, , ,

Petani Muda Sukses Dari Plumpang

Slamet Priyanto

Menjadi petani sukses merupakan mimpi Slamet Priyanto sejak kecil. Maka sejak duduk di bangku SMP, dia rajin membantu mengerjakan lahan  milik orang tuanya.  Dipelajarinya cara budidaya berbagai komoditas, mulai dari olah lahan, pemeliharaan, hingga pasca panen. Desa Cangkring, Kecamatan Plumpang, tempat kelahirannya, memang dikenal sebagai salah satu desa yang menjadi sentra pertanian di Kabupaten Tuban. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani.

Keputusan  mengambil Jurusan Teknik Pertanian Universitas Brawijaya setelah lulus SMA, menuai konflik dengan bapaknya. Sebab bapaknya menghendaki agar Slamet Priyanto mengambil teknik industri atau teknik mesin. “Menurut Bapak, dua jurusan itu lebih menjanjikan untuk mendapatkan pekerjaan kantoran dengan gaji besar. Tapi saya nekat mengambil jurusan yang menjadi minat saya sejak kecil,” kenangnya.

Menentang keputusan orang tua dalam memilih bidang studi yang dipilih, membawa beban buat anak muda yang akrab dipanggil Yanto ini. Dia harus menyelesaikan pendidikan S1 secepat mungkin, dan segera membuktikan kepada bapaknya, bahwa pilihannya tidak salah. Setelah diwisuda sebagai sarjana pertanian tahun 2012, Yanto langsung pulang ke desanya untuk bergulat dengan lumpur sawah, menjadi petani. “Tahun 2013 saya mulai total menjadi petani dan menggarap lahan sendiri, tanpa bantuan orang tua,” ungkap anak dari Jinawan dan Muramsi ini.

Ilmu pertanian yang dipelajarinya sangat menunjang profesi yang ditekuni Yanto. Hasil panen beberapa komoditas di lahannya meningkat. Dia menerapkan tanam bergilir atau rotasi tanam dengan pola padi-padi-hortikultura. “Rotasi tanam bertujuan untuk mengurangi intensitas serangan hama dan penyakit, serta mampu membentuk ekosistem mikro yang stabil,” jelasnya. Hortukultura yang ditanam di lahannya ada beberapa macam, di antaranya adalah melon, semangka dan bawang merah.

Yanto tidak pelit ilmu, keberhasilan panen di lahannya ditularkan pada petani lain di desanya. Dia pun berbagi ilmu, utamanya mengenai pemupukan dan pengendalian hama maupun penyakit. “Teman-teman petani di sini sudah memahami pentingnya pemupukan berimbang. Dengan pemupukan berimbang, panen bisa meningkat signifikan. Untuk padi misalnya, bisa panen 10 ton per hektar merupakan hal yang lumrah. Bahkan ada yang panen 11,5 hingga 12 ton per hektar,” jelasnya.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini mengakui, rata-rata tingkat pendidikan masyarakat di desanya tidak begitu tinggi. Dari semua teman seangkatan  yang sarjana hanya dua orang, dia salah satunya. Yang terjun menjadi petani bisa dihitung dengan jari, sebagian besar mencari kehidupan di kota. “Menurunnya minat masyarakat untuk menjadi petani, justru menjadi peluang usaha buat saya. Kemungkinan berhasilnya lebih besar karena pesaing tidak banyak,” katanya.

Konsistensinya dalam menekuni usaha pertanian tidak sia-sia. Selain bertani, Yanto  mengembangkan usaha dengan menjadi pengepul gabah dan membuka kios pertanian. Dari usahanya tersebut dia bisa membangun rumah, dan membeli mobil. “Bapak yang dulu menentang keputusan saya, akhirnya bangga dengan profesi yang saya geluti,” ucapnya tanpa nada jumawa. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *