, , , , ,

Memasuki Musim Tanam Oktober-Maret, Waspadai Serangan Tikus, Blas, dan Kresek

(foto: Made Wirya)

Para petani di beberapa wilayah sentra padi di Indonesia sudah mulai menampakkan aktivitas. Mereka menyambut musim tanam pada Oktober 2017 – Maret 2018, apalagi di beberapa daerah hujan juga sudah mulai turun. Menurut Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Suwandi, seperti dikutip dari Harian Kompas, Minggu (8/10/2017), sejumlah daerah, sekarang sudah memasuki musim hujan. Petani siap menyemai benih dan mengolah tanah untuk tanam padi.

“Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah provinsi mulai memasuki musim hujan di bulan Oktober-November. Misalnya, di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Jambi, Lampung, Jawa Barat, DIY, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali,” ujar Suwandi.

Selain itu, wilayah Indonesia bagian Timur yang juga memasuki musim tanam adalah Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara, semua wilayah Sulawesi, Papua Barat dan Papua. Menurut Suwandi, saat ini Kementan menargetkan luas tanam padi pada musim Okt-Mar lebih tinggi lagi dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Agar produksi panen bisa meningkat dan tidak terjadi penurunan produksi, bahkan gagal panen, petani harus memperhatikan beberapa hal. Mulai dari pengolahan lahan, pemilihan benih, pembibitan, pemeliharaan, hingga pasca panen. Yang dimaksud pemeliharaan pada budi daya padi, menyangkut pemupukan dan pencegahan/pengendalian hama dan penyakit.

Menurut pemerhati perlindungan tanaman Ir. Nasikin, MM, ada beberapa hama dan penyakit atau sering disebut dengan OPT (organisme pengganggu tanaman), yang perlu diwaspadai pada setiap musim tanam. “OPT tersebut  di antaranya adalah tikus, blas, dan kresek,” jelasnya. Untuk mencegah dan mengendalikan serangan OPT tersebut dibutuhkan strategi cerdas agar bisa efektif dan efisien.

Nasikin memaparkan, pengendalian hama tikus harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Karena perkembangan populasi tikus itu sangat cepat, jika kondisi lingkungan mendukung. Apabila pengendalian terlambat, sering terjadi outbreak serangan. “Jika populasi tikus masih di bawah ambang batas, petani masih bisa memanfaatkan predator alami, seperti burung hantu atau ular,” papar Nasikin.

Jika populasi tikus sudah di atas ambang batas,  pengendalian bisa  menggunakan rodentisida antikoagulan dengan bahan aktif brodifakum.  Saat ini sudah banyak produsen yang memproduksi dengan berbagai merk. “Rodentisida antikoagulan mampu menghambat koagulasi atau penggumpalan darah tikus  dan memecah pembuluh darah kapiler di dalam organ,” terang Nasikin.

Penyakit blas disebabkan oleh jamur pyricularia  grisea. Jamur ini menginfeksi semua fase pertumbuhan tanaman padi, mulai dari persemaian hingga menjelang panen. Untuk mencegah serangan blas, jarak tanam diusahakan tidak terlalu rapat atau dengan sistem jajar legowo. Sebab pertanaman yang terlalu rapat membuat suhu dan kelembaban yang membuat blas bisa berkembang dengan cepat.

“Selain itu petani dianjurkan mengaplikasikan pupuk urea dengan dosis sesuai yang dibutuhkan tanaman, dan  tidak menanam padi yang sama terus-menerus sepanjang tahun,” jelasnya. Jika blas sudah menyerang harus dikendalikan dengan fungisida dengan bahan aktif seperti trisiklazol, kasugamicyn, dan thiopanate metyl. Saat ini sudah banyak bahan formula dengan bahan aktif tersebut yang diproduksi, baik oleh produsen luar maupun buatan dalam negeri.

Sedangkan untuk penyakit kresek disebabkan oleh bakteri xanthomonas oryza. Penularan peyakit ini bisa melalui beberapa sebab. Di antaranya adalah akibat gesekan secara langsung dengan daun yang telah terinfeksi. Atau disebarkan oleh bekas jerami tanaman yang terinfeksi.

Untuk tindakan pencegahan prinsipnya sama dengan pencegahan pada penyakit blas. Padi yang terkena serangan kresek, ditandai dengan tepi daun berwarna keabu-abuan dan akhirnya menjadi kering. Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna, menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa.

Jika hal tersebut sudah terjadi maka harus dilakukan pengendalian dengan menggunakan bakterisida berbahan aktif streptomisin sulfat, oksitetrasiklin, trifloksistrobin, tebukonazol atau tembaga oksida. “Yang perlu diperhatikan dalam mengaplikasikan, baik fungisida maupun bakterisida adalah sesuai dengan prinsip 5 tepat; tepat jenis, tepat dosis, tepat campuran, tepat jumlah, dan tepat waktu,” pungkas Nasikin. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *