, , , , ,

Mengendalikan Tikus Sawah dengan PHTT

Tikus sawah (rattus argentiventer) merupakan hama utama tanaman padi dari golongan mamalia. Binatang pengerat ini dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi mulai dari saat pesemaian padi hingga padi siap dipanen. Tikus bahkan menyerang padi ketika sudah di dalam gudang penyimpanan. Menurut data dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan tahun 2003, luas kerusakan akibat serangan tikus sawah di Indonesia, rata-rata mencapai lebih dari 100.000 ha tiap tahunnya.

Berdasarkan penelitian Rochman (1992), satu ekor tikus mampu merusak rata-rata 283 bibit padi dalam satu malam. Pada stadium padi anakan (vegetatif) merusak anakan padi rata-rata 79 batang, dan pada stadium padi bunting 103 batang, serta pada stadium padi bermalai 12 batang per malam. Tikus sawah diketahui lebih suka menyerang tanaman padi yang sedang bunting, sehingga pada umumnya padi stadium bunting akan mengalami kerusakan yang paling tinggi.

Menurut Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi), ada beberapa penyebab mengapa hama tikus selalu menjadi masalah pada setiap musim tanam. Pada umumnya pengendalian tikus dilakukan setelah terjadi serangan. Lemahnya pemantauan, menyebabkan tidak diantisipasinya  ledakan populasi. Di samping itu, pengendalian tikus tidak didukung dengan alat dan sarana yang memadai, dan tidak berkelanjutan.

Untuk mengendalikan serangan tikus sawah agar tepat sasaran,  dibutuhkan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu). PHTT merupakan strategi pengendalian hama yang dirancang secara terpadu untuk mengurangi populasi hama secara tepat. Strategi ini dilaksanakan melalui beberapa tahap yang efektif dan efisien sesuai aturan

Strategi PHTT diprioritaskan pada awal musim tanam, dilakukan petani secara bersama-sama dan terkoordinir. Aktivitas tersebut dilakukan dalam skala hamparan, intensif, dan berkelanjutan dengan menerapkan kombinasi teknik pengendalian yang sesuai. Untuk tikus lokal, pengendalian intensif dilakukan sebelum periode aktif perkembangbiakan. Hal tersebut dilakukan bertepatan dengan stadia padi generatif.

Teknis pelaksanaan pengendalian tersebut berupa kultur teknis, sanitasi habitat, fumigasi, dan penerapan TBS (Trap Barrier System). Pelaksanaan pengendalian secara kultur teknis diintegrasikan dengan budidaya padi. Metode ini bertujuan mengkondisikan lingkungan sawah, agar kurang mendukung  kelangsungan hidup dan reproduksi tikus sawah. Beberapa teknik yang dapat dilaksanakan meliputi; tanam panen serempak, pengaturan pola tanam, dan pengaturan jarak tanam (jajar legowo).

Sanitasi habitat dilakukan terutama pada awal tanam, meliputi pembersihan gulma, semak, tempat bersarang dan habitat tikus. Habitat tikus yang dimaksud adalah; batas perkampungan, tanggul irigasi, pematang, tanggul jalan, parit dan saluran irigasi. Pematang dibuat dengan tinggi dan lebar kurang dari 30 cm,  untuk mengurangi tempat tikus berkembang biak. Dengan sanitasi habitat, tikus akan kehilangan tempat berlindung sementara, tempat membuat lubang sarang, dan pakan alternatif. Sanitasi tanggul irigasi dimaksudkan untuk menghilangkan tempat favorit tikus bersembunyi, dan membuat sarang.

Fumigasi atau pengemposan masal dilakukan serentak pada awal tanam, melibatkan seluruh petani dengan menggunakan alat pengempos tikus. Fumigasi terbukti efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubang. Untuk memastikan tikus mati, tutup lubang tikus dengan lumpur setelah diempos. Penutupan lubang tikus juga dimaksudkan agar infrastruktur pertanian (tanggul, pematang, dan sistem irigasi) tidak rusak. Serta membuat tikus sawah yang datang kemudian, tidak menggunakan lubang tersebut sebagai sarangnya. Fumigasi dilakukan sepanjang pertanaman, terutama pada padi stadia generatif.

Trap Barrier System (TBS), dilakukan terutama untuk daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak. TBS terdiri atas tanaman perangkap untuk menarik kedatangan tikus, yaitu petak padi 25m x 25m yang ditanam 3 minggu lebih awal. Pagar plastik untuk mengarahkan tikus agar masuk perangkap, berupa plastik atau terpal setinggi 70-80cm. Plastik atau terpal tersebut diberi ajir bambu setiap 1m dan ujung bawahnya terendam air.  Bubu perangkap untuk menangkap dan menampung tikus, berupa perangkap dari ram kawat 20cm x 20cm x 40cm dipasang pada setiap sisi TBS.

Jika populasi tikus sudah di atas ambang batas,  pengendalian bisa  menggunakan rodentisida antikoagulan. Rodentisida ini mampu menghambat koagulasi atau penggumpalan darah tikus  dan memecah pembuluh darah kapiler di dalam organ. Pengumpanan dengan menggunakan rodentisida  dilakukan terutama pada saat awal tanam atau bera, sesuai dosis anjuran. Umpan ditempatkan di habitat utama tikus. seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang besar, atau tepi perkampungan. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *