, ,

Sarjana Perikanan yang Terjun Sebagai Pembudidaya Ikan

(foto: Made Wirya)

Bangun Adi Wahono

Sejak duduk di kelas 2 SMA, Bangun Adi Wahono (23) sudah mulai menekuni usaha budidaya ikan lele dan patin. Usahanya terus berlanjut ketika anak pertama dari dua bersaudara ini melanjutkan kuliah, di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Jarak tempat kuliah dengan rumahnya, Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, tidak begitu jauh. Sehingga memungkinkannya untuk pulang 2 minggu sekali, untuk mengelola usahanya. “Selama kuliah di Malang, sehari-harinya kolam ikan diurus bapak, yang memang profesinya pembudidaya ikan,” ujarnya.

Kecintaannya pada dunia perikanan,  membuat dia enggan untuk mencari pekerjaan kantoran, setelah diwisuda S1 tahun 2016. Keputusannya ini membuat risau kedua orang tuanya. Bagaimana tidak , setelah lulus kuliah orang tuanya berharap Bangun menjadi karyawan kantoran atau PNS, dengan jam kerja dan penghasilan yang pasti. “Saya harus meyakinkan kedua orang tua saya, bahwa  pembudidaya ikan juga merupakan profesi yang menjanjikan. Lagipula siapa yang akan mengurus kolam-kolam ikan milik bapak, melihat adik saya tidak tertarik sama sekali dengan ikan,” jelas pemuda kelahiran 23 Januari ini.

Menurut Bangun, menjadi pembudidaya ikan harus tahan banting, tidak boleh menyerah jika rugi. Tapi jika mendapatkan untung berlipat, tidak tergoda untuk membelanjakan uang untuk barang-barang konsumtif. “Setelah beberapa kali untung, tahun 2014 saya rugi Rp. 45 juta. Bukan karena gagal panen, tapi tidak dibayar oleh pembelinya. Dia kabur dan hingga saat ini tidak ada kabar beritanya,” kenangnya. Saat itu modal usahanya ludes, sehingga nekat untuk pinjam uang di bank untuk memulai lagi usahanya.

Bangun mengakui, keterbatasan modal adalah salah satu kendala yang sering dialami pembudidaya ikan. Biaya produksi yang paling besar adalah pakan,  yang harganya terus bergerak naik.  Tantangan lainnya adalah fluktuatifnya harga ikan di pasar. “Jika panen berhasil belum tentu kita meraup untung yang banyak. Hal itu dialaminya tahun 2016,  karena saat itu harga ikan bergerak turun. Tapi jika panen melimpah dan harga bagus, saya mendapatkan untung yang banyak,” ungkapnya.

Tapi tekad Bangun untuk menekuni usaha budidaya ikan tidak pernah surut. Selain sudah berjanji pada orang tuanya untuk serius menjalani profesi ini, dia yakin prospek ke depannya akan cerah. “Konsumsi ikan masyarakat, utamanya ikan patin meningkat dari tahun ke tahun. Di samping itu, di Tulungagung kan ada pabrik pengolahan ikan patin. Jadi pasar ikan masih terbuka luas,” ujarnya optimis.

Untuk menekan biaya produksi, Bangun mencoba membuat pakan ikan sendiri. Pakan tersebut sudah diuji di laboratorium, dan diujicoba di lahannya, dan Oktober tahun ini rencananya akan dipanen. Melihat pertumbuhan ikannya yang dalam 2 bulan ini peningkatnnya signifikan, dia yakin panen patin di kolamnya akan berhasil. Ketika ditanya tentang probiotik, Bangun menjelaskan bahwa probiotik untuk ikan memang dibutuhkan. “Selain bermanfaat untuk kesehatan ikan dan memperbaiki serapan nutrisi, probiotik bisa memperbaiki kualitas air kolam,” pungkkasnya. (Made Wirya).

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *