Petro Chick Solusi Cerdas Tingkatkan Produksi Unggas

Harga pakan untuk unggas yang fluktuatif dan cenderung naik, yang salah satunya dipicu oleh kenaikan harga jagung di pasar internasional, membuat  Yudi Aminudin (52 ) dan kawan-kawannya sesama peternak ayam menjadi resah.  Bagaimana tidak, dengan kenaikan harga pakan tersebut tentu saja akan menambah beban biaya produksi. Belum lagi dengan serangan Avian Influenza, atau sering disebut dengan flu burung, penyakit yang disebabkan oleh sejenis virus yang menginfeksi unggas. “Untuk mengatasi hal tersebut, saya harus melakukan langkah-langkah antisipatif. Misalnya saja dengan menggunakan asupan alternatif dengan bahan yang lebih murah, atau dengan menekan konsumsi pakan,” ujar lelaki yang tinggal di desa Ngunut, Kecamatan Babadan, Ponorogo tersebut.

Tentu saja dengan mengurangi konsumsi pakan, akan berimbas pada produktivitas, di mana bobot ayam pedagingnya menjadi berkurang. Jika bobot berkurang tentu saja berpengaruh pada harga jual, dan ini akan mengurangi penghasilannya. Hal ini diungkapkan Yudi Aminudin ketika diminta komentarnya tentang dampak yang ditimbulkan akibat naiknya harga pakan ternak. “Saya sudah menjadi peternak sejak awal tahun 2006, jadi sudah paham lah bagaimana masalah yang dihadapi peternak ayam. Itu kenapa saya harus melakukan terobosan agar tetap bisa bertahan dalam kondisi apapun,” papar peternak ayam pedaging dengan jumlah 10 ribu  ekor tersebut.

Suatu ketika, Yudi Aminudin membuka google untuk mencari informasi tentang bagaimana cara mengantisipasi kenaikan harga pakan dan penyakit flu burung. Dia menemukan satu kata ajaib  “probiotik” pada salah satu blog yang menulis tentang hubungan antara probiotik dengan pakan dan daya tahan tubuh ternak terhadap penyakit. “Waktu itu saya penasaran, dengan pengaruh probiotik  pada unggas. Maka saya mulai mencari informasi lebih banyak lagi dari berbagai sumber,” kenangnya. Setelah mendapatkan banyak informasi, Yudi mulai mengerti bahwa probiotik bermanfaat untuk menghemat pakan, mempercepat penambahan bobot ayam dan bisa membuat ayam lebih tahan terhadap serangan penyakit.

Setelah menelusuri dari berbagai sumber tentang produk-produk dengan kandungan probiotik yang sangat berguna untuk pertumbuhan unggas, Yudi Aminudin menemukan Petro Chick, probiotik khusus untuk unggas yang diproduksi PT Petrokimia Gresik. “Setelah mencoba Petro Chick, saya bisa melihat perbedaan yang cukup mencolok, bobot ayam secara keseluruhan bisa meningkat hingga 20 %. Disamping itu  Petro Chick juga  bisa menghemat pakan dan meningkatkan bobot ayam,” ungkapnya. Menurut Yudi meskipun jumlah pakannya tidak sebanyak sebelum ketika  menggunakan Petro Chick, pertumbuhan ayam peliharaannya tumbuh lebih cepat dan lebih berbobot, peningkatan bobotnya hingga 20 % lebih. “Dan kelebihan lain dari Petro Chick adalah, probiotik yang dikandungnya bisa menurunkan tingkat kematian ayam peliharaan saya,” pungkasnya.

Iwan Dhaniyarso, selaku General Manager Riset PT Petrokimia Gresik mengatakan bahwa yang menyebabkan kesehatan dan bobot unggas meningkat setelah mengomsumsi Petro Chick adalah, mikroba probiotik yang terkandung di dalamnya. “Petro Chick bisa memperkaya mikroflora alamiah dalam pencernaan. Populasi mikroflora yang seimbang dalam saluran pencernaan, mengoptimalkan kemampuan organisme dalam menyerap pakan yang diberikan. Hal ini lah yang membuat kemampuan menyerap pakan  menjadi optimal,”ungkapnya. Iwan Dhaniyarso juga mengungkapkan bahwa munculnya gagasan untuk membuat Petro Chick merupakan sebuah solusi dari permasalahan yang muncul dari peternak ungas, tentang kurang puasnya peternak unggas pada feed additive.

“Pemberian makanan tambahan berupa feed additive pada industri peternakan, akhir- akhir  ini kurang memuaskan karena mempunyai efek samping yang kurang baik, baik terhadap hewan ternaknya sendiri, maupun terhadap manusia yang mengonsumsi dagingnya,” papar Iwan Dhaniyarso.  Menurutnya,  Petro Chick sebagai  suplemen pakan pengganti feed additive, jika sering digunakan secara rutin  bisa dipakai sebagai alternatif untuk membatasi penggunaan antibiotik. “Dengan minimnya penggunaan antibiotik tersebut, bibit penyakit pada unggas yang resisten terhadapnya bisa dihindari,” ungkapnya. (Made Wirya/Rina Wijayanti)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *