Budidaya Sayur Vertikultur untuk Lahan Sempit Masyarakat Kota

Budidaya Sayur Vertikultur untuk Lahan Sempit Masyarakat Kota

Kebanyakan orang yang berumahkan di kota, utamanya kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar, Medan dan Jogjakarta, tidak mempunyai pekarangan yang luas. Apalagi beberapa tahun terakhir ini, harga tanah semakin mahal. Maka pengembang perumahan pun membuat rumah rumah kecil dengan halaman minimalis. Hal ini dilakukan agar bisa membangun rumah dengan harga terjangkau oleh kalangan menengah-bawah.

 

Penghuni perumahan dengan luas lahan sempit tersebut, tentu saja tidak bisa memanfatkan halamannya untuk bercocok tanam. Mereka lebih banyak menanam tanaman hias seperti sirih gading, begonia, anggrek, atau kaktus. Tanaman-tanaman hias ditanam di pot kecil, sehingga tidak memakan banyak ruang. Bagaimana jika pemilik rumah ingin menanam sayur-mayur? Rasanya mustahil hal tersebut dilakukan, kecuali dengan vertikultur.

 

Menurut Liferdi Lukman dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran, vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat, baik indoor maupun outdoor. Sistem budidaya pertanian secara vertikal atau bertingkat ini merupakan konsep bercocoktanam yang cocok untuk daerah perkotaan dengan lahan terbatas. “Pertanian vertikultur tidak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga menciptakan suasana alami yang menyenangkan,” katanya.

 

Lifersdi mengungkapkan, komoditas yang ditanam sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan, memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur pendek, dan berakar pendek. Tanaman sayuran yang sering dibudidayakan secara vertikultur antara lain selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisim, katuk, kemangi, tomat. Selain itu juga pare, kacang panjang, dan mentimun. Namun yang perlu diperhatikan adalah tujuannya, untuk tujuan komersial ataukah hanya sekedar hobi.

 

“Jika untuk tujuan komersial perlu dipertimbangkan aspek ekonomisnya. Agar biaya produksi jangan sampai melebihi pendapatan dari hasil penjualan tanaman. Sedangkan jika untuk hobi, vertikultur dapat dijadikan sebagai media kreativitas, sekaligus mendapatkan sayur sehat dan berkualitas untuk kebutuhan dapur,” paparnya.

 

Menurut Widodo Subandi, praktisi vertikultur dari Gresik, budidaya dengan sistem vertikultur membutuhkan biaya relatif murah. Pembudidaya vertikultur hanya butuh paralon, bambu, atau botol bekas. Untuk masyarakat perkotaan penggunaan paralon menjadi pilihan ideal, karena bahan tersebut mudah didapat. “Jika menggunakan material paralon, gunakan yang berdiameter minimal 4”. Potong paralon dengan panjang sekitar 150 cm. Kemudian sayat melintang sepanjang 10 cm, buat sayatan dengan ukuran serupa di atasnya berjarak antara 30 cm,” jelasnya.

 

Bagian atas bekas sayatan tersebut lalu dipanasi dengan hair dryer, atau lilin agar dinding paralon lentur dan mudah ditekan ke dalam, sehingga membentuk lubang. Lubang-lubang tersebut nantinya diisi media untuk menanam. Untuk alas agar paralon bisa berdiri, bisa dengan menggunakan beton cor atau dudukan dari kayu. Setelah itu paralon diisi dengan media berupa campuran tanah, sekam, dan pupuk kompos dengan perbandingan 1:1:1. Komposisi tersebut diaduk dengan rata, diamkan di tempat terbuka tapi terlindung dari matahari dan hujan, selama seminggu.

 

Campuran media tanam tersebut kemudian dimasukkan ke dalam paralon hingga penuh. Untuk memastikan tidak ada ruang kosong, gunakan potongan kayu kecil atau besi beton, untuk mendorong tanah hingga ke dasar pipa paralon. Media tanam di dalam paralon diusahakan tidak terlalu padat supaya air mudah mengalir. Di samping itu, supaya akar tanaman tidak kesulitan “bernafas”. Tapi juga tidak dibuat terlalu renggang agar ada keleluasaan dalam mempertahankan air dan menjaga kelembaban.

 

Lifserdi menjelaskan, sebelum dilakukan penanaman, komoditas yang akan ditanam dibibitkan dulu di tray. Jika tidak ada tray, bisa menggunakan pot ukuran sedang atau bekas tempat kue. Media tanam untuk pembenih menggunakan produk jadi yang bersifat organik. Bibit tanaman yang dipindahkan ke wadah vertikultur saat sudah berumur lebih dari satu bulan, saat daun sudah bertambah.

 

Sebelum bibit-bibit ditanam, terlebih dahulu menyiramkan air ke dalam paralon hingga jenuh. Hal tersebut ditandai dengan menetesnya air keluar dari lubang-lubang tanam. Setelah cukup, baru mulai menanam bibit satu demi satu. Semua bagian akar dari setiap bibit harus masuk ke dalam tanah. Setiap jenis bibit dikelompokkan di wadah paralon terpisah.

 

“Untuk pemupukan sebaiknya menggunakan pupuk organik. Agar sayuran buah seperti cabe, tomat tidak mudah rontok sebaiknya ditambahkan KCL. Dengan dosis satu sendok teh atau sendok makan tergantung besar kecilnya pohon. Pemberian KCL tersebut dilakukan setiap 5 sampai 6 bulan sekali,” jelas Lifserdi.

 

Pemanenan sayuran biasanya dilakukan dengan sistem cabut akar (sawi, bayam, seledri, kemangi, selada, kangkung dan sebagainya). Apabila ditanam dan dikonsumsi sendiri, pemanenan dilakukan dengan mengambil daunnya saja. “Dengan cara tersebut tanaman sayuran bisa bertahan lebih lama dan bisa panen berulang-ulang,” pungkasnya. (Made Wirya)

 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *