, ,

Dari 6 Tepat Distribusi Pupuk hingga Jambore Petani Muda

Upaya Petrokimia Gresik dalam Meningkatkan Produktivitas Pangan

Dari 6 Tepat Distribusi Pupuk hingga Jambore Petani Muda

 

Sebagai anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) yang diberi tugas oleh pemerintah untuk memproduksi dan mendistribusikan pupuk subsidi, Petrokimia Gresik berkomitmen mendukung ketahanan pangan nasional dengan berbagai upaya. Menurut Direktur Pemasaran Petrokimia Gresik, Meinu Sadariyo, upaya pertama adalah menyalurkan pupuk sesuai alokasi dengan prinsip “6 Tepat”. Yang dimaksud dengan enam tepat di sini adalah; tepat jenis, tepat jumlah, tepat harga, tepat tempat, tepat mutu, dan tepat waktu.

 

Meinu mengungkapkan, di setiap daerah punya stok minimum yang dipersyaratkan oleh pemerintah, yaitu 2 minggu kebutuhan. Jika permintaan pupuk subsidi lebih dari stok minimum, Petrokimia Gresik berusaha semaksimal mungkin untuk mengisi gudang agar tidak terjadi kelangkaan. “Untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk, kami harus mengisi stok pupuk sebanyak-banyaknya, utamanya pada daerah yang menjadi lumbung padi dan sentra pertanian. Terlebih lagi saat musim tanam, stok minimum tidak hanya 2 minggu, bahkan bisa 1 bulan atau malah 45 hari kebutuhan,” jelas lelaki kelahiran Surakarta, 12 Mei 1962 tersebut.

Upaya ke dua dalam mendukung ketahanan pangan, dengan terus menerus melakukan edukasi dan sosialisasi tentang pemupukan berimbang. Hal tersebut dilakukan karena pemupukan berimbang terbukti mampu meningkatkan hasil panen. “Pada tahun 2016, Petrokimia Gresik melakukan demplot dan sosialisasi hampir di seluruh wilayah pertanian di Indonesia,” ungkap Meinu.

Jumlah demplot tersebut sebanyak 873 unit, terdiri dari tanaman padi dan tanaman pangan lainnya. Untuk padi, hasil panennya bisa mencapai rata-rata 6,96 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. “Dibanding dengan jumlah pembanding yang 5,97 ton GPK per hektar, telah terjadi peningkatan sebesar 0,99 ton GPK per hektar,” ujar Meinu

Menurut Meinu, demplot tersebut mengaplikasikan pemupukan berimbang, yang memadukan pupuk organik dan anorganik. Dosis pupuk pada pemupukan berimbang tersebut, disesuaikan kebutuhan hara yang dibutuhkan tanaman, sesuai spesifik lokasi. “Tapi secara umum untuk lahan padi seluas 1 hektar, kami mengaplikasikan 500 kg pupuk organik Petroganik, untuk pemupukan dasar. Hal ini dimaksudkan agar bisa mengembalikan dan menjaga kesuburan tanah. Selanjutnya ditambah dengan 300 kg PHONSKA, dan 200 kg Urea,” jelasnya.

Selain demplot, Petrokimia Gresik juga secara rutin melakukan sosialisasi pentingnya pemupukan berimbang pada berbagai komoditas, utamanya padi. Untuk sosialisasi, Meinu mengungkapkan bahwa pada tahun 2016 dilakukan sebanyak 1.617 kali, dengan total peserta 56.159 orang. Secara umum sosialisasi tersebut bertujuan untuk membangun kesadaran petani akan pentingnya pemupukan berimbang. Mendiskusikan aspek-aspek apa saja yang bisa meningkatkan hasil panen.

“Materi sosialisasi, mulai dari peran pupuk organik, hingga kebutuhan hara pada masing-masing komoditas yang harus dipenuhi,” terangnya. Meinu mengatakan bahwa program sosialisasi dan demplot tersebut sudah dilakukan sejak lama, dan akan terus dilakukan pada tahun-tahun mendatang.

Upaya ketiga adalah mengintensifkan Gerakan Peningkatan Produksi Pangan (GP3), dengan melakukan pengawalan petani dalam budi daya tanaman pangan, utamanya padi. Wilayah kerja GP3 yang menjadi tanggung jawab Petrokimia Gresik adalah; Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Bali, NTB, dan NTT. Program ini bekerjasama dengan dinas pertanian dan penyuluh pertanian pada masing-masing wilayah.

Pada tahun 2016, luas lahan GP3 yang dikawal mencapai 444.199 hektar. “Untuk program ini juga terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Hasil panennya bisa mencapai 7,08 ton GKP per hektar, dibanding dengan sebelumnya hanya mencapai rata-rata 5,9 ton GKP per hektar. Sehingga terjadi peningkatan sebesar 1,39 ton GKP per hektar,” jelas Meinu.

Upaya keempat adalah pemberdayaan petani muda, dalam rangka upaya regenerasi petani yang maju dan modern. Seperti kita ketahui bersama, bahwa regenerasi petani Indonesia masih kurang optimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil Sensus Pertanian Tahun 2013, bahwa 61% petani utama berusia lebih dari 45 tahun. Dalam 10 tahun, jumlah rumah tangga petani turun 20%, atau hilang sebesar 15,6 juta rumah tangga.

Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah anak muda yang akan menjadi generasi penerus, kurang berminat untuk menjadi petani. Ada berbagai alasan yang membuat generasi muda enggan menjalani profesi sebagai petani. Mereka menganggap penghasilan sebagai petani tidak menentu, dan bukan profesi yang layak dibanggakan. Dalam benak mereka tertanam akan citra petani yang berkeringat, kumuh, berlumpur, dan tidak menjanjikan kesejahteraan.

Melihat kenyataan tersebut, Petrokimia Gresik tergugah untuk ikut berpartisipasi membantu pemerintah, dalam membangun minat generasi muda pada bidang pertanian. Adalah sebuah ironi, jika negara agraris seperti Indonesia generasi mudanya enggan bertani. “Kami berupaya agar anak-anak muda mencintai dunia pertanian. Meyakinkan pada mereka bahwa petani merupakan profesi mulia, karena mereka menyediakan pangan bagi masyarakat banyak. Maka sejak tahun 2014, kami mengadakan pertemuan para petani muda dari berbagai daerah di Indonesia,” jelas Meinu.

Sebelumnya sejak awal tahun 2000 Petrokimia Gresik sudah membina beberapa lembaga non pemerintah di bidang pertanian. Utamanya yang menggerakkan anak-anak muda untuk terjun menjadi petani. Salah satunya adalah PATRA (Persatuan Anak petani Remaja), dengan anggota yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan Petrokimia Gresik memfasilitasi para petani muda tersebut melakukan pertemuan untuk berbagi informasi dan gagasan. Sejak tahun 2017, pertemuan petani muda dari berbagai daerah tersebut diberi nama Jambore Petani Muda.

Jambore Petani Muda tahun 2017 dihadiri 80 petani muda dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Banten, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, dan NTT. Tema yang diusung adalah “Pengembangan Komunitas Pertanian dan Inovasi Pemasaran Produk Pertanian”. Menurut Meinu Sadariyo, tujuan dari jambore tersebut untuk meningkatkan jejaring petani muda, dan pertukaran dan perluasan pengetahuan di bidang pertanian.

“Petani muda yang hadir, rata-rata adalah petani muda yang sukses. Dengan berkumpulnya para petani muda sukses tersebut, bisa terjalin komunikasi dan informasi tentang peluang usaha tani,” jelasnya. Meinu berharap setelah pulang ke daerah masing-masing, mereka akan bisa menjadi inspirasi buat anak-anak muda di tempat asal mereka. (Made Wirya)

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *