Dari Galur Lokal Gresik, Petrokimia Gresik Akan Lepas Produk Benih Cabai Hibrida Berkualitas

Iwan Dhaniyarso sedang mengamati buah cabai dari benih hibrida varietas PCH 17.1 di Kebun Percobaan Petrokimia Gresik (foto: Dadang Subiantoro)

Luas areal tanam cabai merah menempati urutan pertama di antara berbagai komoditas sayuran di Indonesia. Hal ini dipicu oleh tingginya minat petani untuk membudidayakan buah pedas tersebut. Karena nilai ekonomi cabai dianggap lebih menjanjikan, dibandingkan dengan sayuran lainnya seperti kentang, tomat, bawang merah, dan kacang panjang. Di samping itu cabai bisa dijual pada saat masih muda, ketika masih berwarna hijau, maupun dipanen ketika sudah berwarna merah. Hasil panen cabai juga bisa dijual dalam kondisi segar, atau dalam berbagai olahan seperti cabai kering, tepung cabai, dan berbagai macam bumbu dan sambal.

Dengan tingginya minat petani untuk membudidayakan cabai, semakin tinggi pula kebutuhan benih cabai di Indonesia. Menurut data BPS tahun 2016, kebutuhan dalam cabai merah dalam negeri sebesar 593.630.000 ton/tahun. Sedangkan produksi cabai merah nasional 1.045.601 ton/tahun. Ada berbagai benih cabai yang diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, baik benih cabai Open Polinated (OP) maupun hibrida.

Salah satu perusahaan yang memproduksi benih cabai adalah Petrokimia Gresik. Pabrik pupuk terlengkap di Indonesia tersebut memang sudah cukup lama memproduksi berbagai produk pengembangan untuk mendukung pertanian. Seperti misalnya pupuk hayati, dekomposer, berbagai probiotik untuk ikan, unggas, dan ruminansia, kapur pertanian, dan beberapa benih dari berbagai komoditas. Benih-benih tersebut adalah benih padi inbrida dan hibrida, benih jagung hibrida, dan benih cabai OP.

Menurut GM Riset Petrokimia Gresik Iwan Dhaniyarso, benih cabai yang sudah diproduksi dan mendapatkan respons positif dari petani adalah Petrochili. Benih cabai ini merupakan benih cabai OP yang mempunyai beberapa keunggulan. Selain mempunyai produksi tinggi, berumur genjah, dan lebih pedas, juga kesegaran buah lebih lama. “Kami akan memproduksi benih cabai hibrida varietas PCH 17.1 dan PCH 17.2. Benih cabai tersebut sudah didaftarkan ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP),” ujarnya. Menurut Iwan, pelepasan varietas benih cabai tersebut dilakukan pada semester I tahun 2018.

Iwan mengungkapkan, varietas cabai hibrida PCH 17.1 dan PCH 17.2 merupakan hasil perakitan Kompartemen Riset Petrokimia Gresik. Proses perakitannya membutuhkan waktu tiga tahun, sejak 2013 hingga tahun 2017. “Varietas PCH 17.1 merupakan hasil persilangan dari tetua betina KLG 18 dan tetua jantan GSG 4. Sedangkan varietas PCH 17.2 merupakan hasil persilangan dari tetua betina KLG 18 dan GSG 6. Ketiga varietas tetua tersebut merupakan varietas milik PT Petrokimia Gresik,” ungkapnya.

Lebih lanjut Iwan menjelaskan, tahapan perakitan dimulai dari karakterisasi calon tetua cabai hibrida. Disusul kemudian dengan uji kombinasi persilangan varietas cabai hibrida, uji coba produksi dan seleksi keberhasilan persilangan cabai hibrida. Selanjutnya dilakukan uji keragaan dan seleksi Tanaman F1. Yang menarik adalah benih hibrida tersebut merupakan hasil persilangan tetua betina dan jantan galur lokal Gresik. “Ya, memang semuanya (tetua betina dan jantan) dari galur lokal Gresik yang kami murnikan terlebih dahulu,” papar Iwan.

Iwan juga menyampaikan, benih cabai hibrida ini mempunyai potensi hasil dan kualitas buah (ukuran dan umur simpan) yang lebih baik, dibandingkan benih varietas hibrida lain. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan, pertanaman cabai hibrida PCH 17.1 dan PCH 17.2 relatif toleran terhadap thrips dan antraknose. “Selain daya simpan buah relatif lama, hingga 8 hari setelah panen, potensi hasil produksinya bisa mencapai 20,6 – 26,9 ton per hektar,” pungkasnya. (Nur Afifah/Made Wirya)

 

 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *