, , , , , ,

Sosialisasi di Makodim 1726/Sukoharjo, Petrokimia Gresik Bekali Babinsa Pengetahuan Pemupukan Berimbang dan Pupuk Bersubsidi

Tidak kurang dari 200 peserta menghadiri sosialisasi pemupukan berimbang dan product knowledge Petrokimia Gresik pada Rabu (17/01) di Aula Makodim 0726/Sukoharjo. Kegiatan tersebut hasil kerjasama antara Petrokimia Gresik  dengan Kodim 0726/Sukoharjo. Menurut Komandan Kodim 0726/Sukoharjo, Letkol. Inf. Chandra Ariyadi Prakosa, S.I.P, M.Tr, aktivitas ini dimaksudkan agar Babinsa mempunyai pengetahuan yang memadai tentang pemupukan berimbang. Khususnya pemupukan berimbang pada tanaman tanaman pangan. Selain itu juga membekali mereka wawasan tentang mekanisme distribusi pupuk bersubsidi, yang diproduksi Petrokimia Gresik.

“Babinsa merupakan pendamping para petani dalam rangka ketahanan pangan. Ketika Babinsa mempunyai bekal ilmu budidaya pertanian yang cukup, diharapkan dapat menularkan kepada petani,” jelas Chandra. Menurutnya pengetahuan tentang pupuk dan pemupukan, akan mempermudah Babinsa dalam memberikan rekomendasi pemupukan yang sesuai kepada petani. Chandra juga memaparkan, pemahaman mekanisme penyaluran pupuk bersubsidi diharapkan, bisa mengoptimalkan peran babinsa dalam mengawal ketepatan penyaluran kepada petani.

Dalam kesempatan yang sama, GM Pemasaran dan Logististik Petrokimia Gresik, Kadek K. Laksana menyampaikan pentingnnya pemahaman tentang pupuk dan mekanisme pupuk bersubsidi. Karena hal ini berkaitan dengan maraknya peredaran pupuk-pupuk yang mirip dengan produk Petrokimia Gresik (PG). Tentu saja kualitas pupuk tersebut  jauh di bawah kualitas pupuk produksi PG. “Jika  diaplikasikan oleh petani, pupuk abal-abal tersebut tidak akan memberikan dampak sebaik produk kami”, ungkapnya.

Kadek juga mengatakan bahwa hal yang memicu munculnya pupuk abal-abal tersebut, tidak lepas dari terbatasnya jumlah pupuk bersubsidi dari pemerintah. “Dengan jumlah pupuk subsidi yang tidak sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan, membuka peluang beredarnya pupuk dengan kualitas rendah tersebut,” jelasnya. Mengenai mahalnya pupuk non subsidi, Kadek menjelaskan bahwa hal ini disebabkan karena tingginya harga bahan baku pupuk, yang sebagian besar diimpor.

Salah satu peserta, Serma Suyatno dari Koramil 12/Bendosari mengakui bahwa acara ini sangat bermanfaat. Dengan bekal pengetahuan yang cukup, dia lebih percaya diri ketika berada di tengah-tengah petani. Selain dibekali ilmu bercocok tanam, dia juga mendapatkan pengetahuan tentang pupuk subsidi yang asli. Dengan demikian, dia bisa  membedakan antara pupuk asli dengan kualitas bagus, dengan pupuk abal-abal yang kualitasnya rendah. “Bekal ilmu pengetahuan ini sangat bermanfaat buat petani yang saya dampingi. Selain itu juga bermanfaat buat bekal saya untuk bertani, ketika pensiun,” akunya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *