, , , , ,

Mengais Rejeki, Memburu Sisa Panen Padi

Musim panen padi tiba, puluhan buruh tani terlihat memotong batang padi di lahan yang terhampar luas di  Desa Karanganyar, Kecamatan Sambung Macan, Sragen. Beberapa di antaranya memanggul tumpukan padi menuju ke alat perontok. Di atas terpal plastik 4 x 4 m yang digelar di dekat pematang, dua alat perontok padi dioperasikan oleh 4 buruh tani. Setelah aktivitas panen menyelesaikan separuh luas lahan, belasan perempuan dengan membawa kantong plastik bekas pupuk terjun ke hamparan sawah tersebut. Para perempuan  berusia 45 – 65 tahun itu dengan teliti menyisir lahan, ‘memanen’ padi yang masih tersisa.

Dengan langkah terseok karena kakinya terbenam lumpur, Wagiyem (65) memungut malai padi dengan daki hitam karena sebagian terendam lumpur. Dibersihkannya lumpur dari butiran padi, sebelum dimasukkan ke kantong plastik yang digendongnya. Sesekali dia mendapatkan malai yang masih menempel di batang padi. Setelah menyisir hampir ¾ luas lahan, nenek dua cucu itu mulai kelelahan, dan beristirahat sejenak di pematang. Diusapnya keringat yang meleleh di keningnya, kemudian memeriksa kantong plastik yang baru terisi seperempat. “Sudah puluhan tahun saya nggampung (memgambil padi sisa panen),” ujar nenek 4 cucu ini.

Dalam sehari gabah yang diperolehnya tidak menentu, kadang 3 atau 4 kg. Bahkan pernah dalam sehari hanya dapat satu kilogram saja. Gabah tersebut ditampung di rumahnya, ketika sudah terkumpul dalam jumlah yang memadai, dibawanya ke penggilingan padi. “Hanya untuk dikonsumsi sendiri, itupun masih kurang. Buat makan sekeluarga, ada suami anak dan cucu-cucu,” katanya. Karena sudah tidak muda lagi, Wagiyem tidak segesit. Lebih-lebih akhir-akhir ini lututnya sering nyeri karena pengapuran.

Umur Suminah tidak jauh beda dengan Wagiyem. Mereka sudah nggampung bersama sejak masih berusia muda. Mereka sama-sama tidak punya lahan sejengkal pun, menjadi buruh tani dan nggampung, adalah pilihan yang tidak bisa ditawarnya. “Kami tidak punya sawah dan ladang. Suami-suami kami juga sama, menjadi buruh tani juga,” katanya. Hasil rontokan gabah yang diperolehnya, rata-rata hanya 4 kg, jika dibawa ke penggilingan padi, paling hanya dapat 3 kg beras. Bagi Suminah jumlah tersebut dirasa lumayan, karena sebagai pekerjaan sambilan, di samping menjadi buruh tani. “Saya yang cari uang, karena bapaknya sudah 15 tahun ini sakit tidak bisa jalan. Kata dokter tulangnya keropos dan lututnya harus dioperasi,” ujarnya.

Nasib baik masih berteman dengan Painem (45), karena masih gesit hari ini dia mendapatkan 6 kg gabah. Dia berangkat dari rumahnya, Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, pukul 06.00, setelah menyiapkan sarapan buat keluarganya. Biasanya dia dan teman-temannya pulang sebelum pukul 16.00, dengan mengayuh sepeda. Dalam setiap musim panen, Painem mampu berburu sisa  panen di 4 lokasi berbeda. Sehari tidak kurang dari 1,5 hektar lahan yang disisirnya. “Alhamdulillah masih kuat jalan. Jika lelah ya istirahat dulu, menikmati bekal yang saya bawa dari rumah. Jika sudah tidak capai, melanjutkan nggampung lagi,” paparnya.

Ketika panen usai, mereka kembali menjadi buruh tani, menjual tenaga kepada  petani pemilik lahan untuk menebar benih, menanam padi, dan menyiangi rumput. Tenaga mereka dihargai mulai dari Rp. 35 ribu hingga Rp 50 ribu. “Jika mulainya jam 6.00 dan selesai jam 12, kami dapat Rp. 35 ribu. Tapi jika sampai sore ya Rp. 50 ribu. Lumayan,” ungkap Painem. Jika musim tanam tiba, ada saja pemilik sawah yang membutuhkan tenaga mereka. Lebih-lebih aklhir-akhir ini relatif susah mencari buruh tani. Anak-anak muda lebih banyak yang kerja ke kota, seperti Jakarta dan Surabaya. Bahkan tidak sedikit yang kerja di luar Jawa.

Kebanyakan hasil panen padi di daerah tersebut sudah diborong oleh tengkulak. Wardi (45), salah satu tengkulak, merasa tidak keberatan jika sisa panen di lahan yang sudah diborongnya diambil oleh mereka. “Ya ndak papa, kan mereka hanya mengambil sisa panen. Hitung-hitung membagi rejeki, toh jumlahnya tidak banyak,” akunya. Antara para perempuan yang nggampung dan tengkulak saling kenal. Bahkan jika saat panen tiba, tidak jarang para tengkulak memberitahukan jadwal kapan panen dilakukan.  (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *