, , , , , , , , ,

Agrowisata Belimbing Bojonegoro Dari Desa Langganan Banjir Menjadi Destinasi Wisata

Ngringinrejo di Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, semula hanya sebuah desa sepi yang dikepung aliran Bengawan Solo. Sungai yang selama puluhan tahun menjadi penyebab banjir, tapi sekaligus menghidupi masyarakat di sekitarnya. Lahan di sepanjang bantaran sungai terpanjang di Jawa setelah Sungai Brantas tersebut hanya bisa ditanami ketika musim kemarau tiba. Komoditas yang ditanam pun hanya sebatas jagung, buah pepaya, selebihnya bambu dan semak-semak. Begitu musim penghujan datang dan debit air Bengawan Solo meningkat drastis, maka tak ada yang bisa diharapkan dari tanaman tersebut. Belum lagi ancaman erosi akibat derasnya aliran sungai pada puncak musim hujan, yang membuat luas wilayah desa menjadi menyusut. Hal ini diungkapkan oleh Mochamad Safi’i, Kepala Desa Ngringinrejo.

Dengan kondisi alam yang tidak ramah tersebut kehidupan penduduk Ngringinrejo, utamanya yang mempunyai lahan di dekat sungai, menjadi tidak menentu. Sampai pada suatu ketika ada beberapa tokoh desa yang tergerak untuk menyelamatkan kondisi memprihatinkan tersebut. “Di Tuban ada desa yang kondisinya hampir sama dengan Ngringinrejo, sama-sama terletak di pinggiran Bengawan Solo. Sebagian tanahnya ditanami belimbing oleh salah satu penduduk, ternyata bisa mengangkat pendapatan petani di sana,” kisah Mochamad Safi’i.  Bahkan menurutnya, ada yang berhasil naik haji karena membudidayakan belimbing.

Tahun 1985 empat tokoh Desa Ngringinrejo, Mochamad Ghusni, Sunyoto, Abdul Ghoni dan Sarimin, menggerakkan penduduk untuk membudidayakan belimbing. Setelah menunggu selama 3 tahun, pada 1988 panen perdana dilakukan. Meski hasilnya masih belum maksimal,  mereka puas sebab erosi tanah bisa ditanggulangi. “Kenapa memilih tanaman belimbing, karena tanaman ini tahan terhadap banjir dan kekeringan. Disamping itu batang dan akarnya cukup kuat untuk menahan erosi,” ungkap Mochamad Ghusni, salah satu tokoh Desa Ngringinrejo dan mantan pejabat di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bojonegoro. Setelah berjalan beberapa tahun, dan mereka terus belajar bagaimana cara membudidayakan belimbing dengan baik, akhirnya memperoleh hasil. Dari yang semula hanya untuk menahan erosi, tanaman belimbing berkembang menjadi komoditas yang bisa meningkatkan kesejahteraan petani Ngringinrejo. “Seperti kita tahu, belimbimg  berbuah sepanjang tahun. Dengan perawatan yang rutin, seperti pemupukan dan pengendalian hama, akan menghasilkan buah belimbing dengan kualitas yang semakin baik,” ujar Ghusni.

Melihat potensi tersebut, tokoh-tokoh masyarakat Desa Ngringinrejo mulai berpikir untuk mengembangkan menjadi agrowisata. Dengan dibukanya sebagai agrowisata pengunjung mulai berdatangan, baik dari Kabupaten Bojonegoro maupun dari kabupaten lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dari tahun ke tahun pengunjung semakin banyak,  omzet petani yang langsung menjual hasil panen ke pengunjung pun terus meningkat. Yang menarik buat pengunjung, mereka bisa memetik langsung dari pohon. Tentu saja, dengan semakin bertambahnya omzet, pendapatan mereka terus meningkat. “Tidak hanya pertani pemilik lahan, tapi juga buruh-buruh tani juga ikut mendapat berkah. Sebab budidaya belimbing banyak menyerap tenaga kerja, mulai dari pemupukan, sampai membungkus buah agar tidak diserang lalat buah,” ujar Ghusni.

Mengenai perawatan,  Mochamad Safi’i mengungkapkan bahwa dengan bertambahnya pengetahuan petani, mereka semakin mengerti bagaimana cara merawat belimbing. Tanah yang subur adalah kunci untuk bisa menghasilkan panen yang berkualitas. Mereka sudah sadar akan pentingnya pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah, dengan memberi pupuk organik buatan sendiri atau dengan menggunakan Petroganik. Untuk memenuhi kebutuhan hara, petani mengaplikasikan NPK Kebomas 12:11:20, yang terbukti bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas panen. “Sebelumnya petani menggunakan pupuk NPK impor yang harganya mahal. Tapi setelah mengenal  NPK Kebomas dan membuktikannya, mereka mengaplikasikan hingga sekarang. Selain harganya murah, Kualitas NPK Kebomas tidak kalah dengan NPK impor. Untuk pupuk hayati, petani-petani di sini  menggunakan Petro Biofertil,” papar Safi’i.

Yang paling rentan dalam budidaya horti adalah serangan OPT (organisme pengganggu tanaman). Jika tidak diantisipasi dengan serius, akan merugikan petani belimbing dan berdampak pada jumlah pengunjung. Hal ini diungkapkan oleh Suwoto, petani pemilik lahan di lokasi agrowisata dan Ketua Poktan “Mekar Sari” dengan 104 orang anggota. Hama yang sering menyerang adalah lalat buah dan ulat bunga. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka mengatasinya dengan menggunakan produk dari PT Petrosida Gresik, seperti Sidametrin, Sidakron dan Sidabas. Suwoto mengungkapkan bahwa dengan perawatan dan pemupukan tersebut, petani hampir tidak mendapatkan masalah yang serius. “NPK Kebomas, yang unsur K-nya mencapai 20 %, membuat tangkai buah menjadi lebih kuat sehingga tidak mudah rontok. Buah lebih manis dengan tekstur daging lebih keras sehingga tidak mudah  busuk setelah dipetik,” ungkapnya.

Sampai saat ini jumlah pohon belimbing di agro wisata Desa Ngringinrejo tersebut sebanyak 9.420 batang yang tumbuh di lahan seluas 20,4 hektar, dikerjakan oleh 104 petani. Desa sepi langganan banjir itu, kini menjelma menjadi agrowisata  yang menjadi salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Bojonegoro. Dengan jumlah pengunjung yang terus bertambah, berimbas pada perekonomian di sepanjang jalan menuju ke lokasi tersebut. Beberapa tahun terakhir ini beberapa restoran kecil tumbuh bagai cendawan di musim hujan. Belum lagi munculnya penjual belimbing yang banyak tersebar di sekitarnya, mereka juga ikut menikmati berkah dari semakin berkembangnya agrowisata tersebut. Fasilitas untuk memanjakan pengunjung pun mulai ditambah, mulai dari camping ground, wisata air, hingga karaoke keluarga. Tidak hanya sebagai obyek wisata saja, agrowisata ini juga dijadikan lokasi out bond, baik dari sekolah-sekolah maupun perusahaan. “Untuk lebih meningkatkan daya tarik, kami menyelenggarakan festival belimbing yang dilaksanakan satu tahun sekali sejak tahun 2014, dengan jumlah pengunjung yang terus meningkat. Untuk tahun ini festival dilaksanakan selama satu minggu penuh,” kata Mochamad Safi’i bangga. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *