, ,

Tersentuh Melihat Penderitaan Petani

Letkol. Inf. Chandra Ariyadi Prakosa, S.IP, M.Tr (Han), Dandim 0726 / Sukoharjo

sahabatpetani.com – Ketika puluhan hektar sawah di Desa Grogol terendam akibat tanggul Sungai Situri jebol pada 20 Desember 2017, Letkol. Inf. Chandra Ariyadi Prakosa segera bertindak. Lelaki kelahiran Klaten pada 25 September itu, tergerak hatinya melihat penderitaan masyarakat. Khususnya para petani yang menggantungkan hidupnya dari sawah. Menurut Chandra, jebolnya tanggul Sungai Situri sudah terjadi beberapa kali.

“Pada bulan Agustus 2017, kami sudah melakukan perbaikan. Karena curah hujan yang cukup tinggi, tanggul yang terbuat dari tanah tersebut jebol lagi pada Desember 2017. Jebolnya tanggul bukan di tempat yang sama tapi di tempat berbeda,” jelasnya. Chandra mengatakan, tanggul yang jebol tersebut tentu saja sangat merugikan petani. Apalagi umur padi mereka yang baru dua minggu, hanyut disapu air bah.

“Saat itu saya mengajak berbagai komponen masyarakat Sukoharjo, untuk bahu-membahu memperbaiki tanggul yang jebol tersebut. Dari mulai masyarakat Desa Grogol, Polri, BPBD, Satpol PP, Dinas Pekerjaan Umum, BBWS Surakarta, LDII, MTA, Banser NU, dan FKPPI,” paparnya. Hanya dalam waktu dua hari, perbaikan tanggul yang jebol sepanjang 5 meter bisa diselasikan.

Perwira dengan dua melati di pundak itu mengaku, pembiayaan untuk memperbaiki tanggul dipikul bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Ada yang menyumbang material bangunan seperti batu kali, kawat bronjong, dan konsumsi. Ada juga yang hanya meyumbangkan tenaga. Dari Kodim 0726 sendiri, selain mengerahkan personil, juga mendatangkan alat berat. “Sumbangan dari berbagai elemen masyarakat, apapun bentuknya, sangat kami hargai,” ujar penghobi baca buku itu.

Mengenai hobi membaca buku, suami dari Artha Magdalena ini mengaku suka membaca buku sejarah, politik, dan ekonomi. “Selain membaca buku, saya menyukai olah raga, utamanya lari dan renang. Dalam seminggu biasanya 3 kali lari pagi untuk menjaga kebugaran tubuh,” ungkapnya.

Berbicara tentang kedisiplinan dan jiwa korsa, Chandra mengungkapkan bahwa TNI mempunyai tradisi yang kuat dalam kedisiplinan dan jiwa korsa. “Saya ini jarang mengambil cuti, pernah dalam 3 tahun tidak mengambil cuti satu hari pun. Ketika akhirnya mengambil cuti dan diijinkan, belum sampai 5 menit saya dipanggil oleh atasan. Ternyata cuti saya dibatalkan, dan digantikan dengan surat tugas ke Ambon selama 13 bulan,” ujarnya sambil tersenyum.

Bapak dari Rakha Arya Putran Prakosa dan Raditya Dwi Prakosa ini mengakui, sebagai anggota TNI, perintah adalah segala-galanya dan wajib dipatuhi. Maka Chandra pun harus menjalankan setiap tugas yang diberikan kepadanya. Istrinya tentu saja menyadari situasi seperti ini. Karena dari awal sebelum menikah Chandra sudah menyampaikan bahwa resiko menjadi istri prajurit, harus rela ditinggal demi tugas bangsa dan negara. “Alhamdulillah setelah menikah selama 13 tahun, dia setia mendampingi dan tidak pernah mengeluh,” terang prajurit yang pernah menjadi Pabandya Kumtatib Spers Paspampers tahun 2016-2017 ini.

Mengenai beberapa anggota Babinsa yang ‘nyambi’ bertani, Chandra sangat mendukungnya. Karena hal tersebut ada korelasinya dengan salah satu tugas mereka, mendampingi petani. “Mereka kan juga sudah dibekali tentang ilmu budidaya, mulai dari olah lahan, pemupukan hingga pemanenan. Saya rasa lebih tepat lagi apabila mereka mengaplikasikan dalam kehidupan nyata, tidak sekedar berteori,” jelasnya.

Selain itu, menurut Chandra, Babinsa yang bertani bisa menjadi panutan bagi petani di desa binaan masing-masing. Karena bagaimanapun juga mereka harus memberikan contoh, baik teori maupun praktek. “Jika praktreknya di lahan Babinsa sendiri, akan lebih mengena. Disamping itu hasil dari bertani bisa menjadi tambahan penghasilan untuk kesejahteraan keluarga,” pungkasnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *