, ,

Mencegah Patek pada Budidaya Cabai di Musim Hujan

sahabatpetani.com – Menanam cabai ketika musim hujan lebih beresiko jika dibandingkan dengan musim kemarau. Jika saat kemarau kendalanya lebih kepada ketersediaan air, cabai yang tumbuh pada musim hujan banyak menemui kendala. Selain kelebihan air, intensitas curah hujan dan kelembaban yang tinggi menyebabkan berkembangnya berbagai OPT (organisme pengganggu tanaman).

Menurut Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian RI, ada beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang cabai ketika musim hujan. Beberapa hama dan penyakit tersebut di antaranya adalah; antraknosa, kutu kebul, ulat buah, jangkrik dan gangsir, hama lalat buah, ulat grayak, dan penyakit layu bakteri.

Dari hama dan penyakit tersebut, antraknosa atau yang lebih dikenal dengan “patek” masih menjadi mimpi buruk bagi petani cabai. Sebab sudah banyak petani cabai yang mengalami gagal panen, akibat serangan penyakit mematikan ini. Kegagalan panen tersebut, karena tanaman cabai yang sudah siap panen banyak yang membusuk. Menurut data, hasil panen cabai yang terserang patek, berkurang antara 20 – 90 %. Semua jenis cabai, baik cabai keriting, cabai besar, maupun cabai rawit, punya potensi diserang oleh patek.

Di Indonesia, patogen utama patek paling banyak disebabkan oleh jamur Colletotrichum acutatum. Untuk patek yang disebabkan oleh jamur C. acutatum, menyerang cabai pada semua fase buah, baik ketika sudah masak maupun yang masih muda. Akan tetapi jamur tersebut tidak menyerang daun dan batang tanaman cabai. Bahkan patek yang disebabkan oleh jamur C. coccodes, menyerang cabai pada saat persemaian.

Patek menyerang cabai dengan menginfeksi jaringan buah, kemudian membentuk bercak coklat kehitaman. Bercak ini lambat laun akan meluas sehingga buah menjadi busuk. Serangan dengan intensitas tinggi menyebabkan buah cabai mengering dan keriput seperti jerami. Dalam kondisi seperti itu tentu saja tidak ada jalan lain, tanaman cabai harus dipangkas habis.

Karena tanaman cabai yang sudah terserang patek sulit dikendalikan, maka langkah pencegahan harus diambil. Pencegahan sedini mungkin sebaiknya dilakukan agar tanaman cabai bisa terhindar dari ganasnya penyakit tersebut. Dimulai dari pemilihan benih, dengan menggunakan benih sehat. Benih cabai rawit lokal biasanya lebih tahan terhadap penyakit ini. Benih cabai sebaiknya direndam di air hangat kuku yang dicampur dengan fungisida, sebelum dilakukan penyemaian. Ketika bunga mulai terbentuk, sebaiknya dilakukan penyemprotan fungisida berkualitas yang banyak beredar di pasaran.

Perawatan di lingkungan sekitar tanaman mutlak dilakukan, terutama cabang air (wiwilan), penyiangan gulma dan pengaliran air yang tergenang. Selain itu, lingkungan sekitar tanaman diusahakan tidak lembab. Mengingat penyakit ini disebabkan oleh jamur, yang perkembangannya sangat didukung oleh lingkungan yang lembab.

Petani cabai disarankan untuk menggunakan mulsa hitam perak. Karena dengan mulsa hitam perak, sinar matahari bisa dipantulkan pada bagian bawah permukaan daun atau tanaman. Dengan demikian kelembaban tidak begitu tinggi. Penggunaan mulsa plastik juga bermanfaat untuk menghidari penyebaran spora melalui percikan air hujan.

Jarak tanam cabai dibuat agak lebar, sekitar 65-70 cm (idealnnya 70 cm), dan ditanam secara zig-zag. Hal ini dilakukan ini untuk mengurangi kelembaban dan membuat sirkulasi udara menjadi lancar. Dengan membuat jarak antar tanaman semakin lebar, selain untuk menghindari serangan patek, buah cabai akan tumbuh lebih besar. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *