Memanen Air Hujan

Musim hujan telah tiba, hampir seluruh wilayah di Indonesia mulai mendapatkan curahan air hujan. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) pada bulan Oktober-November tahun ini, 76 % wilayah Indonesia memasuki awal musim hujan. Sedangkan puncak musim hujan, diperkirakan akan terjadi pada Desember 2017-Februari 2018. Seperti diketahui bersama, curah hujan tinggi bisa mendatangkan berkah atau bisa pula musibah.
Hujan yang turun menjadi berkah bagi petani, mereka bisa membudidayakan berbagai komoditas pertanian. Dengan tercukupinya air, manusia bisa melangsungkan kehidupannya. Sebab air adalah kebutuhan dasar makhluk hidup. Tapi jika air hujan tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal, akan terbuang percuma. Bahkan dengan curah hujan yang tinggi, jika tidak dikelola dengan baik, niscaya akan menjelma air bah yang menyebabkan musibah bagi kehidupan.
Agar bisa menjadi berkah, manusia harus bisa mengelola air dengan sebaik-baiknya. Hal yang sering terjadi adalah kekurangan air ketika musim kemarau, terutama daerah-daerah yang sumber airnya kecil. Sebaliknya pada saat musim penghujan, air yang jatuh dari langit tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Bahkan menjadi air bah yang bisa menenggelamkan pemukiman, menghambat aktivitas penduduk, dan menjadikan area pertanian tidak produktif.
Menurut Ahli Hidrologi UGM, Dr. Ing. Ir. Agus Maryono dalam bukunya “Memanen Air Hujan”, sebenarnya hujan bukanlah penyebab utama banjir. Melainkan bagaimana cara kita mengelola air hujan, mulai dari daerah aliran sungai (DAS) hingga ke hilir. Diakui atau tidak, sebagian besar masyarakat kita tidak mengelola air hujan tersebut dengan baik. Memang mereka membuat drainase jalur cepat agar air hujan segera mengalir ke hilir. Tapi semakin baik drainase konvensional di suatu tempat, semakin besarlah kemungkinan banjir yang akan terjadi di bagian hilirnya. Sebaliknya akan semakin besar kemungkinan terjadinya kekeringan di bagian hulunya, saat datangnya musim kemarau.
Agus Maryono mengemukakan tentang konsep drainase ramah lingkungan, yang dikenal dengan drainase “TRAP”, akromin dari “tampung”, “resapkan”, “alirkan”, dan “pelihara”. “Drainase ini merupakan upaya mengelola air hujan dengan cara menampung, meresapkan, mengalirkan, dan memelihara air hujan. Tentu saja dengan tanpa gangguan aktivitas sosial, ekonomi, dan ekologi lingkungan yang bersangkutan,” jelasnya.
Menurut Agus memanen hujan merupakan bagian dari drainase ramah lingkungan pada bagian “tampung” dan “resapkan”. Air hujan ditampung untuk dipakai sebagai sumber air bersih dan perbaikan lingkungan hidup, juga diresapkan untuk mengisi air tanah. Efek memanen air hujan di antaranya ialah berkurangnya banjir dan kekeringan. Di samping itu bisa mengurangi masalah air bersih, mengurangi penurunan muka air tanah, dan mengurangi masalah lingkungan.
Lebih lanjut Agus menjelaskan seperti dikutip dari wawancara dengan Mongabay Indonesia, hujan adalah air yang paling bersih di dunia karena hasil destilasi air laut. Memanen air hujan itu maksudnya bagaimana pada saat hujan, air bisa ditangkap dan ditampung untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kebutuhan lain. Jika masih berlebih dimasukan ke tanah untuk mengisi air tanah. “Air hujan sebagai satu-satunya sumber air bersih manusia, saat ini mayoritas dibiarkan langsung mengalir ke laut karena resapan yang sudah sangat minim. Hutan di hulu sebagai penyimpan air bersih raksasa pun makin gundul karena aktivitas manusia,” paparnya.
Agus mengakui di Indonesia sudah mulai ada gerakan memanen air hujan, meskipun masih banyak yang belum berpikir mengenai hal tersebut. Mereka baru dalam tahapan melihat hujan yang turun dengan deras, belum berpikir bahwa air hujan punya potensi menjadi air bersih. “Butuh waktu lama untuk menyadarkan orang tentang air hujan. Gerakan restorasi sungai dan memanen air hujan tidak bisa dikerjakan orang per orang atau pemerintah saja. Urusan air itu, urusan kita bersama,” pungkasnya. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *