Prospek Komoditas Kakao

Luas lahan kakao (Theobroma Cacao) di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam beberapa puluh tahun terakhir. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan, sampai dengan tahun 2014 area perkebunan kakao tercatat seluas 1.719.087 ha, dengan total produksi 709.331 ton. Total luas lahan kakao tersebut, sebagian besar (87,4%) dikelola oleh rakyat. Selebihnya dikelola perkebunan besar negara (6,0%) dan perkebunan besar swasta (6,7%). Dengan produksi yang cukup yang tinggi tersebut, Indonesia menempati posisi tiga besar dunia sebagai negara ekportir kakao. Peringkat pertama diduduki Pantai Gading dan disusul oleh Ghana. Daerah penghasil kakao saat ini didominasi oleh lahan di Pulau Sulawesi (Sulsel. Sultra, Sulbar dan Sulut), sebanyak 65 %. Sisanya sebanyak 35 % tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, NTB, NTT, hingga Papua.
Peluang Indonesia untuk merebut pasar dunia sangat luas. Untuk dapat meraih peluang pasar tersebut diperlukan peningkatan produktivitas, penggunaan varietas unggul, dan penanganan gangguan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) di sektor on farm. Menurut Sindra Wijaya, Direktur Eksekutif AIKI (Asosiasi Industri Kakao Indonesia), Produktivitas tanaman kakao di Indonesia termasuk rendah, hanya 0,3 ton/hektar/tahun, padahal potensinya bisa mencapai 2 ton/hektar/tahun. Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan karena mayoritas umur kakao di Indonesia secara umum sudah mencapai umur 30 tahun. Hal ini harus diatasi dengan cara rehabiltasi dan peremajaan tanaman kakao
“Prospek pengembangan kakao masih sangat cerah, karena tingkat konsumsi kakao di beberapa negara Asia relatif masih rendah. Misalnya di Indonesia, India dan Cina, masih di bawah 1 kg/kapita/tahun. Sedangkan tingkat konsumsi di Eropa sudah mencapai titik jenuh sekitar 10 kg/kapita/tahun,” ungkap Sindra yang dikutip dari Majalah Greenola. Sindra mengungkapkan bahwa tiga negara yang disebut di atas mempunyai jumlah penduduk sekitar 2,7 milyar jiwa. Jika jumlah konsumsi kakao bisa meningkat 1 kg/kapita/tahun saja, akan ada demand tambahan sekitar 2,5 ton biji kakao/tahun.
Salah satu upaya Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produksi kakao adalah melalui Gerakan Nasional Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao atau sering disingkat dengan Gernas Kakao. Gerakan ini mulai dilakukan pada tahun 2009 dan telah melakukan rehabilitasi lahan kakao seluas 60.000 ha. Rehabilitasi tersebut dilakukan dengan cara sambung samping di 7 Propinsi dan 38 Kabupaten. Pada tahun 2010 dilaksanakan kegiatan rehabilitasi lahan seluas 28.613 hektar di 10 provinsi dan 38 kabupaten. Disusul pada tahun 2011 telah merehabilitasi lahan dengan luas 74.200 hektar di 13 provinsi dan 58 kabupaten. Kemudian pada tahun 2012 seluas 28.280 hektar di 9 provinsi dan 33 kabupaten. Sedangkan untuk tahun 2013 seluas 28.280 hektar di 5 propinsi dan 29 kabupaten.
Selain gerakan dalam skala nasional, di beberapa daerah juga melakukan upaya peningkatan produksi. Seperti yang dilakukan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur (Disbun Jatim), dengan program pengembangan, rehabilitasi, dan intensifikasi kakao. Intensifikasi dimaksud termasuk bantuan pupuk NPK kepada pekebun kakao di sentra kakao di Jawa Timur. Menurut data dari Disbun Jatim, sentra pertanaman kakao pada perkebunan rakyat di Jawa Timur seluas 32.010 hektar. Area tersebut tersebar di Kabupaten Madiun, Pacitan, Trenggalek, Blitar, Jember, dan Banyuwangi.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur Moch. Samsul Arifien mengungkapkan bahwa kegiatan intensifikasi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani kakao di Jawa Timur. “Di lain pihak kegiatan rehabilitasi tanaman dilakukan untuk memperbaiki tanaman yang tua atau rusak. Disamping itu kami juga berusaha untuk menumbuhkan sentra kakao baru di Jawa Timur,” papar Samsul. Kegiatan pengembangan kakao ini sangat diminati masyarakat karena harga komoditi yang dalam lima tahun ini relatif stabil, dan tidak mengenal musim berbuah. Teknik budidayanya pun relatif mudah sehingga banyak petani menanamnya di antara pertanaman yang telah ada sebelumnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *