pangan yang ber-IG rendah, karbohidratnya akan dicerna lebih lambat sehingga melepaskan glukosa ke dalam darah dengan lambat. IG dari makanan dipengaruhi tidak hanya oleh laju penyerapan karbohidrat dalam saluran pencernaan. Akan tetapi juga laju penyerapan glukosa dari plasma darah oleh sel-sel tubuh. Diketahui pula makanan dengan IG rendah dapat mempercepat penyerapan glukosa dari plasma. (Junianto Simaremare)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *