Dari Buruh Bangunan Menjadi Petani Muda Sukses

Foto: Dadang Subianto

Kamaruddin, Petani PATRA Bondowoso

Selepas lulus dari sekolah menengah kejuruan di Bondowoso, sebenarnya Komaruddin (34) ingin bekerja sebagai buruh bangunan. Tidak terpikir sedikitpun  di benaknya untuk menjadi petani,  sebab menurutnya petani bukan profesi yang menjanjikan. Meskipun kedua orang tuanya menginginkan untuk membantu mereka kerja di lahan, anak pertama dari pasangan Bungkus dan Kusmiyati ini bersikukuh dengan tekadnya semula. Pada akhirnya kedua orangtuanya menyerahkan pada Kamaruddin apa yang terbaik buat masa depannya. “Selepas SMMEA (sekolah kejuruan ekonomi), saya bekerja sebagai kuli bangunan selama kurang lebih 5 tahun. Waktu itu saya berpikir, bagaimana caranya agar bisa punya usaha sendiri,” kenangnya.

Hatinya menjadi gelisah, ternyata penghasilan menjadi buruh bangunan juga tidak menentu. Jika tidak ada proyek bisa nganggur berhari-hari, itu artinya tidak ada pemasukan sama sekali. Atas ajakan salah seorang temannya Kamaruddin bergabung dengan PATRA. Sebuah lembaga non pemerintah di bidang pelatihan anak petani dan remaja,  yang digagas oleh Imam Soejono. Melalui PATRA, suami Rini Kusuma Dewi ini dikenalkan pada dunia pertanian. Kamaruddin pun digembleng untuk menjadi petani yang mampu mengelola usaha tani dengan cerdas. Lambat laun kecintaannya pada bidang pertanian semakin kuat.

“Saya mulai melakukan usaha tani dengan menyewa lahan. Pertama kali saya menanam tembakau dan hasilnya lumayan bagus. Saya terus belajar dan belajar, dengan mencoba menanam berbagai komoditas,” jelasnya. Keberhasilan demi keberhasilan usaha taninya, membawa dia untuk mengikuti tes dan lulus program magang di Jepang selama satu tahun. Program ini merupakan program yang diselenggarakan Kementerian Pertanian RI bekerjasama dengan Pemerintah Jepang.

“Selama di Jepang saya tinggal di keluarga petani hortikultura di Perfektur Fukushima. Saya banyak belajar dengan induk semang saya, Oochi San. Orangnya tidak pelit berbagi ilmu, seperti kebanyakan petani di sana yang saya temui. Selain mendapatkan ilmu pertanian, yang lebih penting lagi saya belajar tentang kerja keras, integritas dan kedisiplinan,” papar Kamaruddin.

Berbekal ilmu pertanian yang diperolehnya mulai dari PATRA hingga magang di Jepang, Kamaruddin menjadi pelaku usaha tani yang ulet dan cerdas. Kini usaha taninya maju pesat, hingga bisa memperkerjakan beberapa anak muda yang belum bekerja di desanya. Anak-anak muda itu diajarinya untuk bertani, agar bisa mandiri dan tidak selalu berharap kerja ikut orang lain. Tentu saja membuat orang tuanya bangga, utama ibu yang melahirkannya. “Ibu tentu saja bangga melihat anaknya sudah mandiri, bahkan bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya sekolah adik-adik saya,” ujarnya.

Saat ini Kamaruddin  mengelola lahan seluas 1,2 hektar, yang tersebar di tiga lokasi berbeda. Sebagian besar tanah yang dimilikinya hasil dari bertani, sisanya masih menyewa. Kini dia bisa hidup layak, dengan istri dan dua anaknya. Jauh melebihi mimpinya ketika baru lulus sekolah menengah kejuruan. “Saya optimis, profesi petani bisa menjamin masa depan asal dikelola dengan cerdas dan sungguh-sungguh,” paparnya. Dia berpesan kepada anak-anak muda yang menekuni profesi sebagai petani agar tidak minder. Selain bisa menyejahterakan, petani merupakan profesi yang mulia karena bisa menjaga ketahanan pangan negara. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *