Eko Setiawan Hidup Tenteram Menjadi Petani di Desa

Menjadi petani dan hidup di desa membuat hati Eko Setiawan (35) tenteram. Menurut  lelaki yang tinggal di Desa Kademangan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang ini, petani adalah profesi mulia. Karena di tangan petani lah kebutuhan perut masyarakat berasal. “Saya tidak punya basic pendidikan pertanian. Tapi kami tinggal di lingkungan masyarakat agraris, meskipun kedua orang tua saya berprofesi sebagai guru. Jadi,  pertanian bukan dunia yang asing buat saya,” katanya.

Eko sudah pernah bekerja dengan mengelola warung internet, yang pada awal tahun 2000’an menjamur di Indonesia, milik pengusaha di Malang. Saat itu sarjana elektro dari salah satu perguruan tinggi swasta di Malang ini bekerja sambil kuliah, untuk menambah uang jajan. “Saya belajar pada pemilik usaha tentang banyak hal, misalnya tentang bagaimana membedakan waktu bekerja dan saat bersenang-senang, ” kenangnya.  Dari pengalaman bekerja di tempat tersebut, Eko punya bekal menjadi wirausaha, yang kelak bermanfaat ketika menekuni profesi menjadi petani dan peternak.

Meskipun banyak mendapat ilmu dari tempat bekerja semasa kuliah, tapi bapak dua anak ini tidak ingin kerja ikut orang setelah diwisuda tahun 2008. Eko ingin bekerja dengan merdeka, berdaulat atas diri sendiri dengan menjadi petani. “Kalau jadi petani kan tidak ada yang memerintah, kita sendiri yang menjadi bos sekaligus anak buah. Berhasil tidaknya usaha pertanian, saya sendiri yang menentukan,” ujarnya berkredo. Pengenalan tentang ilmu bertani diperoleh dari kakeknya, petani yang mempunyai lahan cukup luas. Selain bertani, sulung dari dua bersaudara ini juga diajari memelihara sapi, sejak kelas 1 SMA.

Ilmu yang didapatnya di bangku kuliah, memang tidak berkaitan langsung dengan dunia pertanian. Tapi buat Eko hal tersebut tidak masalah, sebab ada banyak sarjana pertanian yang tidak menjadi petani. “Profesi itu, mana yang kita senangi dan menjadi passion, dilakukan dengan sepenuh hati, Insya Allah akan mendapatkan hasil yang bagus,” jelasnya. Orang tua Eko akhirnya menyetujui pilihan profesi anak sulungnya. “Saya tidak malu mengakui sebagai petani, ketika kumpul dengan teman-teman semasa sekolah. Ketika ditanya kerja di mana, ya saya jawab di sawah menjadi petani,” ujarnya.

Selain bertani padi, jagung, dan tebu, Eko juga membudidayakan bibit lele dan memelihara sapi. Saat ini dia punya 4 ekor sapi jenis Simental dan Limosin. Sebelumnya sapi-sapinya dipelihara dengan cara tradisional, tapi hasilnya kurang maksimal. “Kemudian saya bergabung dengan kelompok peternak sapi potong di Turen. Di situ saya diajari cara memilih bakalan, membuat pakan, dan manfaat probiotik untuk ruminansia. Ketika diaplikasikan ke sapi miliknya,  ada peningkatan bobot yang signifikan,” akunya.

Ke depan Eko ingin mengembangkan usaha pertanian dan peternakannya, dengan menyewa lahan dan menambah jumlah sapi potong. Dia berencana untuk mengajukan proposal pinjaman uang dengan bunga lunak sebagai modal usaha, ke  CSR (Corporate Social Resposibility) Petrokimia Gresik. Selain itu Eko juga ingin mengembangkan usaha pembenihan lele, dengan memperluas pasar hingga keluar Kabupaten Malang. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *