Meningkatkan Kesejahteraan Petani dengan SIKEPIS

Warino, Petani Berprestasi Nasional 2008,

Bermula dari keprihatinan Warino (44) akan rendahnya penghasilan petani di desanya dan desa sekitarnya. Pada tahun 2005 muncul gagasan dari petani dari Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Padalarang tersebut, untuk mengatasi masalah yang dihadapi petani di daerahnya. Menurutnya, dengan luas lahan pertanian kurang dari 1.000 m2 per KK, petani tidak mampu menghidupi keluarga dengan layak.

“Para petani di sini rata-rata mempunyai lahan pertanian yang sempit. Jika tidak dilakukan terobosan, mereka akan terus berkubang dalam ketidakberdayaan. Harus dicari cara agar mendapat tambahan penghasilan. Saat itu lah saya menggagas untuk memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan tidur lainnya, sebagai lahan untuk menanam kakao,” kisahnya. Maka dikumpulkanlah petani dari 14 desa, dengan melibatkan BP3K Kecamatan Padaherang. Setelah diyakinkan oleh Warino, 60 % dari petani yang hadir menyambut baik gagasannya.

“Saya mengatakan pada mereka bahwa menanam kakao sama dengan menanam uang. Ketika mulai memetik buah kakao dan menjemurnya, pengepul biji kakao sudah mendatangi untuk memesan,” ujar suami dari Nur Fauzah ini. Mengenai apakah tanah di desa-desa di Kecamatan Padaherang cocok buat kakao atau tidak, Warino optimis cocok. Sebab dia memahami bahwa pada era kolonial ada perkebunan kakao di daerah tersebut.

Maka dengan cara swadaya, didatangkanlah benih kakao dari perkebunan rakyat di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Dengan 60 hingga 100 pohon tiap rumah, pada akhir tahun 2007 para petani melakukan panen perdana, dengan hasil yang tidak mengecewakan. Keberhasilan panen pada tahun berikutnya, dirayakan dengan mengadirkan bupati. “Tahun 2008 kami sudah melakukan pengiriman ke pabrik coklat, sebanyak 12 ton. Jumlah tersebut dapat kami penuhi pada tahun-tahun berikutnya,” kenang Warino. Keberhasilan panen kakao berimbas pada meningkatnya penghasilan petani di Kecamatan Padaherang. Mereka pun membentuk DPC APKAI (Asosiasi Petani Kakao Indonesia).

Tidak berhenti hanya pada kakao, Warino terus berpikir untuk komoditas lain yang bisa dikembangkan, dengan memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan tidur. Maka dipilihlah kambing dan entog (sejenis bebek, diambil telor dan dagingnya). Selain relatif mudah dipelihara, kebutuhan makanan dua ternak itu dipenuhi dari limbah kakao. Daun dan kulit buah kakao merupakan makanan bergizi buat kambing. Sedangkan kulit buah kakao dimanfaatkan untuk campuran makanan entog, dengan ditepungkan terlebih dulu.

“Dengan memanfaatkan limbah kakao, petani bisa menekan biaya dan tidak repot mencari pakan,” jelas bapak satu anak ini. Setelah budidaya kakao, kambing dan entog dianggap berhasil, Warino merambah ke sapi. Sebelumnya berkembang mitos bahwa sapi tidak bisa diternakkan di desa tersebut. Konon katanya petani yang memelihara sapi tidak pernah berhasil, sebab akan terkena penyakit dan berakhir dengan kematian. Tapi Warino bisa mematahkan mitos itu. Dia memelihara sapi dengan memanfaatkan limbah kakao sebagai makanannya dan berhasil, petani lain pun mengikuti jejaknya.

Saat ini penghasilan petani di Palendah dan desa sekitarnya semakin meningkat. Tidak lagi hanya berharap pada hasil padi sawah yang hanya panen 6 bulan sekali. Kini mereka mendapatkan tambahan penghasilan dari komoditas lainnya. Panen kakao bisa seminggu sekali, entog bisa dipanen telor dan dagingnya kapanpun. Sedangkan kambing dan sapi buat tabungan keluarga.

Dari berbagai upaya budi daya beberapa komoditas itu, terbentuklah SIKEPIS (Sistem Integrasi Kakao Kambing Enau Entog Padi Itik dan Sapi). SIKEPIS mengantarkan Warino memperoleh penghargaan petani berprestasi dari Presiden RI pada tahun 2008. Meskipun sudah mendapat penghargaan puncak bagi petani, Ketua KTNA Kabupaten Pangandaran itu tidak menjadi sombong. Dia tetap menjadi Warino yang dulu, tetap rendah hati, ringan tangan, dan mempunyai kepedulian pada sesamanya. (Made Wirya)

 

 

 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *