Menangguk Untung dari Sayur Hidroponik

Hadi Kristianto (43) ditemani satu pekerjanya memanen kangkung di lahan hidroponik seluas 350 m2. Kangkung yang dipanen itu diikat dan dimasukkan kantung  plastik. Ada belasan ikat kangkung hasil panen hari ini, dan segera diambil oleh salah satu pelanggannya. Kangkung-kangkung di lahan lelaki pengusaha restoran itu tampak menarik. Daunnya hijau segar, hampir tidak ada  cacat akibat serangan hama. “Kelebihan kangkung yang ditanam di lahan hidroponik, sampai dengan 7 jam setelah dimasak warna hijaunya tetap bertahan. Beda dengan kangkung dari lahan konvensional, paling lama 30 menit warna kangkung berubah kehitaman,” jelasnya.

Awalnya Hadi hanya ingin membuat lahan hidroponik dalam skala hobi, tapi atas saran beberapa kawan dibuatlah lahan skala kebun. Lahan itu berupa greenhouse, yang dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang paling luas, yang dikelilingi dengan insect net, dipenuhi rak-rak yang berisi berbagai sayuran. Sisanya  untuk ruang menyiangi dan menampung hasil panen sebelum dijual. Sebenarnya sudah cukup lama lelaki yang tinggal di                  Jl. Sukowati, Ngawi ini mengenal dunia cocok tanam. “Kebutuhan sayur untuk kota Ngawi masih kurang. Selain itu sebagian besar sayur untuk masyarakat kota ini, dipasok dari daerah sekitar seperti Magetan. Saya melihat peluang bisnis budidaya sayur yang menjanjikan,” ungkapnya.

Karena tinggal di kota dengan lahan tidak terlalu luas, yang tidak memungkinkan untuk menanam sayur-mayur di lahan konvensional, dipilihlah  hidroponik. Bekalnya hanya  pengalaman menanam tanaman hias, serta belajar dari kawan-kawan yang sudah terlebih dahulu menekuni hidroponik. “Jika kita mau tekun, belajar hodroponik hanya butuh waktu beberapa hari saja. Menanam hidroponik tidak jauh beda dengan menanam di pot, hanya saja tidak pakai tanah dan menggunakan pupuk khusus hidroponik,” jelas Hadi. Pendapatnya tidak berlebihan, dia sudah  beberapa kali berhasil memanen berbagai jenis sayur yang ditanamnya. Padahal dia baru menekuni hidroponik  mulai bulan September 2017.

Hadi yakin semua orang bisa membudidayakan sayur dengan cara hidroponik. Syaratnya harus telaten dan tidak berhenti belajar dan bertanya kepada yang sudah berpengalaman. Aktivitasnya sebagai lelaki yang mencintai tanaman, membawanya bergabung dengan komunitas penggemar tanaman. Salah satunya adalah “Khidmad (Komunitas Hidroponik Madiun) Mataraman”. Di komunitas hidroponik yang anggotanya tersebar di Madiun, Ngawi, Magetan, Pacitan dan Ponorogo, Hadi banyak belajar dan bertukar informasi. Dari mulai budidaya hingga pasca panennya.

Luas greenhouse 350 m2 dan kapasitas 5.000 titik tanam,  Hadi bisa memanen sekitar 3.000 batang sayur siap panen dewasa. Sayur yang ditanamnya beragam, ada kangkung, pakcoy, samhong, selada, red lotus, dan kale. Hadi mengungkapkan, peluang keberhasilan menanam sayur hidroponik lumayan besar. Harganya juga bagus, mencapai dua kali lipat dari sayur di lahan konvensional. Dengan kebutuhan sayur di Ngawi yang terus meningkat, tapi tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai, dia kewalahan memenuhi permintaan pasar. “Untuk pemasaran, saya tidak kawatir, sebab selain  Ngawi pembelinya juga dari luar kota. Baik end user maupun restoran-restoran. Omzet per hari minimal Rp. 300 ribu,” akunya.

Hadi mengungkapkan, sayur hidroponik lebih tahan lama. Jika masuk lemari pendingin bisa kesegarannya bisa bertahan seminggu. Jika tidak disimpan di lemari pendingin pun, masih terlihat segar pada 5 hari setelah petik. “Selain itu bebas dari pestisida. Untuk mengantisipasi serangan hama, saya memasang insect net. Tapi jika terkena serangan hama ya tinggal cabut akar, atau istilahnya buang sayur,” paparnya. Hadi menambahkan, tingginya permintaan sayur hidroponik, selain  lebih sehat karena bebas pestisida,  citarasanya lebih gurih,” pungkasnya sambil menunjukkan kangkung hasil panen. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *