, , , ,

Pengabdian Khairullah, PPL dari Bima

Khairullah (paling kanan) bersama dengan petani binaannya, setelah sosialisasi pemupukan berimbang (foto: istimewa)

Khairullah (46) adalah salah satu Petugas Penyuluh Lapang (PPL) yang mencintai pekerjaannya. Bapak  empat anak yang tinggal di Desa Kananta, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, NTB ini sudah sejak lama tertarik di bidang pertanian. “Saya lahir dan tumbuh dari keluarga pedagang, tapi saya mencintai dunia pertanian sejak masih remaja. Saya melihat, bidang pertanian sangat penting karena menyangkut kelangsungan hidup  manusia,” ujarnya. Lelaki rendah hati ini alumnus  Fakultas Pertanian Universitas Mataram, diwisuda sebagai sarjana pertanian tahun 2006.

Suami dari Dartik yang sudah sejak tahun 1990 menjadi penyuluh lapang ini, sangat menikmati pekerjaannya. Baginya pekerjaan mendampingi petani tidak boleh hanya sekedar gugur kewajiban semata. Khairullah menjalani profesinya dengan penuh semangat, agar petani yang di wilayah kerjanya bisa menjadi petani yang lebih berpengetahuan. Menjadikan mereka yang berpeluh di lahan,  bisa meningkatkan kesejahteraan dengan meningkatnya hasil panen.

“Saya sangat menikmati aktivitas saya sebagai penyuluh lapang, karena bisa berbagi ilmu dan pengalaman  kepada petani,” ujarnya. Jam kerja Khairullah tidak menentu. Memang jam kerjanya sebagai penyuluh antara pukul 07.00 – 14.00 WITA. Tapi karena mengikuti waktu senggang petani, tidak jarang  penyuluhan dilakukan pada malam hari. Menurut Khairullah, petani binaannya mempunyai  lebih banyak waktu setelah waktu Isya’. Maka mau tidak mau, dia melakukan penyuluhan setelah Shalat Isya, dan seringkali dilaksanakan di masjid-masjid.

Ketika ditanya mengenai biaya operasional, PPL yang wilayahnya meliputi Desa Kananta, Sai, dan Sampugu ini tersenyum. “Biaya berasal dari BOP (biaya operasional) kantor, tapi seringkali masih kurang sehingga saya harus mengeluarkan uang dari kantong saya sendiri,” paparnya. Khairullah mengakui, bukan karena gajinya besar sehingga bisa menyisakan untuk biaya penyuluhan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai penyuluh lapang. Dia merasa kasihan, jika petani yang dibinanya harus mengeluarkan uang untuk biaya tersebut. Apalagi mayoritas petani yang dibinanya adalah petani kecil.

Selain minimnya biaya, kurangnya media pendukung untuk penyuluhan dirasanya sangat kurang. Dia berharap ada media seperti video tentang pertanian,  sehingga bisa lebih memudahkan dan meyakinkan petani. Di samping itu Khairullah juga mengeluhkan tentang masih belum banyak, bahkan belum adanya kios pupuk subsidi di wilayah binaannya. “Khususnya di Desa Sai, masih belum ada  kios pupuk subsidi, seperti PHOSNKA. Sehingga petani lebih banhyak membeli pupuk NPK abal-abal. Tentu saja hal ini sangat merugikan petani,” keluhnya.

Berkaitan dengan media pendukung untuk penyuluhan ia mengucapkan banyak terima kasih kepada Petrokimia Gresik. Pasalnya pabrik pupuk terlengkap di Indonesia itu sudah banyak memberi berbagai media untuk penyuluhan, baik berupa video maupun power point. “Materi dari staf Petrokimia Gresik, terkait banyak hal tentang pemupukan dan informasi mengenai pupuk abal-abal, tentu saja sangat membantu kerja saya,” jelasnya.

Khairullah merasa bahagia, ketika aktivitasnya sebagai penyuluh bisa membuat petani bisa meningkatkan hasil panen. Dengan pengetahuan yang cukup, mereka bisa terhindar dari kesalahan memilih pupuk abal-abal bekualitas rendah. “Akhir-akhir inii daerah kami banyak beredar pupuk dengan mutu yang sangat rendah. Saya merasa kasihan jika petani membeli pupuk tersebut, sebab sudah mengeluarkan uang, tapi hasil panennya endah,” katanya.  (F. Ardi/Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *