, , , ,

Pacu Jawi Sebagai Wujud Syukur Panen Padi di Sumatera Barat

(foto: Gigih S.)

Jika di Madura ada Kerapan Sapi, di Nagari Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat mengenal Pacu Jawi. Orang Sumatera Barat menyebut sapi dengan jawi, jadi Pacu Jawi maksudnya adu cepat sapi. Meskipun sama-sama adu cepat menggunakan 2 ekor sapi,  ada perbedaan antara adu cepat sapi di dua tempat tersebut. Jika Kerapan Sapi dilakukan di tanah  kering, Pacu Jawi sebaliknya, dilaksanakan di tanah persawahan yang berair.

Selain itu, 2 ekor sapi pada Pacu Jawi dilepas sendirian tanpa lawan. Konon aturan ini dibuat agar tidak terjadi taruhan yang kerap terjadi pada setiap balapan. Menurut Ketua Panitia Pacu Jawi Tahun 2017 Arisno Datuk Indomo, filosofi dari 2 ekor sapi pada Pacu Jawi adalah pemimpin dan rakyat bisa berjalan bersama. “Nilai tertinggi tidak diraih oleh peserta yang berlari tercepat, tetapi yang bisa berlari lurus hingga di titik finish. Berlari lurus di sini dimaksudkan agar kita bisa menjadi manusia yang baik,  hidup di jalan yang lurus,” ungkapnya.

Pacu Jawi sudah menjadi agenda tetap dan didukung penuh oleh Dinas Pariwisata Kab. Tanah Datar. Diadakan bergilir di 4 Kecamatan di Kabupaten Tanah Datar yaitu, Kec. Pariangan, Rambatan, Limo Kaum dan Sungai Tarab. “Biasanya Pacu Jawi dilaksanakan selama sebulan penuh, dan diikuti oleh lebih kurang 80 pasang sapi. Tiap kecamatan biasanya mengadakan setiap hari Sabtu selama empat minggu berturut-turut. Pada minggu ke empat merupakan acara puncak yang diawali dengan acara adat dan sapi yang akan berlaga yang dihias,” jelas lelaki yang juga menjadi tokoh masyarakat Jorong Padang Panjang Nagari pariangan tersebut.

Semula acara ini hanya dihadiri oleh masyarakat setempat dan beberapa wisatawan dari luar Provinsi Sumatera Barat. Tapi setelah maraknya media sosial ditunjang dengan semakin banyaknya penghobi foto grafi, Pacu Jawi semakin dikenal luas. Setiap kali acara dilangsungkan tidak kurang dari  3000 penonton hadir. Selain masyarakat lokal,  wisatawan domestik dan mancanegara ikut menyemarakkannya.

Para fotografer banyak memburu momen ketika air bercampur lumpur terpercik saat sapi dan jokinya lewat. Memang hasil jepretan mereka, terlihat sangat dramatis. Baik yang amatir dan hanya diunggah di sosial media, maupun fotografer profesional untuk media maupun untuk kepentingan komersial.

Arisno mengungkapkan, untuk menjadi joki tidak diperlukan persyaratan khusus. Seseorang yang menjadi joki harus punya keberanian dan bisa menjaga keseimbangan saat ditarik spontan oleh sapi. Kebanyakan joki berasal dari kalangan petani setempat, dengan umur antara 25 – 50 tahun. Mereka harus menjaga harmonisasi laju sapinya di jalur sepanjang 80 – 120 m dengan lebar 25 – 40 m, agar bisa seiring sejalan

Sapi yang masuk dalam kriteria penilaian, harganya akan melonjak drastis. Jika sapi biasa berharga 15-20 Juta, sapi yang mampu dipacu dengan performa bagus harganya bisa 40 sampai 50 Juta.  “Sapi dengan penampilan bagus memang tidak mendapat hadiah dari panitia. Tapi  harganya menjadi mahal dan pemiliknya mendapat prestise tinggi di kalangan penghobi Pacu Jawi,” terang Arisno. (Gigih S./Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *