, , , , , ,

Lebih dari 70 % Tanah di Indonesia Sakit dan Harus diberi Pupuk Organik

sahabatpetani.com – Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr.,  Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Ketika dia menjadi pemateri di acara temu mitra produksi dan penandatanganan kerjasama produksi Petroganik tahun 2018, di Denpasar pada Jumat (2/2). Sakitnya tanah di Indonesia, menurut Dedi, karena rendahnya C-organik di dalam tanah. “Oleh karena itu produktivitas tanaman tidak optimal. Nah, untuk mengoptimalkan, maka tanah harus diperbaiki terlebih dahulu, dengan meningkatkan bahan organik,” paparnya.

Menurut Dedi, langkah awal untuk meningkatkan bahan organik adalah dengan memberikan pupuk organik. Hal ini harus dilakukan agar tanah pertanian di Indonesia menjadi sehat kembali. “Kemudian langkah ke dua adalah dengan pemupukan berimbang, antara pupuk organik, pupuk anorganik, dan pupuk hayati. Karena tiga jenis pupuk ini diperlukan oleh tanaman. Terkait dengan pengembalian kesehatan tanah, tentu saja pupuk organik sangat besar peranannya,” jelasnya.

Dedi mengungkapkan, dari hasil penelitian penggunaan pupuk organik secara signifikan dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Sebab pupuk organik berperan dalam memperbaiki sifat fisik, fisik kimia, dan sifat biologi tanah. Dari hasil perbaikan sifat-sifat tanah tersebut, tanah akan menjadi subur kembali. Ketika tanah sudah subur,  pertumbuhan tanaman menjadi sangat bagus.  Ujung-ujungnya akan meningkatkan produktivitas tanaman. “Untuk meyakinkan petani bahwa pupuk organik ini penting, memang tidak mudah. Perlu effort yang luar biasa, baik melalui penyuluhan, demplot, maupun kampanye di media masa cetak dan elektronik,” paparnya.

Direktur Pupuk dan Pestisida Kementerian Pertanian RI, Muhrizal Sarwani yang juga menjadi pemateri dalam acara tersebut, menekankan pentingnya pupuk organik yang berkualitas. “Mitra Produksi Petroganik harus membuat pupuk organik yang berkualitas. Jika kualitasnya terjamin, maka  kepercayaan konsumen pada Petroganik akan meningkat,” pesannya. Muhrizal mengungkapkan Kementerian Pertanian RI sudah membangun 1.000 desa organik di seluruh Indonesia. Pada tahun-tahun mendatang,  akan lebih banyak lagi desa organik yang akan dibangun.

“Dengan semakin banyaknya desa organik, prospek pupuk organik akan semakin cerah di masa depan. Maka saya menghimbau agar Mitra Produksi Petroganik agar terus meningkatkan mutu produksinya, sesuai ketentuan pada Permentan No. 70 Tahun 2011,” lanjutnya. Muhrizal menjelaskan, dalam Permentan No. 70 Tahun 2011 ditetapkan bahwa C-Organik minimal 15 %,  C/N rasio antara 15 – 25, dan kadar air 8 – 20 % (granul). Di dalam permentan tersebut juga ditentukan parameter lain, seperti kandungan logam berat, pH, mikroba kontamina dan beberapa parameter lainnya. Parameter-parameter tersebut wajib  dipenuhi oleh produsen pupuk organik.

Sementara itu, arahan Direktur Utama Petrokimia Gresik yang disampaikan oleh Direktur Pemasaran Meinu Sadariyo, menekankan pentingnya konsistensi dalam menjaga mutu pupuk organik . Hal ini dimaksudkan untuk mendukung pencapaian target penyaluran sesuai penugasan pemerintah kepada PT Petrokimia Gresik. “Pada tahun ini,  kami mendapatkan tambahan wilayah rayon pengadaan dan penyaluran pupuk organik dari PT Pupuk Sriwijaya.  Wilayah tersebut meliputi Lampung, Bangka Belitung, Sumsel, Bengkulu dan Jambi,” ungkapnya.

Meinu juga menyampaikan, sejalan dengan penambahan wilayah rayon tersebut, ada kenaikan penugasan penyaluran pupuk organik bersubsidi. Untuk tahun 2018 kenaikannya  sebesar 169.410 ton atau 21,9%. Jika pada tahun sebelumnya hanya  sebesar 772.790 ton, tahun ini menjadi 942.200. “Penambahan wilayah rayon dan penugasan tersebut menjadi peluang bagi mitra produksi untuk mengoptimalkan produksi, sesuai dengan kemampuan produksi. Tapi hal ini juga  menjadi tantangan bagi mitra produksi untuk dapat menjaga mutu hasil produksi sesuai ketentuan yang berlaku,” papar Meinu.

Dalam acara yang juga menghadirkan Komisaris Petrokimia Gresik Yoke Candra Katon dan Inspektur Investigasi Kementerian Pertanian RI Sotarduga Hutabarat tersebut, juga dilakukan diskusi. Dengan dimoderatori GM Pemasaran dan Logistik Petrokimia Gresik, Kadek K. Laksana.  Pada saat jedah Kadek menyampaikan, Temu mitra produksi dan penandatanganan kerjasama produksi Petroganik  tahun ini, dilakukan dalam dua tahap. Untuk tahap pertama yang dilaksanakan di Denpasar, dihadiri sebanyak 147 peserta dari 81 mitra produksi Petroganik. Mitra produksi yang hadir dari Jatim bagian Timur, Bali, NTB, Kalbar, Kalsel, Sumut dan Aceh. “Tahap ke dua dilaksanakan di Solo pada 9 Februari, akan dihadiri oleh mitra produksi dari Jateng, DIY, Sulawesi Selatan, dan Lampung,” jelasnya . (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *