, ,

Inovasi Teknologi Pengembangan Jeruk Di Indonesia

Berikut kami sampaikan laporan hasil pelatihan staf Dept. Promcansar dalam workshop inovasi teknologi dan produk unggulan jeruk yang diselenggarakan oleh Balati Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika pada tanggal 30-31 Agustus di Aula YAI Kabupaten Batu, Malang, Jawa Timur dengan pokok-pokok sebagai berikut:

Gambaran Umum Kegiatan
Jeruk merupakan komoditas hortikultura unggulan yang dimiliki oleh Indonesia. Jeruk yang paling banyak ditanam di Indonesia adalah jeruk siam/keprok dan jeruk besar. Sentra jeruk siam yaitu Sumatera Utara, Jawa Timur dan Kalimantan Barat. Sentra jeruk besar ada di Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Aceh. Lima tahun terakhir terjadi penurunan produktifitas di luar Jawa dan terjadi peningkatan di Jawa. Produk jeruk di Indonesia sebesar 2,4 juta ton diperkirakan produksi tahun 2019 mampu meningkat sebesar 2,77 juta ton Kegiatan workshop inovasi teknologi dan produk unggulan jeruk diikuti oleh perwakilan Balai Penelitian semua provinsi,perwakilan direktorat jenderal hortikultura, perwakilan dinas pertanian se-Jawa Timur.

Tujuan Workshop

  • Mampu memetakan sentra produksi jeruk di Indonesia
  • Menentukan pasar potensial bagi produk perusahaan
  • Dapat mengetahui inovasi dan teknologi terkini dalam bidang jeruk dan buah-buahan subtropika di Indonesia
  • Meningkatkan wawasan dan skil dalam mendeteksi dan pengendalian hama penyakit tanaman jeruk
  • Mengetahui perkembangan pupuk slow release untuk tanaman jeruk.
  • Materi Pelatihan.DETEKSI PENYAKIT HUANGLONGBIN (HLB/CVPD) MENGGUNAKAN KIT DETEKSI CEPAT

CVPD merupakan penyakit yang paling banyak menyerang tanaman jeruk di Indonesia, bahkan serangannya dapat mematikan tanaman. Gejala yang timbul dari serangan CVPD ini mirip dengan gejala yang timbul karena defisit unsur hara mikto, hal ini menyebabkan mis-diagnosis karena sulitnya menentukan penyebabnya.

Balitjestro memperkenalkan teknologi baru pengendalian penyakit CVPD di lapang yang diberi nama dePAT-CVPD. dePAT CVPD merupakan kit deteksi cepat penyakit CVPD tanaman jeruk, prinsip kerja kit dePAT-CVPD ini adalah mendeteksi DNA bakteri penyebab CVPD. Kit deteksi ini dikembangkan dengan platform Loop-Mediatated Isothermal Amplifiction (LAMP).

Sahabat Petani

Prinsip kerja LAMP didasarkan pada penggunaan empat sampai delapan sekuen target DNA melalui sintetis perpindahan untai DNA secara ishoternal dengan memanfaatkan enzim DNA polymerase untuk mendeteksi sekuens target DNA spesifik penyebab penyakit. Kemudia dilakukan amplifikasi sederhana paa suhu 65 derajat celcius selama 60 menit untuk menghasilkan DNA dalam jumlah besar sehingga mempermudah dalam interpretasi hasilnya.

A.1 Metodologi kerja kit:

  • Pemilihan sampel, pilihlah sampel dari daun tanaman jeruk pada tunas vegetatif yang sedang dalam fase pertumbuhan aktif
  • Ambil lima lembar daun untuk di diagnosa
  • Pangkal tulang daun diiris-iris tipis berukuran 5 mm sebanyak 12 potong (50 mg), kemudian dimaukkan dalam kantong pelastik yang berisi buffer BA.
  • Potongan tulang daun digerus sampai halus
  • Dua puluh lima µL cairan sampel dalam buffer BA dipindahkan pada kantong plastik yang sebelumnya berisi buffer BE.
  • Sampel dihomogenisasi dengan menekan beberapa kali permukaan kantong plastik.
  • Sampel siap untuk dianalisis melalui amplifikasi DNA
  • Sampel positif ditandai dengan warna cairan menjadi biru pekat.PENGGUNAAN ALAT BARK PESTICIDE APLICATOR DALAM MENGENDALIKAN HAMA JERUK
  • Bark pesticide aplicator adalah alat aplikasi pestisida sistemik melalui batang tanaman jeruk. Fungsi alat ini adalah meningkatkan efisiensi pengendalian OPT.
  • Bark pesticide aplicator di design khusus sehingga penggunaan pestisida menjadi efisien dan ramah lingkungan.SISTEM PAKAR OPT JERUK BERBASI WEB

Sistem pakar OPT jeruk yang dikembakan oleh Balitjestro merupakan teknologi dalam mengidentifikasi OPT Jeruk di lapangan berbasis website. Saat ini sistem pakar OPT jeruk dapat diakses melalui website www.pakar.balitjestro.web.id. Kedepannya sistem pakar OPT jeruk akan dikembangkan dalam bentuk apps berbasis android.

PENGGUNAAN PUPUK SLOW RELEASE

Balitjestro mengembangkan pupuk slow release yang diberi nama pupuk pukap jestro (Pupuk Lengkap Lepas Lambat). Dengan latar belakang bahwa pupuk konvensional dianggap memiliki efisinesi rendah sehingga Balitjestro mengembangkan pupuk jenis SRF untuk mengelola nutrisi tanaman.

PUKAP adalah pupuk yang mengandung unsur hara esensial lengkap (makro dan mikro). Pupuk ini berbentuk granul. Pupuk ini dideklarasi oleh penelitinya memiliki dua lapisan (coating) yang membantu dalam pelepasan hara di dalam tanah, dua lapisan alami yang membuat pelepasan hara menjadi terkontrol (slow release). Selaput pertama (inti) memiliki muatan negatif tinggi, porous, mampu menabung air dan melepaskannya untuk tanaman. Selaput kedua (luar) merupakan bahan desinfektan yang mampu menghambat perkembangan bakteri nitrifikasi dan mengganggu akar tanaman.

Tindak Lanjut

Perkembangan inovasi dan teknologi pada tanaman buah subtropika khususnya jeruk memang sudah cukup baik, identifikasi penyakit dilapang saat ini sudah dapat menggunakan aplikasi sistem pakar, kemudian untuk mengetahui apakah tanaman tersebut positif terserang penyakit juga dapat segera divonis dilapangan menggunakan kit dePAT-CVPD. Pihak Balitjestro dalam waktu dekan akan mengajukan proposal untuk membahas peluang kerjasama dengan anak perusahaan PT Petrokimia Gresik terkait pengembangan dan kerjasama Bark Pesticide Aplicator.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *