Tidak Ada Cabai di Majapahit

Banyak, bahkan sangat banyak jenis makanan dari berbagai daerah di Indonesia yang menggunakan cabai (capsicum sp.) sebagai bumbu penyedap. Ya, cabai memang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita. Tapi cabai bukanlah komoditas pertanian asli Nusantara. Buah pedas ini baru masuk ke Indonesia pada awal abad XVI.

Sudah sejak ribuan sebelum Masehi manusia  mengenal rasa pedas cabai. Hal ini mengacu pada hasil penelitian Linda Perry, seorang arkeobiologi di Smithsonian Institution’s National History Museum, Washington. Dari hasil penelitian tersebut, terungkap bahwa cabai telah dimakan manusia di Ekuador bagian Selatan sejak 6.250 tahun lalu.

Dari hasil beberapa penelitian terungkap  bahwa cabai berasal dari Amerika Selatan. Christophorus Columbus lah yang mengenalkannya ke masyarakat Eropa pada abad XV. Negara di Eropa yang pertama menggunakan cabai sebagai bumbu masak adalah Spanyol. Penyebarannya yang relatif cepat, membuat hampir seluruh negara di Eropa mengenal cabai sebagai rempah-rempah. Kemudian, Spanyol dan Portugis menyebarluaskan cabai ke Asia, termasuk Indonesia.

Diperkirakan cabai masuk ke Indonesia, ketika Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Pada 22 Juni 1527 dilakukan perjanjian antara Portugis dengan penguasa Sunda, Prabu Surawisesa. Hal ini dilakukan agar Portugis ikut menjaga Pelabuhan Sunda Kelapa dari ancaman Demak, dengan membangun benteng pertahanan.  Pada tahun berikutnya, Portugis mengirimkan kapal yang berisi barang-barang berharga untuk dipersembahkan kepada raja. Kemungkinan, salah satu dari barang tersebut adalah bibit cabai.

Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa pada era Kerajaan Majapahit, cabai masih belum dikenal. Orang-orang Majapahit kala itu masih belum menggunakan cabai sebagai bumbu penyedap. Hal ini mengingat Majapahit runtuh pada sekitar tahun 1478 (Sirna Ilang Kertaning Bhumi). Tapi bukan berarti pada saat itu orang-orang Majapahit tidak mengenal rasa pedas.

Menurut Hedi Hinzler, saat itu sudah ada ajaran Sad Rasa atau enam rasa;   manis, asin, asam, pedas, pahit dan sepat. Hidangan baru terasa nikmat kalau mengandung enam rasa tersebut, dengan perimbangan yang harmonis. “Rasa pedas (pedas atau katuka), bisa muncul dengan memadu lada hitam, lada putih dan jahe, seperti yang juga dilakukan orang di India. Percampuran merica dengan jahe memang membuat masakan tertentu berasa pedas,” jelasnya.

Ada berbagai jenis makanan dengan cita rasa pedas yang sudah ada sejak era Jawa kuno. Menurut Prof Dr Timbul Haryono, Guru Besar Arkeologi Universitas Gadjah Mada,  makanan-makanan tersebut di antaranya adalah urap dan pecel. Pada masa itu, juga sudah ada rawon, dendeng, lalapan, tape ketan, dodol, wajik, dan minuman serbat. Rasa pedas pada minuman serbat berasal dari jahe dan kencur. Minuman hangat dan pedas ini  juga menggunakan  kemiri dan adas pulowaras

Urap merupakan perpaduan beberapa sayur yang dibumbui parutan kelapa dengan cita rasa pedas. Sayuran ini disebutkan  dalam Prasasti Linggasuntan yang berangka tahun 929 Masehi yang dibuat pada masa Kerajaan Medang.

Makanan dengan cita rasa pedas lainnya adalah Pecel.  Makanan ini dibuat dari racikan berbagai sayuran yang diguyur saus bumbu kacang. Sayuran yang biasa dipakai sebagai bahan utamanya adalah bayam, atau sawi, atau kangkung, dicampur dengan kacang panjang, taoge, dan kembang turi. Pecel disebut dalam dalam Kitab Ramayana versi saduran Jawa. (Made Wirya).

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *