, , , , , ,

Mengubah Sampah Menjadi Berkah

(foto: Dadang Subianto)

Hingga saat ini permasalahan sampah di Indonesia masih belum  bisa diselesaikan dengan baik. Volumenya semakin hari semakin meningkat. Pada tahun 2016, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 64 juta ton per tahun.  Pada tahun 2019, diperkirakan produksinya meningkat menjadi 67,1 juta ton per tahun. Baik sampah non organik maupun organik.

Sampah organik meskipun tidak berbahaya, jika tidak ditangani dengan baik bisa menggangu kesehatan dan pandangan mata. Sebaliknya jika tahu bagaimana cara meman-faatkannya, sampah organik bisa mendatangkan keuntungan.

Bagaimana cara mengolah sampah organik? Tentu saja bukan dengan cara dibakar. Sebab, membakar sampah organik  bisa menyebabkan polusi udara. Dengan mengolahnya menjadi pupuk kompos, bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah.

Untuk mengubah sampah organik menjadi kompos dibutuhkan proses dekomposisi, dengan memanfaatkan mikroorganisme, baik jamur maupun bakteri.  Saat ini sudah banyak diproduksi bio dekomposer, dengan berbagai merek dan kemasan. Salah satunya adalah Petro Gladiator.

Petro  Gladiator merupakan bio dekomposer yang mengandung 4 mikroba, bermanfaat untuk mempercepat proses dekomposisi, dan meningkatkan kandungan bahan organik. Dekomposer produksi Petrokimia Gresik ini mampu mengendalikan mikroba dan benih gulma yang merugikan, dengan panas yang dihasilkan dari proses pengomposan. Petro Gladiator diproduksi dalam bentuk serbuk dan cair, masing masing dikemas dalam kantong plastik dan botol.

Petro Gladiator sangat mudah diaplikasikan. Cukup dengan 2 hingga 5 kilogram Petro Gladiator serbuk, atau  2 hingga 5 liter Petro Gladiator cair, untuk 1 ton bahan organik. Pada prinsipnya, aplikasi untuk produk Petro Gladiator, baik yang serbuk maupun yang cair adalah sama. Yaitu dengan 4 langkah mudah; Tumpuk, Siram, Aduk, dan Peram.

Pertama-tama  tumpuk sampah organik, akan lebih baik jika dicacah terlebih dahulu.  Kemudian siram Petro Gladiator cair, atau tabur jika menggunakan Petro Gladiator padat, setelah itu aduk hingga rata. Selanjutnya ditutup dengan lembaran plastik atau terplas untuk mempertahankan kelembaban.

Langkah berikutnya adalah melakukan pemeraman. Pada proses pemeraman, kelembaban harus dipertahankan  antara 40 hingga 60 %, dengan cara disiram air. Aerasi dapat dilakukan dengan proses pembalikan seminggu sekali. Jika kita tidak ingin repot-repot melakukan pembalikan, bisa dengan teknik ventilasi dengan menggunakan bambu atau paralon yang dilubangi.

Bambu atau paralon tersebut kemudian dipasang, baik dalam posisi horisontal, vertikal, maupun diagonal pada tumpukan kompos. Proses pengomposan tersebut berlangsung antara 2 hingga 4 minggu, tergantung jenis sampah organiknya.

Kompos yang sudah jadi dan siap digunakan, berwarna hitam kecoklatan, dengan tekstur remah, dan aromanya mirip tanah. Kompos yang baik aromanya tidak menyengat, dan siap digunakan sebagai pupuk organik atau media tanam.

Petro Gladiator bisa juga untuk diaplikasikan pada jerami padi di lahan setelah panen. Seperti kita ketahui, hingga saat ini masih banyak petani yang membakar jerami padi sisa panen. Padahal jerami mengandung unsur hara K dan Si yang cukup tinggi. Dengan mengomposkan jerami, maka sebagian unsur hara yang terkandung dalam jerami dapat dikembalikan ke dalam tanah.

Pengomposan jerami padi di lahan cukup dengan 2 hingga 5 liter Petro Gladiator cair untuk tiap hektarnya. Campurkan Petro Gladiator cair tersebut dengan 200 sampai dengan 500 liter air.  Semprotkan secara merata pada jerami padi tersebut, kemudian digilas dengan traktor. Setelah itu dibiarkan dalam kondisi lembab dan tidak tergenang air minimal  selama 7 hari.

Selain itu, Petro Gladiator juga bisa untuk membuat pupuk kompos dari berbagai sampah organik lainnya. Dari mulai sampah organik rumah tangga, sampah organik di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), sampah daun atau rumput, limbah pertanian, limbah perkebunan, hingga limbah peternakan. (Made Wirya/Warisnu)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *