, , , , ,

Petroganik Terbukti Menyuburkan Tanah

(foto: Dadang Subiyanto)

Salah satu indikator menurunnya kesuburan tanah adalah semakin minimnya kandungan C-organik tanah.  Dari hasil penelitian di 30 lokasi tanah sawah di Indonesia yang diambil secara acak, menunjukkan bahwa 68% di antaranya mempunyai kandungan C-organik tanah   kurang dari 1,5% dan hanya 9% yang lebih dari 2% (Pramono et al. 2002). Data tersebut mengambarkan bahwa kondisi lahan sawah di Indonesia telah mengalami penurunan tingkat kesuburannya, sebab tanah bisa dikatakan subur apabila mengandung bahan organik minimal 5 %.

Menurunnya kesuburan tanah tersebut juga dialami oleh sebagian besar lahan di Kabupaten Kediri, di mana kandungan C-organik tanahnya kurang dari 2%. Hal ini tentu saja berdampak pada menurunnya hasil panen dari berbagai komoditas, seperti yang dialami oleh petani dari Kecamatan Purwoasri dan Gurah pada tahun 2013. Hal ini disampaikan oleh Joko Sulistiyo (39), petani dari Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah. “Pada saat itu, saya dan teman-teman sesama petani merasakan hasil panen kami semakin tahun semakin berkurang, meskipun  pupuk kimia  jumlahnya ditambah,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Isnadi, (40) petani dari Desa Dayu, Kecamatan Purwoasri, lelaki dengan 2 anak ini mengatakan bahwa anakan padi miliknya semakin lama semakin sedikit, dari tahun ke tahun.  Dari 13 anakan per batang padi, turun menjadi 7 anakan per batang pada tahun 2013. Hal ini berakibat pada hasil panen yang semakin turun hingga menjadi 7 ton per hektar, bahkan pernah mencapai hanya 6 ton per hektar. “Tentu saja berimbas pada penghasilan saya, dan bukan hanya saya saja yang mengalaminya, hampii semua petani di Kecamatan Purwoasri mengalami hal yang sama,” ungkapnya.

Kondisi hasil panen padi yang semakin turun juga pernah dialami oleh Fajar Bagus Sunarno (40), petani jagung dari Desa Belor, Kecamatan Purwoasri. Panen jagung di lahannya semakin turun hingga mencapai 7 dan 6 ton per hektar. “Waktu itu saya mulai memutar otak, bagaimana caranya agar panen bisa meningkat. Sebenarnya saya menyadari ini disebabkan karena tanah kami yang sudah tidak subur lagi, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan,” paparnya.

Kegelisahan petani di 3 kecamatan tersebut, ditangkap oleh Petrokimia Gresik dengan mengirimkan petugas lapangan. Mobil uji tanah milik perusahaan pupuk terlengkap di Indonesia itu pun didatangkan. Dari hasil uji tanah di daerah tersebut ternyata bahan  organiknya rendah, sehingga perlu diberikan pupuk organik. “Kami memproduksi pupuk organik dengan merek dagang Petroganik, yang mengandung C-organik minimal 15 %, dengan PH mendekati netral. Dengan demikian Petroganik sangat tepat untuk tanah yang kesuburannya menurun. Disamping itu, dengan PH mendekati netral, sangat baik untuk mengatasi permasalahan tanah yang masam,” papar GM Pemasaran dan Logistik Petrokimia Gresik, Kadek K. Laksana.

Setelah dilakukan demplot (demonstration plot) di beberapa lokasi dengan menggunakan Petroganik, panen berbagai komoditas meningkat signifikan. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya kesuburan tanah yang ditandai dengan peningkatan C-organik . “Dengan bukti-bukti peningkatan hasil panen, tidak berlebihan kiranya jika saya katakan bahwa masyarakat petani di 2 kecamatan, Gurah dan Purwoasri, semakin mengenal bahkan fanatik dengan Petroganik,” ungkap Kadek. Hal ini sesuai dengan pengakuan beberapa petani di ke dua kecamatan tersebut, seperti yang dikatakan oleh Sarjono, Kepala Desa Dayu, Kecamatan Purwoasri. “Dulu mayoritas petani di desa saya, hampir tidak mengenal Petroganik. Bahkan mereka masih belum sadar akan pentingnya pupuk organik untuk kesuburan tanah,” aku orang nomer satu di Desa Dayu yang merangkap petani tersebut. Sarjono menambahkan, saat ini semua petani di Kecamatan Purwoasri mengenal Petroganik.  (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *