Tentang Manajemen Pakan dan Peran Probiotik pada Sapi

Tentang Manajemen Pakan dan Peran Probiotik pada Sapi

Aktivitas sehari-hari drh. Ambang Intono (49) di Puskeswan (pusat kesehatan hewan) Kecamatan Ringinagung, Kabupaten Magetan, melayani peternak berkaitan dengan kesehatan hewan. Di samoing itu juga melakukan edukasi dan penyuluhan berkaitan dengan manajemen peternakan secara umum. Mulai dari manajemen pakan, pemilihan bibit, bagaimana cara menjual agar mendapatkan untung, dan tidak hanya sekedar memelihara. “Karena jika hanya memelihara tapi tidak mendapat untung, akhirnya mereka enggan beternak lagi. Kami juga mendorong kelompok-kelompok peternak agar bisa berkembang,” ujar Ambang.

Alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga tahun 1994 ini mengatakan, masalah utama yang dihadapi oleh peternak sapi adalah masalah tataniaga. Yang masih sering terjadi adalah peternak mendapatkan bibit dengan harga mahal. Ketika sapi sudah siap dijual penghitungan bobot belum menggunakan timbangan. Dengan hanya mereka-reka bobot sapi, tidak jarang kesalahan perhitungan terjadi, sehingga peternak merugi karena dihargai murah oleh pembeli.

“Masalah lainnya adalah manajemen pakan yang harus diperbaiki. Seperti misalnya kebiasaan peternak yang memberikan pakan dengan sistem nyombor (pakan dalam bentuk bubur), di mana komposisi air dan lebih banyak dibanding pakannya,” jelas suami dari Endah Muflihatun ini. Tentu saja hal ini berdampak buruk untuk perkembangan sapi. Utamanya jika diberikan pada sapi yang belum masuk masa puber, bisa berdampak pada kerusakan tulang belakang. “Tulang belakangnya akan tumbuh bengkok, dan berakibat buruk pada pertumbuhan sapi,” paparnya.

Lebih lanjut bapak tiga anak tersebut menjelaskan, masih belum banyak peternak yang tahu tentang pola makan sapi yang ideal. Seharusnya sapi diberi makan dari hijauan (dedaunan atau rerumputan) dan konsentrat dengan porsi yang seimbang. “Selain manajemen pakan, puskeswan secara rutin mengkampanyekan tentang pentingnya kesehatan ternak. Seperti misalnya tentang pemberian obat cacing setiap 2 atau 3 bulan sekali pada sapi. Karena jika sapi cacingan, berdampak pada kecepatan pertumbuhan sapi,” jelas Ambang.

Ambang mengatakan bahwa dia sering mengkampanyekan pentingnya probiotik, utamanya pada sapi bakalan yang baru dibeli. Mengingat fungsinya yang sangat vital terhadap sistem pencernaan pakan pada ternak ruminansia. “Mikroba memegang peranan penting dalam pemecahan makanan pada ruminansia. Makanya sangat dianjurkan sapi diberi probiotik, karena mengandung mikroba yang menguntungkan. Probiotik sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan imunitas sapi, juga bisa meminimalisir bau tidak sedap pada kotoran sapi,” ujarnya.

Ambang mengungkapkan, 70 % peternak binaannya yang sudah mengaplikasikan probiotik. Kebetulan mereka menggunakan Petrobio Feed, probiotik produksi Petrokimia Gresik. Petrobio Feed terbukti mampu menambah nafsu makan sapi, sehingga mempercepat pertumbuhan. “Selain itu bulu sapi menjadi lebih klimis, hal tersebut menunjukkan pencernaannya sehat. Jika pencernaan sehat, otomatis sistem penyerapan nutrisi dari pakan yang kita berikan menjadi maksimal. Dengan demikian pertumbuhan sapi bisa optimal dan berpengaruh pada harga jual,” jelasnya. (Made Wirya)

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *