Sukses Jalani Karir dan Ibu Rumah Tangga

Ir. Wahyu Agustini, SE, Msi, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blora

Menjadi perempuan karir sekaligus ibu rumah tangga bukan hal yang mudah, tapi Wahyu Agustini bisa menjalaninya dengan mulus.  Karirnya sebagai PNS,  mencapai posisi puncak di Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blora. Dia pun sukses membimbing anak-anaknya menapak masa depan. Anak pertama, Devan Filia Pratama, menjadi sarjana hukum dari UNS dan diterima sebagai PNS di Kementerian Hukum dan HAM. Anak keduanya, Dimas Ardian Wicaksana, belum lama ini diwisuda sebagai Letda Infantri. Sedangkan anak ketiga baru duduk di bangku SMP.

Wahyu Agustini  selalu berpikir positif dan  berdoa untuk kebaikan keluarga, suami dan tiga anak lelakinya. Dia juga tidak pernah memaksakan anak-anak dalam memilih ilmu untuk sebagai bekal masa depan mereka. “Saya hanya mengikuti saja mereka mau ke mana. Jika mereka sudah menentukan pilihan, harus bertanggung jawab atas pilihannya. Alhamdulillah, 2 anak saya berhasil mendapatkan profesi sesuai yang dicita-citakan,” ujarnya.

Istri dari Kusparyono ini memulai karirnya sebagai CPNS di Dinas Peternakan Kabupaten Blora pada tahun 1992. Kemudian diangkat sebagai  Kabag Perekonomian tahun 2003. Menjadi camat perempuan pertama di Kabupaten Blora  tahun 2006 – 2009. Tahun 2014 – 2016, Wahyu menduduki posisi sebagai Kepala BLH, dan  menjabat Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blora, mulai akhir 2016 hingga saat ini. “Saya berusaha disiplin dan loyal pada pekerjaan dan perintah pimpinan, dan harus berbaik sangka. Jangan pernah iri pada jabatan dan rejeki orang lain, karena semuanya Allah yang mengatur,” jelasnya.

Untuk meningkatkan produktivitas ruminansia, khususnya sapi potong di wilayah kerjanya, ada beberapa program yang dijalankan. Ketika dilantik sebagai kepala dinas, pada bulan Januari 2017 ada Upsus SIWAB (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) dari Kementerian Pertanian. Dengan program tersebut, Wahyu mewajibkan semua sapi indukan produktif  di Blora harus  bunting. Jika ada indukan yang mengalami gangguan reproduksi permanen, disarankan untuk dijual. “Tapi jika hanya mengalami gangguan reproduksi sementara, harus diobati dengan biaya ditanggung dengan dana dari APBD. Dan kita sudah melakukan hal tersebut,” ujar Wahyu.

Untuk sapi indukan wajib bunting, Kabupaten Blora mendapatkan target untuk kegiatan identifikasi. Pertama kali yang dilakukan adalah mendata, dan memeriksa kondisi alat reproduksinya. Sapi betina yang berumur 2 – 8 tahun dikawal satu persatu kondisi reproduksinya. Apakah sapi tersebut normal bunting,  normal tidak bunting, mengalami gangguan reproduksi sementara, atau permanen. “Data tahun 2016, populasi sapi di Blora mencapai 222.617 ekor. Jumlah tersebut menjadikan Blora sebagai kabupaten dengan populasi tertinggi di Jawa Tengah, dan nomor dua di Indonesia, setelah Pamekasan” jelas Wahyu.

Menurut Wahyu Agustini, identifikasi sapi indukan di wilayahnya ditarget  lebih dari 99.500 ekor. Dari jumlah tersebut masih ada potensi 31 ribu sapi betina produktif yang belum teridentifikasi, yang tersebar di 92 desa. “Jika jumlah sebesar itu tidak segera diidentifikasi, tidak mempunyai peluang untuk diberikan inseminasi buatan (IB) gratis. Sehingga kami mengajukan ke pemerintah pusat, melalui pemerintah provinsi. Tapi karena satu dan lain hal, oleh pemerintah pusat disarankan untuk mengajukan ke APBD II. Maka segera kami ajukan ke Bupati Blora dan Alhamdulillah disetujui,” paparnya. Dengan disetujuinya pengajuan anggaran tersebut awal Januari 2018, sapi-sapi tersebut mendapat hak yang sama, mendapatkan IB gratis.

Untuk IB tahun 2017 Blora ditarget 79.432 ekor, dan hingga akhir November 2017 sudah mencapai 138 %. “Hal ini karena teman-teman selalu semangat, saya selalu mendukung dan memotivasi. Untuk menilai kerja teman-teman, kita adakan lomba inseminator. Ada beberapa kriteria di sini, yaitu yang hanya punya sertifikat inseminator saja dan  inseminator yang punya ketrampilan pemeriksaan kebuntingan, dan itu kita rangking,” ungkap Wahyu. Dia juga menjelaskan, penilaiannya meliputi bagaimana cara memberikan layanan kepada peternak dan  kepatuhan terhadap SOP. Inseminator yang masuk rangking 1 – 20,  akan mendapatkan fasilitas berupa kontainer kecil untuk ke lapangan.

Ketika ada oknum inseminator yang mencoba mengkomersialkan IB, Wahyu Agustini segera menindak tegas. Memang pada awalnya ada 2 oknum yang seperti itu, tapi setelah dilacak dan memang terbukti, segera diberi tindakan. Mereka dibina dan diminta membuat pernyataan bermaterai, agar tidak mengulangi perbuatannya. “Dengan sikap tegas tersebut, oknum tersebut tidak berani lagi mengulanginya. Tapi jika laporan tersebut hanya fitnah, kami segera mengklarifikasinya,” ujar pejabat yang punya hobi memasak gudeg dan membuat sambel pecel ini.  (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *