Membudidayakan Genjer Relatif Mudah dan Menguntungkan

(Foto: Ida Nopriyani)

Genjer merupakan tanaman rawa yang banyak tumbuh di perairan dangkal dan bisa berpotensi menjadi gulma di sawah. Sekilas bentuk tanaman yang sering dijadikan sayuran ini, mirip dengan enceng gondok, tapi genjer tidak mengapung. Tangkainya panjang dan berlubang, bentuk helainya bervariasi,  mahkota bunganya berwarna kuning dengan diameter 1,5 Cm. Meskipun berpotensi menjadi gulma di sawah,  genjer bisa menjadi komoditas pertanian yang menguntungkan.

Genjer biasanya diolah untuk urap-urap, tumis, pecel, atau langsung dikonsumsi sebagai lalapan. Tanaman ini sangat baik bagi kesehatan tubuh, selain mempunyai serat yang cukup tinggi genjer juga mengandung kalsium sebesar 62 mg untuk setiap 100 mg. Genjer diyakini bisa mencegah sembelit, menjaga gula darah dan kolesterol, dan mencegah osteoporosis. Selain itu, bunga genjer bisa  menyembuhkan asam urat. Melihat potensi tersebut, akhir-akhir ini semakin banyak petani yang membudidayakannya.

Salah satu petani yang membudidayakan tanaman yang berbunga sepanjang tahun ini adalah Ida Nopriyani (26). Ibu satu anak yang tinggal di Desa B. Srikaton, Kecamatan Tugumulya, Kabupaten Musirawas ini mulai menanam genjer sejak tahun 2013. “Menanam genjer sangat mudah dan menguntungkan, apalagi jika harga tinggi, omzet bisa mencapai Rp. 45 juta per bulan,” ujarnya. Ida menjelaskan angka sebesar itu didapat dari genjer yang ditanam di lahan seluas 1 hektar, dengan panen sebanyak 6.000 ikat per hari.

Ida mengungkapkan, jika harga sedang bagus per ikat genjer bisa mencapai Rp. 500. Biasanya lahannya bisa menghasilkan 6.000 ikat per hari, sehingga dia memperoleh uang Rp. 3 juta. “Uang sebesar itu dibagi dua dengan dengan pemetik, sehingga saya terima   Rp. 1,5 juta. Jika dikalikan 30 hari, sebulan saya mendapatkan Rp. 45 juta. Jika harga genjer per ikat Rp. 250 pun, per bulan masih bisa dapat 22,5 juta, jadi masih bisa untung lah, karena modal perhektar hanya Rp. 5 Juta,” paparnya.

Menurut petani yang juga pemilik kios resmi pupuk bersubsidi Petrokimia Gresik ini, menanam genjer relatif mudah. Setelah lahan dibajak untuk menggemburkan tanah, lahan diairi dengan ketinggian air minimal 10 – 15 cm. Satu minggu setelah penanaman dipupuk dengan ZA, dan disemprot fungisida dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Hal ini dilakukan agar bunga cepat tumbuh dan menghasilkan helaian daun yang hijau dan lentur. Sebelum genjer dipanen saat berumur 20 hari, diberi tambahan ZA lagi.

“Tidak ada kendala yang berarti dalam menanam genjer. Hanya saja pengaturan irigasinya harus baik karena tanaman genjer membutuhkan ketersediaan air yang cukup,” terang Ida. Mengenai pemasaran, dia mengatakan bahwa tidak ada masalah sebab setiap panen ada pengepul dari Palembang yang membelinya. (Gigih S. / Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *