Evolusi Pertanian dari Zaman Mesolitikum Hingga Pertanian Modern

Ilustrasi aktivitas pertanian pada masa Neolitikum. (sumber: www.imgarcade.com)

Sejak kapan manusia mulai membudidayakan komoditas pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Jawaban untuk pertanyaan tersebut bisa beragam, sebab ada beberapa teori yang mengemukakannya. Sebelumnya, manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berburu, menggunakan peralatan bantu yang sangat sederhana.  Di samping itu mereka juga mengumpulkan makanan dan meramunya. Ada teori yang mengatakan bahwa manusia mulai bertani pada zaman Mesolitikum. Pada zaman  kehidupan Homo Sapiens tersebut, domestifikasi beberapa komoditas pertanian mulai dilakukan.

Ketersediaan biji-bijian dan polong-polongan sebagai penanda berakhirnya zaman es, mendorong manusia mulai mendomestifikasi komoditas tersebut. Mereka mulai berkumpul dan tinggal di sebuah wilayah, sehingga memunculkan perkampungan untuk pertama kalinya. Hal tersebut diperkirakan terjadi sekitar tahun 11.000 Sebelum Masehi (SM), di mana bumi lebih hangat dan mengalami musim kering yang lebih panjang. Kondisi ini menguntungkan bagi perkembangan tanaman semusim, yang dalam waktu relatif singkat bisa dipanen.  Hasil panen berupa biji-bijian atau umbi-umbian akan mereka konsumsi, selebihnya akan disimpan untuk persediaan.

Berbagai komoditas yang pertama kali ditanam manusia dari hasil penelitian Vishnu Mitre, malah lebih spesifik lagi. Dia mengemukakan bahwa jawawut mutiara (pearl millet), sorgum, wijen, kurma, dan kacang kacangan, adalah jenis tanaman yang pertama dibudidayakan manusia. Tapi ada peneliti lain yang mengatakan, pohon ara lah yang pertama kali dibudidayakan oleh manusia. Hal tersebut diperkirakan terjadi sekitar tahun 10.000 SM – 9.000 SM. Baru setelah itu manusia menanam gandum, buncis, kacang polong, labu-labuan, gandum, padi, kentang, jagung, dan kurma.

Pada saat itu sistem irigasi masih sangat sederhana, dan hanya berharap pada air hujan semata. Karena kondisi tanah masih subur, manusia masih belum berpikir untuk melakukan pemupukan. Mereka masih berharap pada kelimpahan hara yang disediakan alam. Setelah beberapa kali ditanami sehingga tanah sudah mulai berkurang kesuburannya, ditandai dengan turunnya hasil panen, mereka mencari lokasi baru yang masih subur. Sehingga dikenal dengan pertanian ladang berpindah.

Pada perkembangan selanjutnya manusia mulai bisa membuat berbagai peralatan,  seperti kapak genggam yang sudah halus, batu penggiling (pipisan), dan kapak persegi. Peneliti yang pertama kali memberi nama kapak persegi adalah  Von Heine Geldern. Kapak persegi yang berukuran besar, diperkirakan berfungsi sebagai cangkul.  Untuk kapak persegi yang berukuran kecil peruntukannya untuk mengolah kayu. Kapak batu tersebut diberi pegangan dari kayu yang diikat dengan akar pohon atau kulit binatang.

Kapak persegi selain dibuat dari batu api juga ada yang dari batu chalcedone. Mengingat batu-batu tersebut mempunyai tingkat kekerasan tinggi dan bisa menjadi tajam.   Beberapa daerah di Indonesia tempat ditemukannya kapak persegi adalah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Kemungkinan pada saat itu kapak persegi sudah menjadi barang yang diperjualbelikan dengan sistem barter, sehingga bisa tersebar di beberapa wilayah.

Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk bertambah sehingga kebutuhan bahan makanan semakin banyak. Sistem pertanian yang sudah berjalan menjadi tidak efektif lagi, sehingga manusia harus mencari cara agar bisa bertahan hidup.  Maka dimulailah sistem pertanian menetap dan mempertahankan kesuburan tanah dengan pemupukan.  Menurut H.R Van Heekeren, pupuk tersebut berupa abu dari pohon dan semak belukar yang ditebang dan dibakar.

Pertanian mulai berkembang pesat pada sekitar tahun 700  SM. Dengan berkembangnya teknologi budidaya pertanian di Mesopotamia.  Orang-orang Sumeria, Babilonia, Asiria, dan Cahldea,  mengembangkan sistem pertanian yang kompleks dan terintegrasi. Hal tersebut ditunjukkan dengan sisa teras-teras, taman-taman dan kebun-kebun yang beririgasi. Sistem irigasi tersebut  mengairi area pertanian seluas 10.000 mil persegi, dan mampu memenuhi kebutuhan  pangan untuk 15 juta jiwa.

Berkembangnya teknologi pertanian dari masa ke masa tidak lepas dari upaya manusia agar bisa bertahan hidup. Seiring dengan ledakan jumlah populasi setelah berakhirnya Perang Dinia II, membuat meningkatnya kebutuhan pangan. Di sisi lain ledakan penduduk juga membuat lahan pertanian beralih fungsi menjadi pemukiman. Maka manusia membuat terobosan di bidang pertanian, salah satunya  dengan cara intensifikasi. Cara ini meliputi pengolahan tanah yang baik, irigasi yang teratur, pemilihan bibit unggul, pemberantasan hama dan penyakit, serta pemupukan. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *