, ,

Muhammad Yusuf Mencintai Dunia Pertanian

Selepas SMA, Muhammad Yusuf (29) membudidayakan lele di lahan milik orang tuanya. Tapi usahanya hanya bertahan sebentar, sebab lelenya tidak bisa berkembang dengan baik, dan merugi. Karena modalnya habis, Yusuf bekerja di perusahaan kontraktor yang mengerjakan menara telekomunikasi. “Saya bekerja di kontraktor sambil bertani di lahan milik kakek. Lahan milik kakek kan lama terbengkalai karena nggak ada yang mengelola,” ujarnya.

Lahan milik kakek Yusuf terbilang subur, irigasinya juga bagus karena dekat dengan aliran Bengawan Solo. Karena irigasinya teknis, lahan tersebut bisa panen padi 3 kali dalam setahun, dengan hasil 5 ton per hektar. Pengetahuan pertanian diperolehnya dari orang-orang di sekitar, baik dari orang tua maupun tetangganya yang sudah berpengalaman. Pemuda yang tinggal di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro ini, belajar mulai dari olah lahan, pembibitan, pemeliharaan dan pasca panen.

Seiring bertambahnya waktu, pengetahuan Yusuf tentang pertanian semakin bertambah. Selain belajar dari lingkungan sekitar, dia juga belajar pada PPL dan petugas lapang Petrokimia Gresik. “Ternyata hasil panen padi di lahan yang saya kerjakan bisa lebih meningkat lagi. Hal ini tidak lepas dari peran pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah,” kata lelaki yang lahir tanggal 9 Oktober tersebut.

Sebelumnya dia hanya menggunakan urea dan sedikit PHONSKA. Tapi setelah mengaplikasikan Petroganik, PHONSKA, dan Urea, dengan takaran sesuai kebutuhan, panen padi di lahannya meningkat. “Dari yang semula hanya 5 ton per hektar, sudah 4 tahun ini  terus meningkat menjadi 8  ton per hektar. Mulai musim tanam kemarin saya juga sudah mulai mengaplikasikan Petrobio Fertil. Saya optimis ke depannya panen akan terus meningkat seiring dengan semakin suburnya tanah,” paparnya.

Yusuf mengakui bahwa jumlah anak muda dengan umur di bawah 30 tahun sangat sedikit yang ingin menjadi petani. Kebanyakan dari mereka lebih suka bekerja sebagai buruh bangunan, buruh pabrik, atau penjaga toko. Mereka tersebar di berbagai kota besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, bahkan ada yang di Jakarta. Menurut mereka menjadi petani bukan pekerjaan yang keren, kurang menjanjikan.

“Tapi saya tidak sependapat. Selain suka kehidupan desa dan tetap ingin tinggal di sini, saya semakin mencintai dunia pertanian. Bertani bisa menjadi mata pencaharian yang bisa menghidupi keluarga,” ujarnya. Lebih lanjut Yusuf mempertanyakan,  jika semua anak muda kerja di kota, siapa yang akan menggarap lahan?  (Made Wirya).

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *