, ,

Membangun Agribisnis Kedelai yang Bermartabat

Rumah Kedelai Grobogan (RKG) bisa jadi merupakan satu-satunya model agribisnis kedelai lokal di Indonesia. RKG didirikan di atas tanah seluas 2 hektar yang dibagi dalam beberapa bangunan dan kebun percobaan. Yang paling luas kebun percobaan yang terletak di sisi belakang, sekitar 2.000 m2. Sisanya dimanfaatkan sebagai gudang benih, lantai jemur, seed centre, learning centre, tempat pembuatan tempe, restoran hasil olahan kedelai, dan pengepakan produk. Selebihnya dimanfaatkan untuk kantor penyuluh, mushola dan pos penjagaan.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Grobogan Edhie Sudaryanto, RKG merupakan model agribisnis berbasis kedelai lokal, dari hulu hingga hilir. Peran RKG dalam memajukan pertanian kedelai di Grobogan, sangat strategis. Karena RKG dari awal didirikan tahun 2015, memang didesain sebagai pusat informasi, inovasi, dan pusat pembelajaran agribisnis kedelai lokal. “Visi RKG adalah membangun agribisnis kedelai yang bermartabat,” ujarnya.

Edhie menuturkan RKG merupakan wadah untuk belajar kedelai, mulai dari benih, penanaman, perawatan, panen, pengolahan pasca panen, hingga pemasaran. Unit kegiatannya mulai dari seed centre, learning centre, rumah tempe, promotion centre dan restoran, hingga kebun percobaan. Disamping itu juga untuk kantor UPT/Balai Penyuluhan Pertanian.

Unit seed centre memproduksi benih sumber, seperti FS, SS dan ES. Varietas yang diproduksi adalah Grobogan dan Anjasmoro. Unit ini membina 20 produsen dan penangkar benih kedelai, dan melayani pengujian mutu benih kedelai asalan (non label), yang dijual di kios pertanian. “Sebanyak 5 ton benih kedelai varietas Grobogan produksi RKG, dihibahkan untuk kelompok tani di Kabupaten Grobogan. Dananya diambilkan dari APBD. Tujuannya untuk membantu petani agar bisa menekan harga kedelai dan bisa bersaing dengan kedelai impor,” jelas Edhie.

Bagi masyarakat yang ingin belajar tentang kedelai, dilayani di unit learning centre. Di unit ini pelatihan dilakukan dengan memberikan praktek dan teori. Sebanyak 85 % porsi pelatihan berupa praktek, selebihnya teori. Pemateri berasal dari petani kedelai yang sudah berpengalaman, pelaku industri, dan praktisi. Pelatihan tersebut didukung dengan lahan praktek dan modul, dengan materi mulai pembenihan sampai pengolahan hasil panen.

Buat penggemar tempe, sebaiknya tidak melewatkan Rumah Tempe Hygiena. Bangunan dengan luas 90 m2 ini merupakan tempat pembuatan tempe dengan proses produksi yang higienis. Bahan bakunya dari kedelai varietas Grobogan yang terkenal gurih dan berprotein tinggi. Menurut Kabid Tanaman Pangan Akhmad Zulfa Kamal, bahan baku yang digunakan adalah biji kedelai yang masih segar dan tanpa pengawet. Tidak seperti kedelai GMO, biji kedelai impor rekayasa genetik yang sudah ditimbun lama di gudang.

“Keunggulannya, selain gurih, renyah dan berprotein tinggi, harga jual tempe bisa lebih mahal dibanding tempe dengan bahan baku impor. Pembuatannya melalui proses higienis, pencucian menggunakan air bersih, dengan peralatan menggunakan logam tahah karat,” ujar Kamal. Dia menjelaskan, harga tempe yang dibuat dari kedelai GMO lebih murah, hanya sekitar Rp. 3.500. Tempe produksi RKG bisa mencapai Rp. 6 ribu, tapi malah banyak peminatnya. Konsumen tempe ini utamanya dari kalangan menengah ke atas.

Produk tempe Rumah Tempe Hygiena kebanyakan dari pasar swalayan besar, baik di Purwodadi maupun Semarang. Selain itu, semua rumah sakit di Purwodadi memesan tempe produksi RKG. “Yang tidak kalah pentingnya, keberadaan Rumah Tempe Hygiena ini dimaksudkan agar petani bergairah menanam kedelai. Sebab hasil panen biji kedelai dari petani dibeli lebih mahal antara 20 – 30 %, dibanding harga pasar,” ungkap Kamal. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *