, ,

Menangguk Untung dari Butternut Squash, Black Madras, dan Okra

Mustakim, Sugianto, dan Anshori, menunjukkan hasil panen okra  (foto: Dadang Subianto)

Sudah 5 tahun ini Yaumudin Sugianto (25) menekuni budidaya komoditas yang tidak lazim ditanam oleh petani di Desa Sugihwaras, Bojonegoro. Jika kebanyakan petani menanam varietas padi dan palawija, Sugianto lebih  memilih butternut squash, black madras, dan okra. Setelah  menyelesaikan strata 1 fakultas pertanian di salah satu universitas di Bojonegoro tahun 2010, dia menyewa lahan seluas ¼ hektar. “Jika ditanami tanaman pangan atau palawija pada umumnya, lahan seluas itu tidak bisa menghasilkan keuntungan maksimal. Makanya saya mencoba untuk membudidayakan komoditas yang punya harga jual tinggi,” jelasnya.

Komoditas yang pertama kali ditanam adalah butternut squash, atau biasa disebut dengan labu madu karena rasanya yang manis. Labu ini  berbentuk mirip pin bowling, dengan warna daging mirip labu kuning (waluh) dan bertekstur lembut. Berdasarkan penelitian, labu madu mengandung serat tinggi, antioksidan, beta karoten, vitamin A dan B kompleks. Panen perdana labu madu di lahan Sugianto, menghasilkan hampir 600 buah. Padahal dia baru memanfaatkan satu petak saja dari empat petak lahan yang disewanya. “Tiap satu pohon bisa berbuah 20-25 buah. Saya pasarkan melalui media sosial, baik di grup-grup WA maupun facebook. Konsumennya selain dari Bojonegoro, Tuban dan Gresik, juga ada yang dari Jogja dan Jakarta,” terangnya.

Keberhasilan menanam labu madu menginspirasi beberapa anak muda di desanya. Terhitung ada empat anak muda yang mengikuti jejak Sugianto. Pendidikan mereka beragam, dari mulai SMA hingga sarjana berbagai disiplin ilmu. Seperti Anshori (30) misalnya, dia meraih gelar master di bidang manajemen pemasaran. Sedangkan Mustakim (26), berhasil menamatkan S1 jurusan Bahasa Indonesia. Mereka kemudian mencoba untuk menanam padi varietas black madras. Padi yang berwarna hitam ini kaya akan serat dengan kadar glikemik rendah, sangat baik dikonsumsi untuk penderita diabet. Menurut Anshori, harga jual black madras relatif mahal, bisa mencapai Rp. 20 ribu per kilogramnya. “Pasokannya rendah, sedangkan permintaan cukup banyak. Sebab beras hitam ini memiliki usia panen yang lama, bisa sampai 5 bulan, dan hasil panennya tidak sebanyak padi putih,” jelasnya.

Selain itu mereka juga menanam okra, sayuran yang bentuknya mirip cabai. Tanaman yang banyak diminati masyarakat di berbagai negara di Asia, Eropa, dan Australia, ini banyak manfaatnya untuk kesehatan. Selain bisa mengontrol kadar kolesterol karena kaya serat, mineral dan vitamin, juga bisa mencegah sembelit, menjaga sistem kekebalan tubuh,  mencegah kanker rongga mulut, dan memperkuat tulang dan gigi. Mustakim mulai menanam Okra pada Februari 2017. Menurutnya budidaya tanaman ini tidak susah, tidak jauh berbeda dengan tanaman horti pada umumnya. Biaya produksinya juga tidak mahal. “Karena masyarakat Indonesia sudah mulai mengenal dan mengetahui manfaat Okra, permintaan makin banyak. Harganya juga lebih stabil,” jelasnya.

Mereka mendapatkan informasi tentang berbagai komoditas unik itu dari media sosial. Memasarkannya pun juga menggunakan media yang sama, sehingga lebih mudah, murah dan proses transaksinya tidak membutuhkan waktu yang lama. “Dipasarkan secara on line, sehingga bisa menjangkau wilayah yang sangat luas. Dengan semakin meningkatnya permintaan labu madu, black madras, maupun okra, rencananya kami akan memperluas lahan dengan menyewa di beberapa tempat,” kata Sugianto.

Keberhasilan lima petani muda dalam budidaya komoditas yang ‘tidak mainstream’ itu diapresiasi oleh pemerintah desa. Ke depannya telah disiapkan lahan milik desa seluas 0,5 hektar untuk mereka kelola. Selain itu, Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro juga akan membantu beberapa benih yang dibutuhkan. Rencananya selain black madras, labu madu dan okra, lahan tersebut akan mereka tanami tomat, cabai, terong, sawi, dan bunga kol. Mereka optimis dunia pertanian di desanya akan terus tumbuh dan berkembang.  Seiring dengan usaha tani modern yang dikembangkan oleh anak-anak mudanya yang terdidik dan berpikiran maju. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *