, ,

Mencegah dan Mengendalikan PBK, Busuk Buah, dan Layu Pentil Kakao dengan Insektisida Biologis

sahabatpetani.com – Sudah sejak tahun 2008 Agus (35), petani dari Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara itu membudidayakan kakao. Kendala yang sering dihadapinya adalah hama penggerek buah kakao (PBK) dan busuk buah. Buah kakao yang sudah terserang PBK menunjukkan gejala belang kuning hijau atau kuning jingga, dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Menurut Agus, buah kakao siap panen yang sehat, biji-bijinya tidak lengket, sehingga berbunyi ketika dikocok. Lain halnya dengan kakao yang diserang hama, biji-bijinya saling melekat.

“Selain serangan PBK, busuk buah juga merupakan ancaman yang tidak bisa dibilang remeh. Panen kakao di lahan saya sering kali tidak maksimal, hal ini membuat keuntungan yang saya peroleh menjadi sedikit, bahkan pernah rugi,” keluh Agus. Tidak hanya PBK dan busuk buah, pentil kakao di lahannya juga seringkali banyak yang busuk dan berguguran. Hal ini disebabkan karena serangan jamur. Menurut Kharis Haryono, Senior Staf Pengembangan Produk, Departemen Litbang PT Petrosida Gresik, hama PBK biasanya meletakkan telurnya setelah matahari terbenam. Telur tersebut banyak terdapat pada alur kulit buah kakao, dan setelah menetas akan menjadi larva. Larva itu lah yang menjadi sumber kerusakan pada buah kakao karena  akan segera membuat lubang ke dalam buah.

“Pembuatan lubang dimaksudkan agar larva terhindar dari pemangsa predator. Dan larva yang masuk ke dalam buah akan mengeram di plasenta, atau kelompok biji kakao. Di dalam buah, larva akan menggerek daging buah kakao yang berada tepat di bawah plasenta,” jelas Kharis. Selanjutnya larva akan menggerek bagian di antara biji dan plasenta. Hal tersebut membuat kulit buah berlubang dengan warna merah muda yang berliku-liku di dalam buah. Serangan PBK pada buah menyebabkan biji gagal berkembang. Biji dalam buah saling melekat, bentuknya menjadi kecil dan ringan. “Keberadaan hama PBK dalam buah menyulitkan pengendalian hama, dan petani sulit mengindentifikasi kerusakan pada buah sejak dini,” ungkapnya.

Untuk mengatasi serangan PBK, Kharis merekomendasikan untuk menggunakan Biokaosida, insektisida biologis yang efektif melindungi buah kakao dari serangan PBK. Karena Biokaosida melapisi buah kakao dengan lapisan kaolin. Bahkan tidak hanya PBK saja, Biokaosida juga mempu mencegah dan melindungi kakao dari penyakit busuk buah yang disebabkan jamur Phytoptora. SP. “Biokaosida juga bisa mencegah layu pentil akibat pengaruh mekanis, dan tentu saja ramah lingkungan karena merupakan insektisida biologis,” jelanya. Lebih lanjut Kharis menjelaskan, untuk serangan PBK cukup menggunakan dosis 6 – 7,5 g/pohon. Disemprotkan sebanyak 6 kali dengan interval 10 hari sekali, dengan volume semprot 270 – 300 liter/hektar.

Setelah mengetahui manfaat Biokaosida yang dikenalkan Candra Wahyu, petugas lapangan PT Petrosida Gresik untuk wilayah NTB dan NTT, Agus pun mulai mengaplikasikannya. Semula dia agak ragu dengan efektivitas Biokaosida dalam mencegah dan mengendalikan PBK, busuk buah dan layu pentil di lahan kakao miliknya. Tapi setelah mengaplikasikan insektisida biologis produksi PT Petrosida tersebut, dia bisa merasakan hasilnya. “Setelah menggunakan Biokaosida, pentil buah kakao tidak ada lagi yang rontok karena serangan jamur, dan serangan penggerek buah kakao dapat dikendalikan. Saya optimis panen berikutnya akan mendapatkan hasil yang melimpah, ” ungkap Agus dengan mata berbinar. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *