Dari Bajak Kayu Era Mesopotamia Ke Traktor Modern

Ilustrasi petani Mesir membajak lahan pada tahun 1200 SM (sumber: www.thinglink.com)

Para petani muda yang bergelut dengan lumpur sawah saat ini, hanya mengenal alat bajak mekanis untuk mengolah lahan. Mereka tidak banyak yang tahu, para petani terdahulu menggunakan bajak dengan teknologi yang masih sangat sederhana. Mungkin sebagian masih sempat menyaksikan sisa-sisa bajak masa lalu. Tapi sebagian besar petani masa kini, sudah menggunakan bajak yang digerakkan oleh tenaga mesin berbahan bakar minyak bumi .

Ada banyak ragam bajak mekanis yang diproduksi oleh berbagai pabrikan, dengan beberapa kelebihan yang ditawarkan. Sehingga para petani dimudahkan untuk mengolah berbagai karakter tanah di lahan mereka. Dari mulai tanah yang lembut hingga keras berbatu, dengan waktu pengerjaan lebih singkat dibanding dengan bajak tradisional. Akan tetapi, bajak modern tidak datang dengan tiba-tiba. Alat bajak mengalami evolusi dalam kurun waktu ribuan tahun.

Manusia mulai mengolah lahan dengan menggunakan bajak, diperkirakan sejak 6.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Diperkirakan alat untuk membalik  dan menggemburkan tanah tersebut, merupakan alat pertanian yang paling tua.  Ada teori yang menyatakan bahwa teknologi bajak diperkenalkan pada era Mesopotamia, dan digunakan di lahan yang terbentang di antara sungai Tigris dan Eufrat. Semula bentuk bajak sangat sederhana, terbuat dari kayu dan hanya ditarik sepenuhnya  oleh manusia. Kemudian pada sekitar 2.000 tahun SM, petani Mesir mulai menggunakan sapi untuk menarik bajak.

Bajak dari besi baru dikenal pada sekitar 2.000 tahun yang lalu di India dan di Cina. Di Cina sendiri bajak dibuat dalam 2 jenis, bajak dengan bahan kayu dengan material besi untuk mata bajaknya, dan bajak yang keseluruhannya dari besi. Bajak tersebut digerakan oleh sapi atau kerbau. Bajak yang menggunakan roda ditemukan belakangan setelah sekitar seratus tahun kemudian di Italy. Pada abad 15 muncul bajak beroda dilengkapi dengan coulter dan moldboard yang berguna sebagai pemotong.

Mekanisasi pertanian dimulai dari ditemukannya traktor bertenaga uap pada  abad 19, untuk membajak lahan. Benjamin Holt  membuat mesin traktor bertenaga uap pertama yang dijuluki “Old Betsy” pada tahun 1890. Traktor temuan Holt ini mampu memanen ladang luas dan bisa berhemat  seperenam biaya dibanding bajak yang  ditarik kuda. Disusul kemudian penciptaan traktor bertenaga uap oleh John Froelich, pada tahun 1892.

Pada perkembangan berikutnya, traktor tenaga uap berkembang menjadi traktor berbahan bakar bensin, kerosene.  Sampai akhirnya tahun 1893 Rudolf Diesel menemukan mesin dengan bahan bakar yang lebih efisien, yang dikenal dengan mesin diesel. Maka traktor pun banyak menggunakan mesin berbahan bakar solar tersebut hingga saat ini. Penemuan bajak bermesin tersebut membuat kerja petani menjadi semakin mudah. Pekerjaan di lahan-lahan dengan hamparan yang luas bisa dikerjakan dengan lebih cepat dan efisien.

Dengan maraknya mekanisasi pertanian, bukan berarti pertanian dengan menggunakan peralatan tradisional ditingalkan begitu saja. Di beberapa daerah masih ada petani yang masih menggunakan bajak yang ditarik sapi atau kerbau. Seperti misalnya di Kecamatan Windusari, Magelang. Seperti dikutip dari Radar Jogja (22/5/15), petani di kecamatan tersebut ada yang  masih belum menggantikan bajak masa lalu dengan mesin traktor. Menurut Muhdi (52), Warga Dusun Ngadigunung, Windusari, membajak menggunakan sapi menjadikan tanah lebih subur dan bebas polusi. Karena kotoran sapi juga bisa menjadi pupuk yang sangat baik. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *