, , , , , ,

Bungaran Saragih, Komut PT Pupuk Indonesia. Petrokimia Gresik Menjadi Leader Industri Berbasis Riset

Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia Bungaran Saragih berharap pada semua anak perusahaan, utamanya yang memproduksi pupuk, agar bisa lebih kompetitif. Hal ini  dimaksudkan untuk menunjang pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Untuk menjadi perusahaan yang kompetitif, idealnya harus berbasis riset atau research base. Mantan Menteri Pertanian 2000 – 2004 tersebut mengakui, di antara anak perusahaan lainnya,     Petrokimia Gresik menjadi leader dalam industri berbasis riset. Hal ini dibuktikan dengan beberapa produksi berbasis riset yang diminati konsumen, seperti Petrobio Fertil, Petro Fish, Petro Chick dan Petro Hi-Corn. Selain itu ada juga benih padi hibrida Petro Hibrid Hipa 18 dan Petro Gladiator (cair), yang sudah di-launch  tanggal 29 Juli 2016.

“Industri pupuk merupakan alat untuk melayani pembangunan pertanian berkelanjutan. Sebagai Komisaris Utama Pupuk Indonesia, saya menghimbau pada semua dewan komisaris dan jajaran direksi semua anak perusahaan yang memproduksi pupuk, agar mempersiapkan diri untuk bisa bersaing dengan produk pupuk impor,” ujarnya. Peraih gelar doktor di bidang ekonomi dari North Carolina State University pada tahun 1980 ini, juga berharap agar pembangunan pertanian di Indonesia diisi oleh produksi pupuk dalam negeri. Sehingga lahan pertanian di Indonesaia tidak ‘dipupuk’ oleh negara lain. Sebaliknya ke depan justru Indonesia akan bisa ‘memupuk’ Malaysia, Thailand, Vietnam, bahkan ‘memupuk’ Cina.

Mengenai diversifikasi produk untuk pembangunan pertanian berkelanjutan, profesor kelahiran Pematangsiantar, 17 April 1945 ini mengungkapkan, Petrokimia Gresik patut diacungi jempol. “.Jadi kalau kita lihat inisiatif-inisiatif lebih banyak di Petrokimia. Dulu didominasi oleh urea, ZA dan SP-36. Sejak tahun 2000 didominasi oleh NPK. Saya akui, dalam hal ini Petrokimia memberikan respon yang sangat cepat untuk tuntutan pembangunan pertanian berkelanjutan,” pujinya.  Dia juga menekankan tentang produk inovasi berbasis penelitian, harus laku di pasaran dengan skala yang ekonomis. “Jadi jangan menghasilkan produk tapi tidak menjadi bisnis, itu bedanya penelitian kita di industri pupuk dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian, yang hanya sebatas skala penelitian saja,” katanya.

Ketika ditanya tentang turunnya minat generasi muda pada bidang pertanian, Bungaran optimis ke depan akan semakin banyak anak muda yang tertarik. “Nanti akan banyak anak muda yang mau bertani, terutama anak-anak muda yang berpendidikan lebih baik. Sekarang masalah kita, mayoritas pertanian kita, masih sebatas pertanian gurem, sehingga tidak menarik minat anak muda. Tapi mereka akan tertarik untuk menjalankan agribisnis modern dengan skala lebih besar,” terangnya. Dia mengungkapkan bahwa sudah banyak anak-anak muda lulusan pergutan tinggi, baik pertanian maupun non pertanian masuk di agribisnis. Dengan penghasilan yang tidak kalah bahkan lebih tinggi dari bidang pekerjaan lain, tapi tidak dengan cara gurem. Sehingga nantinya akan mempunyai agribisnis modern dengan SDM yang berkualitas. (Made Wirya)an

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *