, , , , , ,

Hibahkan Mesin Pencacah dan Instalasi Biogas, Petrokimia Gresik Bantu Tingkatkan Penghasilan Peternak Sapi

Petrokimia Gresik membagikan empat puluh unit mesin pencacah (chopper) bahan makanan ternak untuk peternak di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bantuan dalam bentuk hibah tersebut diserahkan kepada kelompok peternak, untuk digunakan oleh seluruh anggota. Hal ini merupakan implementasi dari salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR). Selain itu juga diserahkan enam unit Instalasi Biogas untuk Kabupaten Malang dan Lamongan. Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan di Desa Bringin, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang pada Jumat (29/12/17).

Sekretaris Dinas Peternakan Kabupaten Malang Heridji Sutardjo yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, bantuan ini sifatnya hanya untuk menginisiasi. Diharapkan mereka bisa belajar, selanjutnya akan mengembangkannya sendiri. Dengan demikian mereka tidak berharap untuk terus menerima bantuan. Diakuinya, pembinaan peternak berbasis kelompok diakui sangat membantu dalam membina peternak. “Jumlah peternak di Kabupaten Malang jumlahnya mencapai 150 ribu orang, dengan jumlah ternak lebih dari 200 ribu ekor. Jika menanganinya sendiri jelas tidak mungkin, dengan tanpa bantuan dari perusahaan seperti Petrokimia Gresik,” ungkapnya

GM Umum Petrokimia Gresik Dwi Tjahjo Juniarto berharap, dengan hibah tersebut pendapatan peternak bisa lebih meningkat. Karena dengan adanya mesin pencacah, selain memudahkan peternak dalam menyediakan pakan yang berkualitas, juga bisa menekan biaya produksi. Mesin pencacah ini didesain bisa menghancurkan bahan pakan, baik yang keras maupun yang lunak. Peternak bisa memanfatkan potensi tanaman sebagai bahan pakan di daerah masing-masing. “Dengan demikian peternak bisa mengurangi pakan produksi pabrik yang harganya relatif mahal,” jelas lelaki kalem yang sering dipanggil Yayok ini.

Menurut Yayok ada banyak tanaman dengan batang keras maupun lunak di sekitar rumah peternak. Seperti misalnya kaliandra, petai, sawit, jerami, jagung. Daun dan batangnya punya potensi untuk dijadikan pakan, selain itu juga sisa sayuran. Bahan-bahan itu jika tidak melalui proses penghancuran, kurang diminati oleh sapi. Bahan pakan yang sudah dihancurkan bisa disimpan melalui proses silase dengan menyemprotkan Petrobio Feed.

“Penyemprotan probiotik produksi Petrokimia Gresik itu dimaksudkan agar pakan bisa awet, tahan hingga kurun waktu satu tahun. Ketika sudah punya stok makanan yang cukup, mereka tidak perlu repot lagi jika ketersediaan ‘pakan mentah’ terbatas. Misalnya pada saat datangnya musim kemarau panjang,” paparnya. Yayok menambahkan, selain itu petani tidak lagi kerepotan mencari pakan, waktu dan tenaga mereka bisa untuk aktivitas lain.

Untuk pengadaan Instalasi Biogas, Petrokimia Gresik bekerjasama dengan BPPM (Badan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Universitas Brawijaya (UB). Dr. Eng. Deny Widhiyanuariyawan, Ketua BPPM UB mengatakan teknologi biogas merupakan teknologi tepat guna yang memanfaatkan kotoran ternak. Dengan dimanfaatkannya kotoran ternak, dalam hal ini sapi, yang mengandung 40-60 % CH4, sayang jika tidak diamanfaatkan untuk proses digester biogas. “Gas dari kotoran ternak ini kan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar di dapur maupun memasak air untuk keperluan ternak,” ujarnya,

Manfaat hibah kedua piranti tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh para peternak. Nurhadi, salah satu peternak penerima hibah alat pencacah makanan ternak, yang mewakili Kelompok Peternak Sapi “Unggul Jaya Sejahtera”, mengakui hal tersebut. Sebelumnya mereka juga memiliki alat pencacah makanan ternak, tapi hasilnya tidak seperti bantuan dari Petrokimia Gresik. “Jika alat pencacah milik kami dulu, hanya bisa menghancurkan bahan yang keras saja, seperti misalnya batang dan daun tebu dan batang singkong. Tapi jika untuk menghancurkan jerami yang lunak, tidak bisa. Tapi bantuan dari Petro, semua bahan pakan ternak, dari mulai yang keras, lunak, kering, basah, semua bisa diproses dengan baik. Selain itu hasilnya juga lebih lembut, dan sapi lebih mudah mengunyahnya,” akunya.

Mengenai instalasi biogas, beberapa kelompok peternak yang menerima hibah piranti tersebut merasa sangat terbantu. Seperti Nurul Anwar, peternak dari Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, yang sudah 2 minggu ini menikmati hasilnya. “Dengan bahan bakar gas dari kotoran sapi, jelas kami bisa berhemat. Kami manfaatkan untuk merebus air untuk keperluan makanan dan minuman sapi, juga untuk memandikan sapi. Selain itu juga kami gunakan untuk memasak di dapur,” jelasnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *